Musuh Yang Mengerikan
Sridam Brahmacari
Siapa pun tidak bersedia menerima usia tua dan melepaskan kemudaan? Nafsu birahi adalah penyakit yang ada dalam hati, hrdaya-roga. rang buta atau orang gila tidak akan mengerti. Ambilah pelajaran dan hal ini, jika kita serius untuk menempuh jalan bhakti dan membuat kemajuan, jauh dan menikmati hubungan seksual.
Walaupun kita terus memberikan kenikmatan kepada indera-indera material kita, tetapi indera material-material itu tidak akan pernah bisa dipuaskan. Jika kita menuangkan ghee ke dalam api yang berkobar, maka apinya tak akan pemah bisa dipadamkan. Sebaliknya, api itu akan semakin-semakin besar, semakin besar dan berkata, “Berikan aku ghee lagi, ghee lagi, ghee lagi”. Demikian juga jika kita memberikan kenikmatan kepada indera-indera material kita, maka indera-indera itu tidak akan pernah dipuaskan.
Sebuah pelajaran penting diberikan disini. Indera-indera akan meminta lagi, lagi, lagi. Jadi apakah yang harus dilakukan oleh orang bijaksana? Ia harus dengan sukarela berhenti untuk memuaskannya. Inilah kebijaksanaan, kecerdasan.
Dalam Bhagavad-gita, Sri Krsna, teman yang mengharapkan kesejahteraan kita: suhridam sarva-bhutanam memben kita pengetahuan gita-jnane, melalui Arjuna. Apakah yang Dia katakan dalam ayat terakhir dan bab tiga. Jahi satrum maha baho, Kama rupam durasadam (Bg. 3.43)
“Wahai Arjuna yang bergelar perkasa, orang harus menangkan pikiran dengan kecerdasan rohani yang bijaksana, kesadaran Krsna, dan dengan demikian dengan kekuatan rohani taklukkanlah musuh yang tidak pernah bisa dipuaskan ini yang bernama nafsu “Dwasadam, musuh yang hebat, musuh yang sangat kuat. Bagaimana kita bisa menaklukannya? Dengan cara mengembangkan kesadaran Krsna yang sempurna. Jika kita menjadi kuat secara rohani, maka kita akan bisa menaklukkan yang paling mengerikan yang bernama hawa nafsu ini. Di dunia material in semuanya terjangkit oleh penyakit ini. ini adalah penyakit dalam hati. Kita semua terjangkit oleh nafsu ini. Semuanya ingin menikmati, ingin menguasai alam material ini dan menikmatinya. Tetapi kita harus mengerti, bahwa keinginan terhadap kenikmatan material ini adalah musuh besar kita. Hubungan dengan indera-indera material mengakibatkan kesengsaraan. Mengejar kepuasan indera-indera adalah penyebab penderitaan kita. Tinggalkanlah kepuasan indera-indera ini dengan segera jika kita menginginkan ananda yang sejati, kebahagiaan yang sejati. Di antara segala jenis kebahagiaan dan kenikmatan material, kenikmatan seksual adalah yang tertinggi. Setiap orang setuju, bahwa kenikmatan seksual merupakan kenikmatan tertinggi. Maya, begitu menarik. Dia begitu kuat. Semua orang tertarik oleh nenek sihir dengan buruk, maya, dewi asmara material. Akibat ketertarikan inilah semua orang bekerja di dunia material. Jika tidak ada ketertarikan seperti itu, kita tidak akan bekerja di sini. Akan tetapi orang sadar akan Krsna sepenuhnya, seorang penyembah murni mampu bekerja selama dua puluh empat jam sehari tanpa lelah. Penyembah memiliki kekuatan rohani seperti itu. Ia bekerja tanpa tertarik oleh nenek sihir buruk, maya, dewi asmara material.
Keinsyafan diri dan kenikmatan hubungan seksual merupakan dua hal yang bertentangan. Jika kita terjangkit oleh nafsu ini dan berlari mengejar kenikmatan seksual, kita tidak akan bisa mencapai keinsyafan diri. Sama sekali tidak mungkin. Orang yang cerdas dan bijaksana, mereka akan mengerti hal ini. Jadi apa yang harus dilakukannya? Orang yang demikian tahu tujuan hidup, bagaimana mencapai keinsyafan diri. Jadi kita harus menolerir dan menaklukkan dorongan seksual. Dalam ajaran abadi upadesamrta, Rupa Gosvami mengatakan jihva-vegam, udaropastha-vegam, dorongan untuk berbicara, dorongan dari pikiran, dorongan dari amarah, dorongan dari lidah, perut dan alat kelamin. Enam jenis dorongan ini sedang menyeretmu.
Orang yang telah menaklukkan enam jenis dorongan ini adalah seorang guru kerohanian dan ia boleh menerima murid di seluruh dunia. Orang tidak boleh, hanya ia boleh memerintah seluruh dunia. Memerintah berarti ia boleh menerima murid dan menerapkan disiplin kepada mereka. Berdoalah kepada sadhu Vaisnava. Kita harus berdoa kepada Gopinatha, Tuhan Yang Maha Esa, dan juga harus berdoa kepada penyembah tercinta, sadhu Vaisnava yang telah menaklukkan hawa nafsu. Kita harus berdoa kepada seorang naisthika-brahmacari, brahmacari kelas utama yang telah berhasil mengalahkan hawa nafsu. Karenanya sangat diperlukan. Di dunia ini semua orang terjangkit oleh nafsu ini. Ini adalah halangan besar, tembok penghalang yang besar di jalan bhakti. Mereka yang terjangkit oleh hawa nafsu tidak akan bisa membuat kemajuan sedikit pun. Oleh karena itu mereka harus berlindung kepada brahmacari hebat Sanat-Kumara. Memohon karunianya, maka mereka akan mampu menaklukkan musuh yang paling mengerikan dalam bentuk hawa nafsu ini. Inilah ajaran yang diberikan oleh sadhu, sastra dan guru sadhu, sastra dan guru, semuanya memberikan ajaran ini. Orang yang sangat cerdas dan bijaksana, yang mengetahui tujuan hidup mengerti ajaran ini dan menerapkannya dalam kehidupan, dengan demikian ia akan mengalahkan musuh yang paling mengerikan dalam bentuk nafsu. Maka ia pasti akan membuat kemajuan pada jalan pelayanan bhakti ini. Jika tidak demikian maka hal itu adalah mustahil.
Ini adalah ajaran-ajaran alam Srimad-Bhagavatam. Kitab suci seperti itu memberikan begitu banyak ajaran kepada kita. Srimad-Bhagavatam adalah inkamasi dan Tuhan Yang Maha Esa, kawan yang paling mengharapkan kesejahteraan kita. Pururava berkata,”Aku tidak bisa mengatakan berapa kali matahari telah terbit dan tenggelam. Aku telah lupa sepenuhnya. Aku adalah penguasa dunia, tapi apa yang telah terjadi dengan diriku? Aku telah menggunakan badan ini seperti sebuah boneka di tangan seorang wanita. Aku melupakan segalanya. Pelupaanku ini sangat mengherankan sekali.” Jadi kamu lihatlah, seperti inilah akibatnya. Lagi, dalam Srimad-Bhagavatam (11.2.12):
Kim viyaya kim tapasa
Kim lyagena srutena va
Kim viviktena maunena
Stribhir yasya mano hrtam
Ini adalah kata-kata Pururava. Pikiran orang dicuri oleh wanita, yang mana pikiran seharusnya dicuri oleh Krsna. “Apa artinya pendidikan, tapasya, sannyasa, mendengarkan sastra dan tinggal di tempat sunyi dan tidak berbicara, kalau pikiran dicuri oleh wanita ?“ Orang-orang yang tergila-gila akan kenikmatan material, kenikmatan indria-indria ini barangkali menganggap dirinya sangat bijaksana dan terpelajar, tetapi bagaimana nasib mereka? Apakah mereka memiliki kebijaksanaan, pendidikan dan kecerdasan yang sejati? Tidak, mereka tidak baik daripada kerbau dan kedelai. Mereka adalah binatang- binatang yang tidak memiliki pengetahuan dan kecerdasan.
Jika orang tidak mendapatkan krpa-karunia, dan sadhu-guru ia tidak akan bisa mengerti kenyataan ini. Atas karunia dan sadhu orang akan bisa mengerti. Hal ini akan diungkapkan kepadanya “Saya adalah seorang manusia. Saya memiliki jenis kecerdasan yang lebih tinggi. Saya bisa mengembangkannya sampai tingkat tertinggi-kesadaran Kresna yang sempurna, dan mendapatkan Krsna. Apa yang sedang saya lakukan sekarang, dijerat oleh nafsu birahi yang sangat kuat? Saya melupakan segala sesuatu yang baik yang saya miliki. Saya benar-benar gila dan buta. Saya telah menjadi budak nafsu. Yang seharusnya menjadi Krsna-dasa tetapi saya telah menjadi kama-kinara, menjadi budak nafsu.”
Mereka yang telah menjadi budak nafsu harus mengambil pelajaran dan peristiwa in Bagaimanakah nasib mereka. Apa yang telah mereka dapatkan? Belajarlah dan apa yang diajarkan oleh Bhagavatam. Kamu sudah menikah, kamu sudah ditendang. Sekarang kamu berpikir, “Aku akan kawin lagi.”Orang yang betul-betul tidak tahu malu! Terserang oleh musuh yang paling mengerikan ini kamu persis seperti sebuah wayang golek di tangan seorang wanita. Kamu harus memahami hal ini, dengan serius. Berpikirlah bagaimana caranya menaklukkan musuh yang mengerikan ini yang bernama nafsu. Sastra memberikan ajaran tentang bagaimana caranya menaklukkan nafsu ini.” Dalam Srimad-bhagavatam 11.26.15. Pumrava sadar kembali dan berkata seperti ini:
Pumscalyapahtram cittam
Ko nv anyo mocitum prabhuh
Atmaramesvaram rte
Bhagavatam adhoksajam
“Siapakah yang akan menolongku. Aku orang yang begitu bodoh, seekor cacing di dalam kotoran. Karena aku telah menjadi budak nafsu aku telah menjadi sebuah boneka di tangan seorang wanita, seorang pekerja seks dan surga dan aku sepenuhnya telah melupakan svarupa-ku. Jadi siapakah yang akan menolongku sekarang, untuk melepaskanku dan jerat pekerja seks dan surga itu. Pikiranku sepenuhnya terpikat oleh rvasi”.
Pururava mengatakan, “Siapakah di dunia ini yang bisa melepaskanku dan jerat ini, siapakah yang bisa membebaskan pikiranku dari pekerja seks dari surga ini. Hanya Bhagavad, Adhoksaja, Atmarama-Isravara-Isvara (penguasa) dan para atmarama-purusa. Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Hari, yang bisa membebaskan pikiranku dan nafsu birahi ini. Aku tidak bisa melihat orang lain di dunia ini yang bisa. Oleh karena itu, mulai detik ini aku akan menyibukkan diri dalam bhajana Sri Hari dan melepaskan semuanya. Mereka, orang-orang materialistis, yang belum menaklukkan pikiran dan indria-indria mereka, para go-dasa-mereka para budak indria-indria, harus mengerti hal ini. Mereka sangat lemah, mereka tidak memiliki kekuatan. Mereka selalu membiarkan diri mereka berada di atas pangkuan nenek sihir maya, ranjang maya. Selain pelayanan bhakti dan hari-bhajana, tidak ada cara lain untuk menaklukkan musuh ini. Orang harus mengembangkan keinginan yang kuat, mengembangkan kelobaan-bagaimana caranya bergaul dengan pada sadhu, yang selama dua puluh empat jam, siang dan malam, sepenuhnya sadar akan Krsna, sibuk dalam hari-bhajana.( Raditya 144 - Juli 2009. )
Ia yang tidak mencintai pun tidak membenci, senantiasa hidup dalam kedamaian. ~anonymous~
Senin, 20 Desember 2010
Swadharma dan Paradharma
reyan wã-dharma wigunah paradharmat swanusthitat,
Swa-dharme nidhanam sreyah paradharma bhayãwahah
Lebih baik melakukan dharmanya sendiri walaupun tidak sempurna dan pada melaksanakan dharma orang lain walaupun dikerjakan dengan sempurna. Lebih baik mati dalam menyelesaikan dharmanya sendiri dari pada mengikuti dharma orang lain yang berbahaya. (Maswinara, 1997: 181-182).
Swadharma dan Paradharma
Oleh : I Ketut Subagiasta (Guru Besar IHDN Denpasar)
reyan wã-dharma wigunah paradharmat swanusthitat,
Swa-dharme nidhanam sreyah paradharma bhayãwahah
Lebih baik melakukan dharmanya sendiri walaupun tidak sempurna dan pada melaksanakan dharma orang lain walaupun dikerjakan dengan sempurna. Lebih baik mati dalam menyelesaikan dharmanya sendiri dari pada mengikuti dharma orang lain yang berbahaya. (Maswinara, 1997: 181-182).
Istilah swadharma dan para-dharma sudah sangat sering didengar, dibicarakan, dipraktekkan, dan dijadikan bahan kajian oleh para sedharma di tanah air Indonesia. Ternyata istilah ini begitu pas dan relevan bagi umat Hindu yang merupakan ajaran suci tersurat dalam pustaka suci Bhagawadgita sebagaimana telah disitir di depan. Kata swadharma dan paradharma berasal dari bahasa Sansekerta, yakni dari kata swa, para dan dharma. Kata swa artinya sendiri, diri sendiri, aku, orang-orang dan golongan sendiri, teman. Kata para artinya lebih jauh, kemudian, masa lalu, amat, tertinggi, mulia, lain. Kata dharma artinya lembaga, adat, kebiasaan, aturan, kewajiban, moral yang baik, pekerjaan yang baik, kebenaran, hukum, keadilan. Kata swadharma artinya kebenaran sendiri, kewajiban sendiri. Sedangkan paradharma artinya aturan atau kewajiban orang lain atau kasta lain.
Menyimak dan beberapa pengertian swadharma dan pradharma sesuai Sabdakosa Sansekerta tersebut, maka dapat ditegaskan bahwa maksud dan istilah dalam ajaran swadharma dan paradharma adalah kewajiban diri sendiri, kebenaran diri sendiri ataupun hal lainnya yang terkait dengan konteks diri sendiri, terutama dalam hal kewajiban ataupun hal terkait dengan kebenaran atau aturan. Begitu juga istilah dalam ajaran paradharma sudah jelas yang berkaitan dengan yang lain, orang lain, masyarakat pada umumnya, di sekitar kita, dan sebagainya. Jadi paradharma adalah kewajiban orang lain, atau kewajiban terhadap orang lain, kewajiban terhadap publik atau pelayanan publik (public service), kewajiban untuk kebersamaan sebagai tanggung jawab bersama, dan juga kebenaran untuk bersama-sama. Dalam hal ini sangat relevan dengan konteks asas musyawarah menuju mufakat yang mengutamakan kebersamaan dan persetujuan bersama ke arah kebaikan, kebenaran, kebajikan, kemuliaan, dan menuju kerahayuan bersama.
Makna-makna mulia dan ajaran swadharma dan paradharma sebagaimana ada diajarkan dalam kutipan sloka pustaka suci Bhagawadgita di atas, menyiratkan makna suci, bahwa umat Hindu dimanapun mereka berada, ya di Bali, di Sasak, di Sunda, di Batak, di Toraja, di Bugis, di Madura, di Dayak, di Minahasa, di Tapanuli, di Papua, di Ternate, di Minang, di Karo, di Melayu, di Tibet, di Suriname, di Bharatavarsa, di Fidji, di Afrika, di Eropa, dan sebagainya tentu telah sadar sesadarsadarnya bahwa mereka ada dalam tatanan komunitas Hindu yang sangat universal dalam era global ini telah memaknai pula dan ajaran swadharma dan paradharma yang bersifat universal pula. Tentu telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada masing-masing daerah dengan tidak mengabaikan kekuatan, kemampuan, pelaksanaan, dan penerapan ajaran agama Hindu oleh umat setempat berdasarkan kondisi local genius atau drsta atau sima masing-masing. Dengan memaknai nilai ajaran swadharma dan paradharma memberikan peluang dan membuka cakrawala pandang terutama melalui proses berpikir, berwacana, dan berlaksana yang arif dan bijaksana oleh segenap sedharma di berbagai lapisan dunia ini. Tidak ada kesan munculnya diskriminasi, saling menjelekkan, bahwa ini bagus, ini benar, itu jelek, itu salah. Dalam penerapan ajaran agama Hindu, bahwa image seperti itu jangan sampai muncul sama sekali. Hindu sangat berpantang untuk saling ejek, saling jatuhkan, dan saling mengkulturkan diri sendiri tanpa menghormati yang iainnya. Ingan nilai ajaran swadharma dan paradharma bahwa sang diri perlu dihormati, maka dengan jalan menghormati yang lain, secara otomatis akan terjadi sinergi atau terjadi suasana kebersamaan antara yang satu dengan yang lainnya.
Nilai ajaran swadharma dan paradharma mengandung nilai ajaran yang sangat universal dan mcnggelobal di era kesejagatan ini yang serba canggih dan akurat. Dalam kutipan sloka suci di atas telah ditegaskan bahwa melakukan sesuatu yang terbaik, termulia, terhormat, terbijaksana dimulai dan diri sendiri yang pada akhirnya untuk dipersembahkan selain untuk diri sendiri tetapi juga untuk pihak lain, orang lain, warga lain, sesama lain, suku lain, adat lain, negara lain, bangsa lain dan sebagainya. Sama halnya bangsa Indonesia ini melakukan sesuatu yang berguna bagi bangsanya sendiri, tentu bagi amatan bangsa lain di dunia ini akan membenikan dampak yang baik pula bagi bangsa Indonesia. Sebaliknya jika bangsa Indonesia selalu membuat citra yang kurang baik bagi bangsanya, maka sangat pasti akan disoroti oleh kalangan luas, bahwa kondisi Indonesia yang kurang kondusif dan tidak layak untuk dikunjungi. Hal ini sepertinya akan membuat petaka sendiri jika teijadi hal seperti itu. Begitu pula dalam pandangan tentang kehidupan beragama Hindu yang terjadi di Bali, bahwa tidak semata hanya mengunggulkan kondisi Bali saja, masih banyak umat Hindu yang membutuhkan pelayanan yang lebih intensif dan kondusif secara rutin dan terbaik seperti yang teijadi di Bali. Umat Hindu manapun di Indonesia pasti membutuhkan sistem, pola, upaya, usaha, aset, pelayanan, dan sejenisnya dengan perlakuan yang sama seperti saudaranya yang ada di Bali. Masih ada ümat Hindu yang tencecer di lembah Baliyem Papua, di Merauke, di Minahasa, di Kotamabagu, di Domuga, di Batak, di Karo, di Minang, di Sasak, dan sebagainya yang sangat mendambakan perhatian besar dan serius, agar mereka dapat menunaikan swadharma dan paradharmanya dengan baik dan penuh simpati.
Saudara-saudara kita di luar Bali sebagai sedharma yang masih mencintai ajaran suci Hindu berupa Veda dan dengan drstha atau silnanya masingmasing, masih sangat mencambakan pola pencerahan rohani dan pelayanan bidang keagamaan Hindu secara adil dan menata tanpa diabaikan hak-hak mereka yang tidak sama dengan saudaranya yang ada di Bali. Itu artinya umat Hindu yang ada di luar Bali s.ang ingin untuk dapat menja1ankn swadharmanya dan paradharmanya dengan baik inteksif, kreatif, terhormat, terlayani, dan mendapat perlakuan yang setimpal dengan yang lainnya. Bagaimana akhirnya mereka dapat melakukan kewajiban diri sendiri dengan baik atau paling tidak dengan memadai, tetapi dalam perhatian masih sangat kurang, dan nyaris sangat kecil. Mungkinkah mereka akan berkembang dan berkembang menjadi umat Hindu yang militan, atau sebaliknya menjadi umat Hindu yang bersiap-siap untuk meninggalkan tempat sucinya, meninggalkan pustaka sucinya, meninggalkan orang sucinya, dan meninggalkan yang lainnya, yang siap-siap untuk dijadikan benda peninggalan purbakala oleh bangsa ini, yang akhirnya tidak dapat berfungsi sebagaimana layaknya sebuah dinamika kehidupan beragama Hindu secara utuh.
Sekali lagi, bahwa nilai ajaran agama Hindu berupa ajaran swadharma dan paradharma sangat penting dimaknai oleh kita sekalian dalam upaya untuk mengembangkan tata kehidupan beragama Hindu dengan baik dan kondusif di tanah air. Sesederhana apapun hasil kerja sendiri pasti disumbangkan kepada umat Hindu kita yang lain di manapun mereka berada. Sebaliknya, bagaimanapun baiknya tatanan umat lain yang telah berkembang di Indonesia teutu patut dicontoh dan diteladani. Mengapa mereka bisa berkembang sesuai dengan swadharmanya? Mengapa juga kita di umat Hindu juga mestinya dapat berkembang mengikuti perkembangan secara alami dan akademis dengan umat lain di Indonesia. Artinya bahwa umat Hindu yang memiliki nilai ajaran swadharma dari paradharma, diharapkan
akan semakin eksis di masa depan, tentu dengan memaknai dan mengamalkan ajaran swadharma dan paradharma itu sendiri. Satu catatan penting bagi umat Hindu Indonesia dewasa ini adalah perlunya selektif dalam menimba model yang dilakukan oleh umat lamnnya di Indonesia.
Dalam Hindu telah memiliki cara (marga), ukuran (pramana), tujuan (artha), karakter (guna), pola kehidupan (ashrama), persembahan (yajna), keyakinan (sraddha), keluhuran dan kemuliaan (paramita), intelek (buddhi), keharmonisan (sundaram) dan sebagainya, sebagai pola anutan untuk mengembangkan percaya diri dan untuk dapat dikembangkan lagi guna dapat tampil percaya diri dihadapan publik di manapun mereka berada. Umat Hindu tidak perlu merasa kecil, rendah dalam penampilan, minoritas, pemalu, rendah diri, tidak berharga, tidak berperan, tetapi sebaliknya dengan nilai ajaran szvadharina dan varadharma dihanapkan umat hindu menjadi semakin tampil percaya diri, semakin mantap dalam rnenj alankan ajaran agama Hindu sendiri, serta semakin benperan aktif dalam mengisi pembangunan nasional di Indonesia. Tidak saja itu bahwa umat Hindu tergolong besan di dunia, tidak sedikit umat Hindu di berbagai negana di luar negeri. Umat Hindu mesti membuka cakrawala pandang secara luas dan lebar. Timba pengalaman urnat I hindu di lain negana, timba kemajuan umat Hindu di lain daerah di Indonesia. Tidak sedikit urnat Hindu di luar daerah yang telah berhasil menjalankan swadharma dan paradharmanya dengan baik dan benar, sehingga umat Hindu mendapatkan porsi yang mulia di hati umat lainnya yang tergolong heterogen. Itu artinya bahwa umat Hindu di Bali jangan berpikiran sempit dan picik hanya ingin melihat Bali saja tanpa mau melihat saudaranya di luar Bali. Daerah Parigi sangat banyak umat Hindu, di daerah Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara juga sangat banyak umat Hindu, dan di daerah Dayak lagi begitu meriah kehadiran umat Hindu, di Metro – Lampung juga tergolong mantap keberadaan umat Hindu, umat Hindu di Medan, dsbnya. Mari maknai nilai ajaran suci tentang swadharma dan paradharma demi dinamika umat Hindu Indonesia. Perlu adanya kerjasama, koordinasi dan perhatian serius dari semua komponen Hindu Indonesia, agar Hindu menjadi dinamis dan kondusif ke depan. ( WHD NO. 511 Juli 2009.Oleh : I Ketut Subagiasta (Guru Besar IHDN Denpasar))
Swa-dharme nidhanam sreyah paradharma bhayãwahah
Lebih baik melakukan dharmanya sendiri walaupun tidak sempurna dan pada melaksanakan dharma orang lain walaupun dikerjakan dengan sempurna. Lebih baik mati dalam menyelesaikan dharmanya sendiri dari pada mengikuti dharma orang lain yang berbahaya. (Maswinara, 1997: 181-182).
Swadharma dan Paradharma
Oleh : I Ketut Subagiasta (Guru Besar IHDN Denpasar)
reyan wã-dharma wigunah paradharmat swanusthitat,
Swa-dharme nidhanam sreyah paradharma bhayãwahah
Lebih baik melakukan dharmanya sendiri walaupun tidak sempurna dan pada melaksanakan dharma orang lain walaupun dikerjakan dengan sempurna. Lebih baik mati dalam menyelesaikan dharmanya sendiri dari pada mengikuti dharma orang lain yang berbahaya. (Maswinara, 1997: 181-182).
Istilah swadharma dan para-dharma sudah sangat sering didengar, dibicarakan, dipraktekkan, dan dijadikan bahan kajian oleh para sedharma di tanah air Indonesia. Ternyata istilah ini begitu pas dan relevan bagi umat Hindu yang merupakan ajaran suci tersurat dalam pustaka suci Bhagawadgita sebagaimana telah disitir di depan. Kata swadharma dan paradharma berasal dari bahasa Sansekerta, yakni dari kata swa, para dan dharma. Kata swa artinya sendiri, diri sendiri, aku, orang-orang dan golongan sendiri, teman. Kata para artinya lebih jauh, kemudian, masa lalu, amat, tertinggi, mulia, lain. Kata dharma artinya lembaga, adat, kebiasaan, aturan, kewajiban, moral yang baik, pekerjaan yang baik, kebenaran, hukum, keadilan. Kata swadharma artinya kebenaran sendiri, kewajiban sendiri. Sedangkan paradharma artinya aturan atau kewajiban orang lain atau kasta lain.
Menyimak dan beberapa pengertian swadharma dan pradharma sesuai Sabdakosa Sansekerta tersebut, maka dapat ditegaskan bahwa maksud dan istilah dalam ajaran swadharma dan paradharma adalah kewajiban diri sendiri, kebenaran diri sendiri ataupun hal lainnya yang terkait dengan konteks diri sendiri, terutama dalam hal kewajiban ataupun hal terkait dengan kebenaran atau aturan. Begitu juga istilah dalam ajaran paradharma sudah jelas yang berkaitan dengan yang lain, orang lain, masyarakat pada umumnya, di sekitar kita, dan sebagainya. Jadi paradharma adalah kewajiban orang lain, atau kewajiban terhadap orang lain, kewajiban terhadap publik atau pelayanan publik (public service), kewajiban untuk kebersamaan sebagai tanggung jawab bersama, dan juga kebenaran untuk bersama-sama. Dalam hal ini sangat relevan dengan konteks asas musyawarah menuju mufakat yang mengutamakan kebersamaan dan persetujuan bersama ke arah kebaikan, kebenaran, kebajikan, kemuliaan, dan menuju kerahayuan bersama.
Makna-makna mulia dan ajaran swadharma dan paradharma sebagaimana ada diajarkan dalam kutipan sloka pustaka suci Bhagawadgita di atas, menyiratkan makna suci, bahwa umat Hindu dimanapun mereka berada, ya di Bali, di Sasak, di Sunda, di Batak, di Toraja, di Bugis, di Madura, di Dayak, di Minahasa, di Tapanuli, di Papua, di Ternate, di Minang, di Karo, di Melayu, di Tibet, di Suriname, di Bharatavarsa, di Fidji, di Afrika, di Eropa, dan sebagainya tentu telah sadar sesadarsadarnya bahwa mereka ada dalam tatanan komunitas Hindu yang sangat universal dalam era global ini telah memaknai pula dan ajaran swadharma dan paradharma yang bersifat universal pula. Tentu telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada masing-masing daerah dengan tidak mengabaikan kekuatan, kemampuan, pelaksanaan, dan penerapan ajaran agama Hindu oleh umat setempat berdasarkan kondisi local genius atau drsta atau sima masing-masing. Dengan memaknai nilai ajaran swadharma dan paradharma memberikan peluang dan membuka cakrawala pandang terutama melalui proses berpikir, berwacana, dan berlaksana yang arif dan bijaksana oleh segenap sedharma di berbagai lapisan dunia ini. Tidak ada kesan munculnya diskriminasi, saling menjelekkan, bahwa ini bagus, ini benar, itu jelek, itu salah. Dalam penerapan ajaran agama Hindu, bahwa image seperti itu jangan sampai muncul sama sekali. Hindu sangat berpantang untuk saling ejek, saling jatuhkan, dan saling mengkulturkan diri sendiri tanpa menghormati yang iainnya. Ingan nilai ajaran swadharma dan paradharma bahwa sang diri perlu dihormati, maka dengan jalan menghormati yang lain, secara otomatis akan terjadi sinergi atau terjadi suasana kebersamaan antara yang satu dengan yang lainnya.
Nilai ajaran swadharma dan paradharma mengandung nilai ajaran yang sangat universal dan mcnggelobal di era kesejagatan ini yang serba canggih dan akurat. Dalam kutipan sloka suci di atas telah ditegaskan bahwa melakukan sesuatu yang terbaik, termulia, terhormat, terbijaksana dimulai dan diri sendiri yang pada akhirnya untuk dipersembahkan selain untuk diri sendiri tetapi juga untuk pihak lain, orang lain, warga lain, sesama lain, suku lain, adat lain, negara lain, bangsa lain dan sebagainya. Sama halnya bangsa Indonesia ini melakukan sesuatu yang berguna bagi bangsanya sendiri, tentu bagi amatan bangsa lain di dunia ini akan membenikan dampak yang baik pula bagi bangsa Indonesia. Sebaliknya jika bangsa Indonesia selalu membuat citra yang kurang baik bagi bangsanya, maka sangat pasti akan disoroti oleh kalangan luas, bahwa kondisi Indonesia yang kurang kondusif dan tidak layak untuk dikunjungi. Hal ini sepertinya akan membuat petaka sendiri jika teijadi hal seperti itu. Begitu pula dalam pandangan tentang kehidupan beragama Hindu yang terjadi di Bali, bahwa tidak semata hanya mengunggulkan kondisi Bali saja, masih banyak umat Hindu yang membutuhkan pelayanan yang lebih intensif dan kondusif secara rutin dan terbaik seperti yang teijadi di Bali. Umat Hindu manapun di Indonesia pasti membutuhkan sistem, pola, upaya, usaha, aset, pelayanan, dan sejenisnya dengan perlakuan yang sama seperti saudaranya yang ada di Bali. Masih ada ümat Hindu yang tencecer di lembah Baliyem Papua, di Merauke, di Minahasa, di Kotamabagu, di Domuga, di Batak, di Karo, di Minang, di Sasak, dan sebagainya yang sangat mendambakan perhatian besar dan serius, agar mereka dapat menunaikan swadharma dan paradharmanya dengan baik dan penuh simpati.
Saudara-saudara kita di luar Bali sebagai sedharma yang masih mencintai ajaran suci Hindu berupa Veda dan dengan drstha atau silnanya masingmasing, masih sangat mencambakan pola pencerahan rohani dan pelayanan bidang keagamaan Hindu secara adil dan menata tanpa diabaikan hak-hak mereka yang tidak sama dengan saudaranya yang ada di Bali. Itu artinya umat Hindu yang ada di luar Bali s.ang ingin untuk dapat menja1ankn swadharmanya dan paradharmanya dengan baik inteksif, kreatif, terhormat, terlayani, dan mendapat perlakuan yang setimpal dengan yang lainnya. Bagaimana akhirnya mereka dapat melakukan kewajiban diri sendiri dengan baik atau paling tidak dengan memadai, tetapi dalam perhatian masih sangat kurang, dan nyaris sangat kecil. Mungkinkah mereka akan berkembang dan berkembang menjadi umat Hindu yang militan, atau sebaliknya menjadi umat Hindu yang bersiap-siap untuk meninggalkan tempat sucinya, meninggalkan pustaka sucinya, meninggalkan orang sucinya, dan meninggalkan yang lainnya, yang siap-siap untuk dijadikan benda peninggalan purbakala oleh bangsa ini, yang akhirnya tidak dapat berfungsi sebagaimana layaknya sebuah dinamika kehidupan beragama Hindu secara utuh.
Sekali lagi, bahwa nilai ajaran agama Hindu berupa ajaran swadharma dan paradharma sangat penting dimaknai oleh kita sekalian dalam upaya untuk mengembangkan tata kehidupan beragama Hindu dengan baik dan kondusif di tanah air. Sesederhana apapun hasil kerja sendiri pasti disumbangkan kepada umat Hindu kita yang lain di manapun mereka berada. Sebaliknya, bagaimanapun baiknya tatanan umat lain yang telah berkembang di Indonesia teutu patut dicontoh dan diteladani. Mengapa mereka bisa berkembang sesuai dengan swadharmanya? Mengapa juga kita di umat Hindu juga mestinya dapat berkembang mengikuti perkembangan secara alami dan akademis dengan umat lain di Indonesia. Artinya bahwa umat Hindu yang memiliki nilai ajaran swadharma dari paradharma, diharapkan
akan semakin eksis di masa depan, tentu dengan memaknai dan mengamalkan ajaran swadharma dan paradharma itu sendiri. Satu catatan penting bagi umat Hindu Indonesia dewasa ini adalah perlunya selektif dalam menimba model yang dilakukan oleh umat lamnnya di Indonesia.
Dalam Hindu telah memiliki cara (marga), ukuran (pramana), tujuan (artha), karakter (guna), pola kehidupan (ashrama), persembahan (yajna), keyakinan (sraddha), keluhuran dan kemuliaan (paramita), intelek (buddhi), keharmonisan (sundaram) dan sebagainya, sebagai pola anutan untuk mengembangkan percaya diri dan untuk dapat dikembangkan lagi guna dapat tampil percaya diri dihadapan publik di manapun mereka berada. Umat Hindu tidak perlu merasa kecil, rendah dalam penampilan, minoritas, pemalu, rendah diri, tidak berharga, tidak berperan, tetapi sebaliknya dengan nilai ajaran szvadharina dan varadharma dihanapkan umat hindu menjadi semakin tampil percaya diri, semakin mantap dalam rnenj alankan ajaran agama Hindu sendiri, serta semakin benperan aktif dalam mengisi pembangunan nasional di Indonesia. Tidak saja itu bahwa umat Hindu tergolong besan di dunia, tidak sedikit umat Hindu di berbagai negana di luar negeri. Umat Hindu mesti membuka cakrawala pandang secara luas dan lebar. Timba pengalaman urnat I hindu di lain negana, timba kemajuan umat Hindu di lain daerah di Indonesia. Tidak sedikit urnat Hindu di luar daerah yang telah berhasil menjalankan swadharma dan paradharmanya dengan baik dan benar, sehingga umat Hindu mendapatkan porsi yang mulia di hati umat lainnya yang tergolong heterogen. Itu artinya bahwa umat Hindu di Bali jangan berpikiran sempit dan picik hanya ingin melihat Bali saja tanpa mau melihat saudaranya di luar Bali. Daerah Parigi sangat banyak umat Hindu, di daerah Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara juga sangat banyak umat Hindu, dan di daerah Dayak lagi begitu meriah kehadiran umat Hindu, di Metro – Lampung juga tergolong mantap keberadaan umat Hindu, umat Hindu di Medan, dsbnya. Mari maknai nilai ajaran suci tentang swadharma dan paradharma demi dinamika umat Hindu Indonesia. Perlu adanya kerjasama, koordinasi dan perhatian serius dari semua komponen Hindu Indonesia, agar Hindu menjadi dinamis dan kondusif ke depan. ( WHD NO. 511 Juli 2009.Oleh : I Ketut Subagiasta (Guru Besar IHDN Denpasar))
Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain
Paropakaranam yesam
jagarti hrdaye satam
nasyanti vipadas tesam
sampadah syuh pade pade
(Canakya Nitisastra, XVII. 15)
Maksudnya: Dia yang senantiasa memikirkan untuk mengupayakan kepentingan dan kebahagiaan orang lain, segala kesulitan akan terhindari dan ia akan mendapatkan keberuntungan dalam setiap usahanya.
Dimensi – Balipost Minggu, 21 Pebruari 2010.
Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain
Oleh I Ketut Wiana
Paropakaranam yesam
jagarti hrdaye satam
nasyanti vipadas tesam
sampadah syuh pade pade
(Canakya Nitisastra, XVII. 15)
Maksudnya: Dia yang senantiasa memikirkan untuk mengupayakan kepentingan dan kebahagiaan orang lain, segala kesulitan akan terhindari dan ia akan mendapatkan keberuntungan dalam setiap usahanya.
HIDUP untuk mengabdi pada orang lain (para upakara) sesungguhnya bukanlah suatu pengorbanan yang siasia. Dalam mengabdi untuk memperjuangkan kepentingan demi kebahagiaan orang lain sesungguhnya kita membuka pintu untuk menerima karunia Tuhan.
Umat manusia diciptakan oleh Tuhan tidak semata-mata sebagai makhluk individu, tetapi sekaligus sebagai makhluk sosial. Artinya, manusia baru bias hidup normal sebagai manusia jika hidup bersama dengan manusia lainnya dalam suatu masyarakat. Ini artinya, ciri-ciri kemanusiaan itu akan muncul jika manusia itu hidup bersama dengan sesamanya. Hidup bersama dengan sesama manusia dalam suatu masyarakat akan membahagiakan apabila dalam kebersamaan itu untuk saling mengabdi.
Hakikat manusia adalah sama dan berbeda. Memang tidak ada manusia yang persia sama dengan manusia lainnya. Dalam diri manusia ada perbedaan satu dengan yang lain.
Perbedaan yang ada saling lengkap melengkapi dan ada yang saling bertentangan. Adanya anggota masyarakat miskin atau bodoh sesungguhnya sebagai media untuk mengamalkan ajaran agama.
Memikirkan danterus mengupayakan mereka yang miskin, bodoh, sakit dan sejenisnya untuk meningkatkan taraf hidupnya adalah suatu wujud pengamalan biâjip beragama menurut pandangan agama Hindu.
Sloka Canakya Nitisastra yang dikutip di awal tulisan ini seyogyanya direnungkan lebih dalam bagi mereka yang bekerja dalam pelayanan publik. SDM yang bekerja dalam pelayanan publik seyogyanya mengecamkan dalam-dalam makna pelayanan kepada mereka yang menderita, seperti pelayanan di tempat-tempat pelayanan kesehatan. Mereka yang membutuhkan bantuan dalam urusan birokrasi sering mendapat berbagai kesulitan karena SDM di birokrasi itu tidak memiliki wawasan pelayan.
Di dalam birokrasi ada semacam pameo “sepanjang bisa dipersulit, mengapa dipermudah”. Dalam hal inilah banyak masyarakat yang berurusan dengan birokrasi menjadi jengkel dan kecewa karena dipersulit oleh oknum yang masih banyak bercokol di birokrasi pemerintahan. Banyak pihak sampai frustrasi karena rumitnya urusan birokrasi pemerintahan. Apalagi yang menyangkut urusan keuangan, kepegawaian, izin-izin dll. Bahkan yang mau bayar pajak pun bisa dibuat bertele-tele melalui birokrasi.
Namun, dewasa ini memang sudah semakin disadari sehingga urusan birokrasi pelayanan publik sedikit demi sedikit sudah ada yang berubah. Sudah ada SDM yang berpandangan bahwa melayani orang lain itu adalah suatu wujud pengamalan ajaran agama. Umat Hindu di India memiliki suatu kristal Subha Situ yaitu suatu kata-kata bijak yang dimunculkan dari ajaran Weda, Dharmasastra Itihasa dan Purana.
Salah satu isi Purana menurut keyakinan Hindu dinyatakan dalam Subha Sita sbb.:
“Paropakarah punyaya papayaparapidana”, artinya: siapa pun yang hidupnya untuk melayani orang lain (para upakara) akan mendapatkan punya, siapa pun yang menyakiti orang lain (para pidana) akan mendapatkan papa. Punya itu artinya kemuliaan, kebaikan atau kesejahteraan, sedangkan papa artinya kejahatan atau juga kesengsaraan.
Purana itu disebarkan kepada umat dengan tujuan memotivasi agar umat senantiasa melakukan pelayanan kepada sesama yang membutuhkan pelayanan. Pelayanan kepada sesama itu sebagai wujud pengamalan ajaran agama. Pengamalan agama bukan melakukan sembahyang dan upacara yadnya semata. Bekerja dalam pelayanan publik dengan sikap spiritual seperti yang diajarkan dalam sloka Canakya Nitisastra di atas memiliki nilai yang utama sebagai wujud pengamalan agama.
Dalam Rg.Veda X.117.3 ada juga dinyatakan bahwa “Dia yang tidak picik dengan kemurahan hati memberikan derma berupa harta (dana punya) maupun jasa kepada mereka yang sedang susah maupun miskin, mereka akan memperoleh harta dan jasa seandainya ada bencana yang menimpanya. Mereka juga akan memiliki banyak sahabat untuk membantu mereka dalam menghindari kesengsaraan.
SDM Hindu hendaknya meyakini makna sloka Canakya Nitisastra, Subha Situ Purana dan Mantra Rg.Veda itu, bahwa nilai bekerja dengan sikap melayani orang susah amat utama seperti melakukan sembahyang dan melangsungkan upacara yadnya. Sesungguhnya, substansi sembahyang dan melangsungkan upacara yadnya adalah untuk menanamkan nilai-nilai pelayanan ke dalam lubuk hati umat agar selanjutnya mereka hidup untuk saling melayani, tolong menolong dengan tulus ikhlas pada sesama.
Melakukan sembahyang, upacara yadnya, meditasi dan berbagai kegiatan beragama hendaknya dijadikan media untuk menguatkan motivasi umat untuk hidup melayani dan menolong pihak yang menderita dan butuh pertolongan. Dorongan untuk memotivasi umat membangun sikap pelayanan sebagai wujud pengamalan ajaran agama perlu ditanamkan kepada umat lewat media sembahyang, upacara yadnya maupun kegiatan keagamaan lainnya yang umumnya merupakan kegiatan formal.( Dimensi – Balipost Minggu, 21 Pebruari 2010.
Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain
Oleh I Ketut Wiana )
jagarti hrdaye satam
nasyanti vipadas tesam
sampadah syuh pade pade
(Canakya Nitisastra, XVII. 15)
Maksudnya: Dia yang senantiasa memikirkan untuk mengupayakan kepentingan dan kebahagiaan orang lain, segala kesulitan akan terhindari dan ia akan mendapatkan keberuntungan dalam setiap usahanya.
Dimensi – Balipost Minggu, 21 Pebruari 2010.
Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain
Oleh I Ketut Wiana
Paropakaranam yesam
jagarti hrdaye satam
nasyanti vipadas tesam
sampadah syuh pade pade
(Canakya Nitisastra, XVII. 15)
Maksudnya: Dia yang senantiasa memikirkan untuk mengupayakan kepentingan dan kebahagiaan orang lain, segala kesulitan akan terhindari dan ia akan mendapatkan keberuntungan dalam setiap usahanya.
HIDUP untuk mengabdi pada orang lain (para upakara) sesungguhnya bukanlah suatu pengorbanan yang siasia. Dalam mengabdi untuk memperjuangkan kepentingan demi kebahagiaan orang lain sesungguhnya kita membuka pintu untuk menerima karunia Tuhan.
Umat manusia diciptakan oleh Tuhan tidak semata-mata sebagai makhluk individu, tetapi sekaligus sebagai makhluk sosial. Artinya, manusia baru bias hidup normal sebagai manusia jika hidup bersama dengan manusia lainnya dalam suatu masyarakat. Ini artinya, ciri-ciri kemanusiaan itu akan muncul jika manusia itu hidup bersama dengan sesamanya. Hidup bersama dengan sesama manusia dalam suatu masyarakat akan membahagiakan apabila dalam kebersamaan itu untuk saling mengabdi.
Hakikat manusia adalah sama dan berbeda. Memang tidak ada manusia yang persia sama dengan manusia lainnya. Dalam diri manusia ada perbedaan satu dengan yang lain.
Perbedaan yang ada saling lengkap melengkapi dan ada yang saling bertentangan. Adanya anggota masyarakat miskin atau bodoh sesungguhnya sebagai media untuk mengamalkan ajaran agama.
Memikirkan danterus mengupayakan mereka yang miskin, bodoh, sakit dan sejenisnya untuk meningkatkan taraf hidupnya adalah suatu wujud pengamalan biâjip beragama menurut pandangan agama Hindu.
Sloka Canakya Nitisastra yang dikutip di awal tulisan ini seyogyanya direnungkan lebih dalam bagi mereka yang bekerja dalam pelayanan publik. SDM yang bekerja dalam pelayanan publik seyogyanya mengecamkan dalam-dalam makna pelayanan kepada mereka yang menderita, seperti pelayanan di tempat-tempat pelayanan kesehatan. Mereka yang membutuhkan bantuan dalam urusan birokrasi sering mendapat berbagai kesulitan karena SDM di birokrasi itu tidak memiliki wawasan pelayan.
Di dalam birokrasi ada semacam pameo “sepanjang bisa dipersulit, mengapa dipermudah”. Dalam hal inilah banyak masyarakat yang berurusan dengan birokrasi menjadi jengkel dan kecewa karena dipersulit oleh oknum yang masih banyak bercokol di birokrasi pemerintahan. Banyak pihak sampai frustrasi karena rumitnya urusan birokrasi pemerintahan. Apalagi yang menyangkut urusan keuangan, kepegawaian, izin-izin dll. Bahkan yang mau bayar pajak pun bisa dibuat bertele-tele melalui birokrasi.
Namun, dewasa ini memang sudah semakin disadari sehingga urusan birokrasi pelayanan publik sedikit demi sedikit sudah ada yang berubah. Sudah ada SDM yang berpandangan bahwa melayani orang lain itu adalah suatu wujud pengamalan ajaran agama. Umat Hindu di India memiliki suatu kristal Subha Situ yaitu suatu kata-kata bijak yang dimunculkan dari ajaran Weda, Dharmasastra Itihasa dan Purana.
Salah satu isi Purana menurut keyakinan Hindu dinyatakan dalam Subha Sita sbb.:
“Paropakarah punyaya papayaparapidana”, artinya: siapa pun yang hidupnya untuk melayani orang lain (para upakara) akan mendapatkan punya, siapa pun yang menyakiti orang lain (para pidana) akan mendapatkan papa. Punya itu artinya kemuliaan, kebaikan atau kesejahteraan, sedangkan papa artinya kejahatan atau juga kesengsaraan.
Purana itu disebarkan kepada umat dengan tujuan memotivasi agar umat senantiasa melakukan pelayanan kepada sesama yang membutuhkan pelayanan. Pelayanan kepada sesama itu sebagai wujud pengamalan ajaran agama. Pengamalan agama bukan melakukan sembahyang dan upacara yadnya semata. Bekerja dalam pelayanan publik dengan sikap spiritual seperti yang diajarkan dalam sloka Canakya Nitisastra di atas memiliki nilai yang utama sebagai wujud pengamalan agama.
Dalam Rg.Veda X.117.3 ada juga dinyatakan bahwa “Dia yang tidak picik dengan kemurahan hati memberikan derma berupa harta (dana punya) maupun jasa kepada mereka yang sedang susah maupun miskin, mereka akan memperoleh harta dan jasa seandainya ada bencana yang menimpanya. Mereka juga akan memiliki banyak sahabat untuk membantu mereka dalam menghindari kesengsaraan.
SDM Hindu hendaknya meyakini makna sloka Canakya Nitisastra, Subha Situ Purana dan Mantra Rg.Veda itu, bahwa nilai bekerja dengan sikap melayani orang susah amat utama seperti melakukan sembahyang dan melangsungkan upacara yadnya. Sesungguhnya, substansi sembahyang dan melangsungkan upacara yadnya adalah untuk menanamkan nilai-nilai pelayanan ke dalam lubuk hati umat agar selanjutnya mereka hidup untuk saling melayani, tolong menolong dengan tulus ikhlas pada sesama.
Melakukan sembahyang, upacara yadnya, meditasi dan berbagai kegiatan beragama hendaknya dijadikan media untuk menguatkan motivasi umat untuk hidup melayani dan menolong pihak yang menderita dan butuh pertolongan. Dorongan untuk memotivasi umat membangun sikap pelayanan sebagai wujud pengamalan ajaran agama perlu ditanamkan kepada umat lewat media sembahyang, upacara yadnya maupun kegiatan keagamaan lainnya yang umumnya merupakan kegiatan formal.( Dimensi – Balipost Minggu, 21 Pebruari 2010.
Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain
Oleh I Ketut Wiana )
Minggu, 12 Desember 2010
KASIH SAYANG UNTUK MERAIH KEHIDUPAN DAMAI
Rabindranath Tagore, seorang penyair dan filsuf ternama mengajarkan pada kita bahwa, kasih sayang tidak hanya dapat diberikan kepada orang terdekat, tetapi kasih sayang harus kita berikan pada seluruh makhluk hidup. Dan Tuhan adalah intisari dari kasih sayang itu, maka untuk mewujudkan rasa bhakti yang tulus kepada Tuhan hendaknya kita mampu merealisasikan cinta kasih tersebut melalui ciptaannya. Pernyataan Tagore tersebut patut kita renungkan, karena seringkali kita sebagai umat beragama berusaha menjalani ajaran agama dengan baik ( sembahyang, beryadnya, melakukan tirta yatra, dll ). Hal itu tentu tidak salah, namun dalam praktek kehidupan kita sering melupakan hal-hal kecil yang ada disekeliling kita, yaitu menerapkan kasih sayang kepada semua makhluk hidup, tidak peduli kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, kepada orang tua, saudara dan orang-orang terdekatpun terkadang kita sulit menerapkan kasih sayang yang tulus itu. Hanya sedikit ada orang-orang yang mampu melakukan hal itu, karena kita sering dibutakan oleh egoisme dan keangkuhan yang ada dalam diri kita.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi disamping telah mampu melahirkan dampak-dampak positif dan juga dampak-dampak yang negatif serta mampu merubah pola pikir dan tatanan kehidupan manusia baik secara individu maupun secara sosial. Namun untuk mengecilkan pengaruh negatif yang muncul akibat perkembangan tersebut, yang tentunya berpengaruh terhadap hakekat kasih sayang, akibat dari kemajuan serta perkembangan yang ada, dimana satu dengan yang lainnya terjebak pada persaingan, lambat atau cepat mengeleminasi kasih sayang diantara sesamanya.
Bagaimana Hindu memandang tentang konsep cinta kasih dan kasih sayang?
Kapan cinta kasih dan kasih sayang itu akan lahir dan bagaimana jika hal tersebut dikorelasikan dengan fenomena (kejadian) saat ini ?
Benarkah cinta kasih dan kasih sayang sebagai nafas kehidupan untuk menggapai impian kita bersama yaitu kedamaian ?
Menumbuhkan cinta kasih dan kasih sayang sebagai nafas kehidupan untuk meraih kedamaian. Secara etimologi, dalam kamus bahasa Indonesia “Cinta” mempunyai arti sayang benar, suka sekali dan rindu. Sedangkan “Kasih” adalah perasaan sayang, perasaan iba. Bagaimana Hindu memandang tentang konsep Cinta kasih dan Kasih sayang ? Dalam bahasa Sanskerta Cinta adalah berasal dari urat akar kata Snih, dalam konteks ini cinta bukan harus dimiliki melainkan apa yang sudah ada patut dipelihara. Sedangkan menurut cendikiawan Hindu abad ke 19 Yaitu Svami Vivekanandha menyampaikan dalam sidang parlemen Agama-agama se-Dunia pada tanggal 11 September 1893 menyebutkan bahwa Cinta kasih adalah daya penggerak, karena cinta kasih selalu menempatkan dirinya sebagai pemberi bukan penerima. Yang patut di ketahui bahwa Tuhan adalah yang Maha welas asih. Jika kita dengan penuh kesadaran cinta dan kasih kepada Tuhan maka kebenaran (sathya) yaitu kemahakuasaan Tuhan akan datang karena daya penggerak atau cinta kasihNya. Jadi dari uraian tersebut maka dapat dipahami bahwa Cinta Kasih adalah Perasaan rindu, sayang yang patut untuk dibina dengan penuh kesadaran tanpa keterikatan.
Seperti dalam Bhagavad Gita XII. 13, disebutkan tentang orang yang telah memahami dan mengaplikasikan cinta kasih : Advesta sarva-bhutanam, Maitrah karuna eva ca
Nirmamo niraham karah, Sama dukha-sukhah ksami Artinya Dia yang tidak membenci segala mahluk, Bersahabat dan cinta kasih Bebas dari keakuan dan keangkuhan,Sama dalam duka dan suka,pemberi maaf Sedangkan Kasih sayang adalah perasaan yang lahir dari cinta kasih dan diberikan dengan penuh kesadaran tanpa keterikatan
apan Semua itu akan lahir ?
Ada lima aspek kepribadian manusia, yaitu (1) Intelek atau kecerdasan, memungkinkan manusia menganalisa dan menentukan apa yang benar dan apa yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang palsu dan mana yang sejati, (2) Fisik, semua mahluk terbentuk dari unsur fisik yang sama. Fisik sebagai aspek kepribadian yang dimaksud di sini adalah pengembangan kebiasaan memimpin dan mengendalikan hasrat. Kesanggupan menolong, kecakapan sosial, kemampuan etika, semuanya terkait dengan jasmani yang berhubungan dengan nilai kebajikan dan tindakan yang baik, (3) Emosi, tingkat emosi menggambarkan penggunaan panca indera secara benar. Emosi hendaknya dipahami dan dikendalikan agar menjadi alat yang berguna bagi kesejahteraan hidup individu dan masyarakat. Bila seseorang mengalami keseimbangan emosi maka ia memperoleh kedamaian, (4) Psikis atau kejiwaan adalah aspek kepribadian manusia yang paling sulit dilukiskan, karena merupakan kualitas diri kita yang menjadi sumber kasih. Kasih bukanlah emosi. Kasih adalah energi yang memancar dari diri kita kepada orang lain atau makhluk di sekitar kita. Kasih tidak berkaitan dengan emosi. Kasih adalah nilai kemanusian yang mulia dalam hidup, (5) Spiritual, dalam spiritualitas, seseorang menghayati kesatuan yang mendasar dan kemanunggalan segala ciptaan. Kita mempunyai hubungan langsung dengan segala sesuatu di alam semesta ini : udara, air, api, tanah, angkasa, dan kombinasi semuanya itu. Bila kita menyadari kenyataan dasar ini, hasilnya ialah nilai tanpa kekerasan. Dari semua inilah lahirnya cinta kasih dan kasih sayang.
Bagaimana hal tersebut (Cinta kasih dan kasih sayang) dikorelasikan dengan fenomena (kejadian) saat ini ?
Semua agama yang ada mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berpikir, berucap dan berbuat yang baik dan benar, tidak ada satu agama apapun yang mengajarkan kekerasan, kebencian dan kemunafikan. Setiap agama pada dasarnya mengajarkan prinsip-prinsip kebenaran (Sathya), kebajikan (Dharma), kedamaian (Santih), kasih sayang (Prema) dan tanpa kekerasan (Ahimsa) dengan tujuan agar umatnya mendapatkan kebahagiaan baik sebagai mahluk individu maupun sosial, jasmani dan rohani.
Melihat kondisi kehidupan berbangsa – bernegara sekarang ini, sungguh kita semua merasa prihatin. Banyak diantara kita, saudara-saudari kita yang menjalani hidup dalam keresahan, kegelisahan dan dihantui kecemasan serta suasana yang tidak menentu. Apakah penyebab semua ini ? Penyebabnya adalah kekuasaan, nafsu – keinginan yang tiada batasnya, sifat mementingkan diri sendiri, kemarahan dan kebencian, dan keserakahan. Kitab suci agama-agama menyatakan, bahwa “Nafsu-keinginan, kebencian-kemarahan, ketamakan-keserakahan, kebingungan, kemabukan- narkoba, dan irihati, “ adalah musuh utama setiap manusia yang harus dilenyapkan, karena dapat membawa dan menjerumuskan kita ke neraka. Tidakkah keenam sifat itu yang telah menyebabkan hancur dan terpuruknya keadaan bangsa dan Negara kita ?. Jadi musuh itu tidak ada di luar diri kita tapi ada dalam diri manusia, inilah yang harus di renungkan secara mendalam untuk meraih kedamaian ! Atas dasar suatu kedamaian pula lahir sebuah organisasi Perserikatan Bangsa-bangsa yang juga membawa misi kedamaian untuk dunia. Munkinkah misi itu akan tercapai ? Tidak !… Apabila masing-masing Negara di dunia ini belum bisa mewujudkan kedamaian di negaranya masing-masing. Bisakah suatu Negara bisa mewujudkan kedamaian ? Tidak pula ! …apabila tiap-tiap satuan masyarakat atau golongan tidak terwujud suatu kedamaian. Bisakah suatu masyarakat tersebut mewujudkan kedamaian ? Jawabannyapun tidak ! …apabila dalam satuan masyarakat kecil yaitu keluarga belum bisa mewujudkan kedamaian. Mampukah suatu keluarga mendapatkan kedamaian ? Tidak ! …apabila anggota keluarga yaitu individu-individu belum bisa mewujudkan kedamaian dalam diri sendiri. Jadi untuk mencapai misi tersebut yaitu kedamaian dimulai dari individu-individu yang dilandasi cinta kasih dan kasih sayang yang menjadi nafas dalam kehidupan ini agar kita mampu untuk melaksanakan Dharma Agama dan Dharma Negara.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi disamping telah mampu melahirkan dampak-dampak positif dan juga dampak-dampak yang negatif serta mampu merubah pola pikir dan tatanan kehidupan manusia baik secara individu maupun secara sosial. Namun untuk mengecilkan pengaruh negatif yang muncul akibat perkembangan tersebut, yang tentunya berpengaruh terhadap hakekat kasih sayang, akibat dari kemajuan serta perkembangan yang ada, dimana satu dengan yang lainnya terjebak pada persaingan, lambat atau cepat mengeleminasi kasih sayang diantara sesamanya.
Bagaimana Hindu memandang tentang konsep cinta kasih dan kasih sayang?
Kapan cinta kasih dan kasih sayang itu akan lahir dan bagaimana jika hal tersebut dikorelasikan dengan fenomena (kejadian) saat ini ?
Benarkah cinta kasih dan kasih sayang sebagai nafas kehidupan untuk menggapai impian kita bersama yaitu kedamaian ?
Menumbuhkan cinta kasih dan kasih sayang sebagai nafas kehidupan untuk meraih kedamaian. Secara etimologi, dalam kamus bahasa Indonesia “Cinta” mempunyai arti sayang benar, suka sekali dan rindu. Sedangkan “Kasih” adalah perasaan sayang, perasaan iba. Bagaimana Hindu memandang tentang konsep Cinta kasih dan Kasih sayang ? Dalam bahasa Sanskerta Cinta adalah berasal dari urat akar kata Snih, dalam konteks ini cinta bukan harus dimiliki melainkan apa yang sudah ada patut dipelihara. Sedangkan menurut cendikiawan Hindu abad ke 19 Yaitu Svami Vivekanandha menyampaikan dalam sidang parlemen Agama-agama se-Dunia pada tanggal 11 September 1893 menyebutkan bahwa Cinta kasih adalah daya penggerak, karena cinta kasih selalu menempatkan dirinya sebagai pemberi bukan penerima. Yang patut di ketahui bahwa Tuhan adalah yang Maha welas asih. Jika kita dengan penuh kesadaran cinta dan kasih kepada Tuhan maka kebenaran (sathya) yaitu kemahakuasaan Tuhan akan datang karena daya penggerak atau cinta kasihNya. Jadi dari uraian tersebut maka dapat dipahami bahwa Cinta Kasih adalah Perasaan rindu, sayang yang patut untuk dibina dengan penuh kesadaran tanpa keterikatan.
Seperti dalam Bhagavad Gita XII. 13, disebutkan tentang orang yang telah memahami dan mengaplikasikan cinta kasih : Advesta sarva-bhutanam, Maitrah karuna eva ca
Nirmamo niraham karah, Sama dukha-sukhah ksami Artinya Dia yang tidak membenci segala mahluk, Bersahabat dan cinta kasih Bebas dari keakuan dan keangkuhan,Sama dalam duka dan suka,pemberi maaf Sedangkan Kasih sayang adalah perasaan yang lahir dari cinta kasih dan diberikan dengan penuh kesadaran tanpa keterikatan
apan Semua itu akan lahir ?
Ada lima aspek kepribadian manusia, yaitu (1) Intelek atau kecerdasan, memungkinkan manusia menganalisa dan menentukan apa yang benar dan apa yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang palsu dan mana yang sejati, (2) Fisik, semua mahluk terbentuk dari unsur fisik yang sama. Fisik sebagai aspek kepribadian yang dimaksud di sini adalah pengembangan kebiasaan memimpin dan mengendalikan hasrat. Kesanggupan menolong, kecakapan sosial, kemampuan etika, semuanya terkait dengan jasmani yang berhubungan dengan nilai kebajikan dan tindakan yang baik, (3) Emosi, tingkat emosi menggambarkan penggunaan panca indera secara benar. Emosi hendaknya dipahami dan dikendalikan agar menjadi alat yang berguna bagi kesejahteraan hidup individu dan masyarakat. Bila seseorang mengalami keseimbangan emosi maka ia memperoleh kedamaian, (4) Psikis atau kejiwaan adalah aspek kepribadian manusia yang paling sulit dilukiskan, karena merupakan kualitas diri kita yang menjadi sumber kasih. Kasih bukanlah emosi. Kasih adalah energi yang memancar dari diri kita kepada orang lain atau makhluk di sekitar kita. Kasih tidak berkaitan dengan emosi. Kasih adalah nilai kemanusian yang mulia dalam hidup, (5) Spiritual, dalam spiritualitas, seseorang menghayati kesatuan yang mendasar dan kemanunggalan segala ciptaan. Kita mempunyai hubungan langsung dengan segala sesuatu di alam semesta ini : udara, air, api, tanah, angkasa, dan kombinasi semuanya itu. Bila kita menyadari kenyataan dasar ini, hasilnya ialah nilai tanpa kekerasan. Dari semua inilah lahirnya cinta kasih dan kasih sayang.
Bagaimana hal tersebut (Cinta kasih dan kasih sayang) dikorelasikan dengan fenomena (kejadian) saat ini ?
Semua agama yang ada mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berpikir, berucap dan berbuat yang baik dan benar, tidak ada satu agama apapun yang mengajarkan kekerasan, kebencian dan kemunafikan. Setiap agama pada dasarnya mengajarkan prinsip-prinsip kebenaran (Sathya), kebajikan (Dharma), kedamaian (Santih), kasih sayang (Prema) dan tanpa kekerasan (Ahimsa) dengan tujuan agar umatnya mendapatkan kebahagiaan baik sebagai mahluk individu maupun sosial, jasmani dan rohani.
Melihat kondisi kehidupan berbangsa – bernegara sekarang ini, sungguh kita semua merasa prihatin. Banyak diantara kita, saudara-saudari kita yang menjalani hidup dalam keresahan, kegelisahan dan dihantui kecemasan serta suasana yang tidak menentu. Apakah penyebab semua ini ? Penyebabnya adalah kekuasaan, nafsu – keinginan yang tiada batasnya, sifat mementingkan diri sendiri, kemarahan dan kebencian, dan keserakahan. Kitab suci agama-agama menyatakan, bahwa “Nafsu-keinginan, kebencian-kemarahan, ketamakan-keserakahan, kebingungan, kemabukan- narkoba, dan irihati, “ adalah musuh utama setiap manusia yang harus dilenyapkan, karena dapat membawa dan menjerumuskan kita ke neraka. Tidakkah keenam sifat itu yang telah menyebabkan hancur dan terpuruknya keadaan bangsa dan Negara kita ?. Jadi musuh itu tidak ada di luar diri kita tapi ada dalam diri manusia, inilah yang harus di renungkan secara mendalam untuk meraih kedamaian ! Atas dasar suatu kedamaian pula lahir sebuah organisasi Perserikatan Bangsa-bangsa yang juga membawa misi kedamaian untuk dunia. Munkinkah misi itu akan tercapai ? Tidak !… Apabila masing-masing Negara di dunia ini belum bisa mewujudkan kedamaian di negaranya masing-masing. Bisakah suatu Negara bisa mewujudkan kedamaian ? Tidak pula ! …apabila tiap-tiap satuan masyarakat atau golongan tidak terwujud suatu kedamaian. Bisakah suatu masyarakat tersebut mewujudkan kedamaian ? Jawabannyapun tidak ! …apabila dalam satuan masyarakat kecil yaitu keluarga belum bisa mewujudkan kedamaian. Mampukah suatu keluarga mendapatkan kedamaian ? Tidak ! …apabila anggota keluarga yaitu individu-individu belum bisa mewujudkan kedamaian dalam diri sendiri. Jadi untuk mencapai misi tersebut yaitu kedamaian dimulai dari individu-individu yang dilandasi cinta kasih dan kasih sayang yang menjadi nafas dalam kehidupan ini agar kita mampu untuk melaksanakan Dharma Agama dan Dharma Negara.
Kamis, 22 Juli 2010
Sekeping Cokelat Setara Olahraga 30 Menit
Makan sekeping cokelat setiap hari akan mengurangi risiko serangan jantung dan stroke.
Penderita tekanan darah tinggi kini punya cara baru mengurangi risiko terkena serangan jantung dan stroke. Konsumsi sekeping cokelat setiap hari akan mengurangi risiko dua penyakit itu sebesar 20 persen selama lima tahun.
Makan sekeping cokelat setiap hari memberi efek yang sama dengan olahraga selama setengah jam. Coklat, terutama cokelat berwarna gelap, mengandung bahan kimia flavanol yang berperan membuka pembuluh darah dalam tubuh.
"Penderita tekanan darah tinggi tidak selalu memerlukan obat-obatan untuk mengurangi tekanan darah. Studi menunjukkan ada beberapa jenis makanan yang dapat membantu," kata Dr Karin Ried, peneliti dari Universitas Adelaide pada studi yang dimuat dalam jurnal BMC Medicine. Studi menggabungkan hasil 15 penelitian selama 1995-2009 yang melibatkan ratusan orang.
Jumlah asupan cokelat yang berdampak signifikan terhadap penurunan tekanan darah bervariasi, antara satu potongan (6 gram) hingga satu bungkus cokelat (100 gram) setiap hari. Bagi penderita hipertensi, makan cokelat mengurangi tekanan darah hingga lima persen. Sedangkan orang dengan tekanan darah normal tidak terpengaruh.
Seperti tertulis di laman Telegraph, jumlah penderita hipertensi di negara maju seperti Inggris terus meningkat. Ratusan ribu penderita hipertensi berisiko menderita serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal setiap tahun. Namun, tak semuanya bisa mengasup obat-obatan. Satu dari 10 pasien tidak dapat menolerir obat hipertensi dan memiliki risiko lebih besar.
Studi awal tahun ini juga menunjukkan bahwa orang yang makan satu bar cokelat seminggu mengurangi kemungkinan stroke sebesar 22 persen. Namun, di samping manfaatnya, kontribusi cokelat terhadap lemak tubuh harus menjadi perhatian.(Pipiet Tri Noorastuti, Anda Nurlaila - VIVAnews )
Penderita tekanan darah tinggi kini punya cara baru mengurangi risiko terkena serangan jantung dan stroke. Konsumsi sekeping cokelat setiap hari akan mengurangi risiko dua penyakit itu sebesar 20 persen selama lima tahun.
Makan sekeping cokelat setiap hari memberi efek yang sama dengan olahraga selama setengah jam. Coklat, terutama cokelat berwarna gelap, mengandung bahan kimia flavanol yang berperan membuka pembuluh darah dalam tubuh.
"Penderita tekanan darah tinggi tidak selalu memerlukan obat-obatan untuk mengurangi tekanan darah. Studi menunjukkan ada beberapa jenis makanan yang dapat membantu," kata Dr Karin Ried, peneliti dari Universitas Adelaide pada studi yang dimuat dalam jurnal BMC Medicine. Studi menggabungkan hasil 15 penelitian selama 1995-2009 yang melibatkan ratusan orang.
Jumlah asupan cokelat yang berdampak signifikan terhadap penurunan tekanan darah bervariasi, antara satu potongan (6 gram) hingga satu bungkus cokelat (100 gram) setiap hari. Bagi penderita hipertensi, makan cokelat mengurangi tekanan darah hingga lima persen. Sedangkan orang dengan tekanan darah normal tidak terpengaruh.
Seperti tertulis di laman Telegraph, jumlah penderita hipertensi di negara maju seperti Inggris terus meningkat. Ratusan ribu penderita hipertensi berisiko menderita serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal setiap tahun. Namun, tak semuanya bisa mengasup obat-obatan. Satu dari 10 pasien tidak dapat menolerir obat hipertensi dan memiliki risiko lebih besar.
Studi awal tahun ini juga menunjukkan bahwa orang yang makan satu bar cokelat seminggu mengurangi kemungkinan stroke sebesar 22 persen. Namun, di samping manfaatnya, kontribusi cokelat terhadap lemak tubuh harus menjadi perhatian.(Pipiet Tri Noorastuti, Anda Nurlaila - VIVAnews )
Teh Ideal Sesuai Zodiak
Lewat zodiak, Anda bisa memaksimalkan manfaat teh bagi kesehatan.
Teh terbukti memiliki berbagai khasiat bagi peminumnya. Berbagai studi mengungkap, konsumsi tiga hingga lima cangkir teh setiap hari bermanfaat bagi kesehatan fisik dan emosional.
Melalui berbagai keluhan yang sering dialami berdasarkan zodiak, Anda bisa memaksimalkan manfaat teh bagi kesehatan, seperti dikutip dari laman Shine berikut.
Aries
Sering mengalami gangguan pada kepala, wajah dan sinus, darah dan sistem otot. Sangat dianjurkan untuk mencoba teh jahe, ginkgo biloba atau teh licorice, dan pastikan untuk menghindari kafein.
Taurus
Gangguan zodiak ini biasanya berada pada leher, tenggorokan dan suara. Teh ideal untuk Anda yang berada di bawah naungan Taurus adalah slippery elm, valerian, fenugreek dan licorice.
Gemini
Sering menderita gangguan pada organ bagian bahu, lengan dan tangan, serta paru-paru. Teh jelatang (nettle), echinacea, lavender dan teh calendula pas untuk relaksasi kaum Gemini.
Cancer
Warga Cancer akrab dengan masalah pada bagian perut, dada, payudara, rahim, dan sistem pencernaan. Teh terbaik untuk bagi para cancer adalah teh peppermint, chamomile, raspberry dan dandelion.
Leo
Penyakit dan kondidi jantung, dada, tulang belakang dan sistem jantung banyak diderita orang berzodiak singa. Mencoba teh yang menenangkan seperti teh fennel, dandelion, chamomile, valerian, jelatang (nettle) dan adas bisa melegakan.
Virgo
Usus dan perut para Virgo sering terkena berbagai gangguan. Teh ideal bagi Anda adalah yang dapat menenangkan dan menghangatkan seperti adas, lavender, slippery elm, fenugreek dan peppermint.
Libra
Umumnya, Libra memiliki perhatian lebih soal kondisi ginjal, kandung kemih, indung telur dan sistem endokrin. Jika Anda seorang Libra, pertimbangkan untuk mencoba ginseng, juniper, rosehip, licorice atau teh dandelion.
Scorpio
Scorpio tak jarang menderita di bagian organ genital dan usus. Teh dong quai, ginseng, daun raspberry, valerian atau teh jelatang patut Anda coba.
Sagitarius
Nyeri dan gangguan pada paha, pinggul, dan punggung serta siatik saraf sering diderita para Sagitarius. Teh yang akan membuat Anda merasa lebih baik di antaranya dandelion, lemon segar, dan daun semanggi merah.
Capricorn
Tak jarang Capricorn dihadapkan pada masalah kulit, gigi, rambut, kuku dan tulang. Cobalah teh chamomile, teh fenugreek, elderflower atau elderberry untuk meningkatkan kesehatan.
Aquarius
Sering mengalami cedera atau gangguan pada pergelangan kaki, betis dan impuls saraf, serta sistem peredaran darah. Teh terbaik untuk Anda jelatang (nettle), elderflower, elderberry atau Yarrow.
Pisces
Keram dan sakit pada kaki dan jari kaki, sistem kekebalan tubuh dan limfatik biasanya sering mendera kaum Pisces. Untuk mencegahnya, rajin-rajin minum teh yarrow, jelatang, rosehip, peppermint atau teh chamomile.( Pipiet Tri Noorastuti, Anda Nurlaila _ VIVAnews )
Teh terbukti memiliki berbagai khasiat bagi peminumnya. Berbagai studi mengungkap, konsumsi tiga hingga lima cangkir teh setiap hari bermanfaat bagi kesehatan fisik dan emosional.
Melalui berbagai keluhan yang sering dialami berdasarkan zodiak, Anda bisa memaksimalkan manfaat teh bagi kesehatan, seperti dikutip dari laman Shine berikut.
Aries
Sering mengalami gangguan pada kepala, wajah dan sinus, darah dan sistem otot. Sangat dianjurkan untuk mencoba teh jahe, ginkgo biloba atau teh licorice, dan pastikan untuk menghindari kafein.
Taurus
Gangguan zodiak ini biasanya berada pada leher, tenggorokan dan suara. Teh ideal untuk Anda yang berada di bawah naungan Taurus adalah slippery elm, valerian, fenugreek dan licorice.
Gemini
Sering menderita gangguan pada organ bagian bahu, lengan dan tangan, serta paru-paru. Teh jelatang (nettle), echinacea, lavender dan teh calendula pas untuk relaksasi kaum Gemini.
Cancer
Warga Cancer akrab dengan masalah pada bagian perut, dada, payudara, rahim, dan sistem pencernaan. Teh terbaik untuk bagi para cancer adalah teh peppermint, chamomile, raspberry dan dandelion.
Leo
Penyakit dan kondidi jantung, dada, tulang belakang dan sistem jantung banyak diderita orang berzodiak singa. Mencoba teh yang menenangkan seperti teh fennel, dandelion, chamomile, valerian, jelatang (nettle) dan adas bisa melegakan.
Virgo
Usus dan perut para Virgo sering terkena berbagai gangguan. Teh ideal bagi Anda adalah yang dapat menenangkan dan menghangatkan seperti adas, lavender, slippery elm, fenugreek dan peppermint.
Libra
Umumnya, Libra memiliki perhatian lebih soal kondisi ginjal, kandung kemih, indung telur dan sistem endokrin. Jika Anda seorang Libra, pertimbangkan untuk mencoba ginseng, juniper, rosehip, licorice atau teh dandelion.
Scorpio
Scorpio tak jarang menderita di bagian organ genital dan usus. Teh dong quai, ginseng, daun raspberry, valerian atau teh jelatang patut Anda coba.
Sagitarius
Nyeri dan gangguan pada paha, pinggul, dan punggung serta siatik saraf sering diderita para Sagitarius. Teh yang akan membuat Anda merasa lebih baik di antaranya dandelion, lemon segar, dan daun semanggi merah.
Capricorn
Tak jarang Capricorn dihadapkan pada masalah kulit, gigi, rambut, kuku dan tulang. Cobalah teh chamomile, teh fenugreek, elderflower atau elderberry untuk meningkatkan kesehatan.
Aquarius
Sering mengalami cedera atau gangguan pada pergelangan kaki, betis dan impuls saraf, serta sistem peredaran darah. Teh terbaik untuk Anda jelatang (nettle), elderflower, elderberry atau Yarrow.
Pisces
Keram dan sakit pada kaki dan jari kaki, sistem kekebalan tubuh dan limfatik biasanya sering mendera kaum Pisces. Untuk mencegahnya, rajin-rajin minum teh yarrow, jelatang, rosehip, peppermint atau teh chamomile.( Pipiet Tri Noorastuti, Anda Nurlaila _ VIVAnews )
Sesendok Gula Bantu Redakan Stres
Kebutuhan gula meningkat saat otak terprovokasi hal-hal yang memicu stres.
Masukkan sesendok gula dalam sajian teh hangat Anda untuk meredakan stres. Minuman manis bermanfaat mengurangi tingkat agresivitas dan menstabilkan emosi seseorang.
Seperti dikutip dari Daily Mail, kandungan gula dalam minuman hangat berperan memompa energi ke otak sehingga emosi selalu terjaga. Oleh karenanya, sangat disarankan mengonsumsi minuman manis sebelum bertemu bos yang sulit, agar tenang.
Efek penenang pada gula ini diuji oleh para psikolog dari Universitas New South Wales dan Queensland, Australia. Mereka melakukan penelitian terhadap sejumlah responden pria dan wanita. Sebagian responden diberikan minuman limun dengan tambahan gula alami. Sisanya, limun dengan pemanis buatan.
Para responden kemudian ditempa dengan sejumlah tugas yang memicu stres yang harus dipresentasikan lewat pidato. Tak hanya itu, emosi mereka juga akan digoda dengan sejumlah komentar menyakitkan yang menyatakan bahwa isi pidato mereka membosankan dan mengecewakan.
Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Experimental Social Psychology ini mengungkap, mereka yang mengonsumsi limun dengan gula alami tak terlalu terpancing dengan provokasi yang diciptakan tim peneliti. Sementara, mereka yang mengonsumsi limun dengan gula sintetis jauh lebih agresif.
Peneliti menyimpulkan, otak membutuhkan gula atau glukosa sebagai energi untuk mengendalikan kemampuan kontrol emosi dan tindakan. Dan, kebutuhan gula meningkat saat otak terprovokasi hal-hal yang memicu stres.( Pipiet Tri Noorastuti - VIVAnews )
Masukkan sesendok gula dalam sajian teh hangat Anda untuk meredakan stres. Minuman manis bermanfaat mengurangi tingkat agresivitas dan menstabilkan emosi seseorang.
Seperti dikutip dari Daily Mail, kandungan gula dalam minuman hangat berperan memompa energi ke otak sehingga emosi selalu terjaga. Oleh karenanya, sangat disarankan mengonsumsi minuman manis sebelum bertemu bos yang sulit, agar tenang.
Efek penenang pada gula ini diuji oleh para psikolog dari Universitas New South Wales dan Queensland, Australia. Mereka melakukan penelitian terhadap sejumlah responden pria dan wanita. Sebagian responden diberikan minuman limun dengan tambahan gula alami. Sisanya, limun dengan pemanis buatan.
Para responden kemudian ditempa dengan sejumlah tugas yang memicu stres yang harus dipresentasikan lewat pidato. Tak hanya itu, emosi mereka juga akan digoda dengan sejumlah komentar menyakitkan yang menyatakan bahwa isi pidato mereka membosankan dan mengecewakan.
Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Experimental Social Psychology ini mengungkap, mereka yang mengonsumsi limun dengan gula alami tak terlalu terpancing dengan provokasi yang diciptakan tim peneliti. Sementara, mereka yang mengonsumsi limun dengan gula sintetis jauh lebih agresif.
Peneliti menyimpulkan, otak membutuhkan gula atau glukosa sebagai energi untuk mengendalikan kemampuan kontrol emosi dan tindakan. Dan, kebutuhan gula meningkat saat otak terprovokasi hal-hal yang memicu stres.( Pipiet Tri Noorastuti - VIVAnews )
Langganan:
Postingan (Atom)