Senin, 20 Desember 2010

Bhaktityaga: Ujian Bagi Dharmawangsa

Bhaktityaga:
Ujian Bagi Dharmawangsa
Oleh : Sudha Adnyana, Karangasem
Dharmawangsa diuji? Demikianlah tersurat dalam Swarga-rohana parwa, kitab ke-18 atau terakhir dari Mahabharata. Ujian maha berat, karena menyangkut sebuah pandangan atau keyakinan. Di dalamnya terkandung ajaran rohani yang patut dihayati.

Bhaktityaga:
Ujian Bagi Dharmawangsa
Oleh : Sudha Adnyana, Karangasem

Dharmawangsa diuji? Demikianlah tersurat dalam Swarga-rohana parwa, kitab ke-18 atau terakhir dari Mahabharata. Ujian maha berat, karena menyangkut sebuah pandangan atau keyakinan. Di dalamnya terkandung ajaran rohani yang patut dihayati.

Kitab Swargarohana parwa memang memuat cerita yang mengusik renungan kita. Misalnya kisah para Korawa di Sorga, sementara keluarga Pandawa di Neraka, sampai pada dengan kedatangan Sang Dharmawangsa menyebabkan Neraka menjadi Sorga.

Dhrmawangsa memang menjadi tokoh utama di sini, oleh karenanya kita patut memberikan perhatian khusus kepada Penegak kebenaran ini. Kepergiannya ke Sorga memang tidak seorang diri, ia diiringi oleh seekor anjing yang setia. Setelah meninggal adik-adiknya dan Drupadi, Dharmawangsa melanjutkan perjalanannya mendaki gunung Kailasa. Di perjalanan turunlah Bhatara Indra seraya menyapanya: “Hai anakku Sang Dharmawangsa janganlah ananda bersedih atas kematian adik-adikmu, seperti itu memang yang ditemui oleh manusia. Berbeda dengan dirimu yang dapat masuk surga bersama badanmu, karena Ananda melaksanakan Dharmajnana.”

Sang Dharmawangsa menjawab : “Wahai Dewa, sungguh besar anugerahmu kepada hamba, hamba menerimanya bila anjing yang setia mengiringi hamba ini turut juga masuk sorga, hamba tidak dapat meninggalkannya (saka ri tan wenang nghulun tuminggalakena ya).

Hyang Indra menjawab, “Maharaja Dharmawangsa, apa gunanya anjing itu turut ke sorga, karena ia kotor, ia akan dihentikan oleh para dewa. Janganlah Ananda menaruh kasihan kepadanya”.

Dewata yang mulia, hamba tidak dapat memotong rasa bhaktinya (bhaktityaga), lalu meninggalkannya, karena ia selalu setia mengikuti kemanapun hamba pergi. Orang yang bhaktityaga atau memotong rasa bhakti akan besar dosanya. Oleh karena itu hamba tak ingin meninggalkannya”. Dharmawangsa juga menjelaskan bahwa meninggalkan orang yang setia bhakti ketika ia masih hidup, sama halnya dengan membunuh seorang wanita yang bijaksana, juga membunuh brahmana, tidak menolong orang yang memerlukan pertolongan, karenanya ketika ia tidak patut ditinggalkan. “Hamba tidak akan menemui sorga kalau meninggalkannya”, demikian Sang Dharmawangsa.

Setelah mengucapkan hal itu, si anjing yang setia menghilang, dan hadirlah Sang Hyang Dharma lalu memeluk Sang Dharmawangsa. “Ananda Sang Dharmawangsa dua kali Ayahanda mengujimu. Dahulu tatkala Ayahanda mengujimu ketika ananda memilih Sang Sahadewa untuk dihidupkan di antara empat saudaramu yang meninggal dunia karena meminum air larangan, tampak sekali perbuatan dharmamu,” demikian Sang Hyang Dharma menjelaskan.

Jadi Sang Hyang Dharma telah menguji Sang Dharmawangsa dengan anjing yang setia. Sang Dharmawangsa benar-benar tidak ingin berpisah dengan anjing itu, sekalipun ia dapat masuk sorga tanpa anjing, Dharmawangsa tidak mau melakukan bhaktityaga, memotong kesetiaan, sekalipun dari seekor binatang dan itu adalah ujian yang kedua baginya Dharmawangsa, dan beliau dinyatakan lulus oleh Sang Hyang Dharma.

Ujian yang pertama adalah ketika Sahadewa , Nakula, Arjuna dan Bhima keempat adiknya itu meninggal karena meminum air danau di tengah hutan. Awalnya Sahadewa mendapat tugas mencari sumber air di tengah hutan, dalam masa pengasingan Panca Pandawa dan Drupadi di hutan. Ketika menemui sumber air Sang Sahadewa ingin meminumnya karena kehausan. Ada suara Yaksa yang menampakkan diri melarang Sang Sahadewa meminum air itu, namun Sang Sahadewa tidak menghiraukannya. Setelah meminum air itu Sang Sahadewapun meninggal dunia. Selanjutnya datanglah Sang Nakula, kesatriya pandawa menemui nasib yang sama. Demikian juga halnya Sang Arjuna dan Sang Bhima yang datang belakangan. Mengetahui ke empat saudaranya tewas setelah meminum air danau itu, tentu saja Sang Dharmawangsa kebingungan. Pada saat seperti itu terdengarlah sabda yang meminta Sang Dharmawangsa mengajukan permohonan : siapa di antara empat orang adiknya itu untuk dihidupkan. Inilah ujian yang sangat sulit, yang hanya dapat dijawab oleh seorang yang benar-benar menegakkan Dharma. Ada alasan mengapa Sang Dharmawangsa memilih Sang Sahadewa untuk dihidupkan, bukannya Bhima atau Arjuna yang kuat dan sakti itu. Sahadewa adalah putra Dewa Madri sedangkan dirinya adalah putra Dewi Kunti. Dengan demikian ada salah seorang putra Dewi Madri yang hidup bukan hanya putra Dewi Kunti.

Begitulah Sang Dharmawangsa menegakkan kebenaran dan keadilan. Suatu sikap yang perlu dicontoh oleh setiap pemimpin. Sang Hyang Dharma telah memberi ujian yang begitu berat kepada Sang Dharmawangsa, dan beliau lulus. Ujian yang menyangkut kualitas pikiran. Hanya orang seperti itu yang dapat kembali ke sorga bersama badan wadag-nya (matangyang muliha ring swarga lawan sariranta).

Demikian kisah perjalanan Sang Dharmawangsa, sebuah kisah perjalanan yang penuh nilai spiritual. Ada pergulatan pikiran dan perasaan, ada perenungan yang mendalam disini. Terlebih lagi kita kaitkan dengan perjalanan beliau di Sorga selanjutnya.
‘Setelah tiba di Sorga, Sang Dharmawangsa langsung menanyakan dimana sanak saudaranya berada termasuk Dewi Drupadi. Sang Dharmawangsa tidak menemui mereka di Sorga. Kepada Bhatara Indra yang ada di sana beliau menanyakannya. “Dimanakah saudara hamba semua dan Drupadi berada? Tolong beritahukan hamba !”.

“Wahai Maharaja Dharmawangsa janganlah Ananda bingung tentang keberadaan saudaramu semua. Seorang raja tidak boleh berfikir seperti manusia ketika ia berada di Sorga, karena ia harus mengikuti hasil perbuatannya, karenanya mereka tak dapat disatukan dengan Ananda”. demikian jawab bhatara Indra.

Maharaja Dharmawangsa menegaskan: ”Tak patut orang seperti hamba menghilangkan rasa kasih kepada keluarga hamba dan Dewi Drupadi, karena kami harus bersatu sekalipun menemui penderitaan. Kesimpulannya hamba tidak bersedia berada di sorga ini apabila tidak bersama dengan saudara hamba dan Dewi Drupadi. Itulah permintaan hamba”. Betapa terkejutnya Hyang Indra mendengarkan jawaban tegas Sang Dharmawangsa seorang Maharaja yang memiliki kesetiaan yang begitu besar dengan saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi. Ikatan kasih dalam bersaudara dan berkelurga ditunjukkan disini tidak dalam kata-kata saja tetapi juga dalam tindakan.

Sang Dharmawangsa pun lalu meninggalkan sorga untuk mencari saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi. Temyata saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi berada di neraka. Setelah melewati perjalanan di kegelapan dan jalan yang begitu mengerikan ditemuilah tempat ke empat saudaranya bersama Dewi Drupadi. Tempat yang kotor, bau busuk dan lalat hijau menyerubungi, serta lintah berkeliaran. Atma yang sengsara berkumpul di sana sambil menjerit mengaduh menahan derita sakit. Sangat sulit menggambarkan suasana mereka yang mengerikan dan menjijikkan itu. Namun Sang Dharmawangsa sama sekali tidak terpengaruh oleh suasana itu.

Akhirnya bertemulah Sang Dharmawangsa dengan saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi di Yamanloka atau Neraka. Tidak lama setelah itu ternyata Neraka berubah menjadi Sorga, bau busuk berubah menjadi harum mewangi (mangkana tilang yamaniloka matemahan swarga mwang ikang durganda nguni matemahan juga ndakusuma).

Demikianlah perjalanan seorang yang memiliki kesetiaan yang tinggi, Sang Dharmawangsa. Beliau bersiap tinggal bersama di Neraka, sekalipun tempat yang mewah telah disiapkan bagi dirinya di Sorga. Dan tempat itu adalah haknya sehagai orang yang selama hidupnya menegakkan Dharma. Namun ditolaknya bila tidak bersarna-sama dengan saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi.

Sebelumnya Sang Dharmawangsa telah menunjukkan kesetiaannya kepada seekor anjing yang setia mengiringi sampai batas masuk sorga. Disini beliau menunjukkan kembali akan pentingnya melaksanakan nilai-nilai spiritual dan moral tentang tingginya nilai Satya itu. Tan Hana Dharma mangiwihane kesatyam. Tidak ada Dharma yang melebihi satya.

Dengan pegangan pokok seperti itu, Sang Dharmawangsa dapat melewati dan lulus atas ujian yang diberikan oleh Dewata atau Sang Hyang Dharma. Ujian mahaberat bagi kebanyakan orang tapi menjadi gampang bagi Sang Dharmawangsa yang telah dapat menguasai dirinya, menguasai rasa keakuan (egoisme dan egosentrisme), juga telah dapat mengalahkan musuh yang ada dalam dirinya.

Sungguh mencengangkan, atau mungkin mengherankan bagi kebanyakan orang mengapa seekor anjing menjadi begitu penting bagi Sang Dharmawangsa, Seorang Maharaja yang maha sakti namun senantiasa hadir dengan penuh kesederhanaan. Seekor anjing yang setia lebih penting bagi Sang Dharmawangsa daripada masuk sorga. Sorga bukan apa-apa dibandingkan dengan keagungan Satya. ini juga tampak ketika Sang Dharmawangsa memilih Neraka, untuk dapat mewujudkan Satya dengan saudara-saudaranya dan Drupadi.

Ya, Satyam eva jayate. Hanya Satya yang menang. Dengan demikian seorang Dharmawangsa senantiasa menjadi pemenang!. [WHD No. 516 Desember 2009].

Cinta dan Amarah Drupadi

Cinta dan Amarah Drupadi
Oleh : Luh Made Sutarini
Tak salah memang, bila semua itu bersumber dari pikiran, dan pikiranlah yang bertanggungjawab atas amarah, dan juga nafsu. Pikiran selalu begejolak. Bagian tersulit dalam hidup ini adalah memikirkannya, namun ada yang lebih masuk akal untuk mengalahkannya, yakni dengan mengerjakanrya. Sederhana saja, Bila kita berangkat dari Bandung ke Jakarta lewat puncak, pikiran terus bergejolak. Macet, belum lagi hujan, jalan berkelok dan bensin habis dan lain-lain. Tapi, jangan pikirkan itu kerjakanlah saja. Maka semua akan berakhir menggembirakan. Lambat dan rintangan dijalan adalah cara-cara Tuhan untuk mernbuat kita lulus ujian agar kita menjadi kuat.

Benar adanya, Sri Krishna bersabda dalam Gita, nafsu dan marah itu disebut analam, yang bermakna “api”. Ada bahaya terkena panasnya api walaupun api itu agak jauh dari diri kita. Bila api yang menyala di luar diri kita sudah sangat berbahaya, maka betapa lebih berbahaya kalau api itu berkobar-kohar dalam hati kita. Api hawa nafsu dan amarah ini mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa untuk menghancurkan seluruh kualitas kemanusiaan, api itu pula mampu dengan mudah memadamkan percikan ketuhanan yang ada dalam hati, sehingga hanya sifat setan yang muncul. Dalam koridor inilah Drupadi ingin disadarkan oleh Krishna dalam Kisah Mahabarata.

Ketika Yudistira menolak untuk berkata bohong tentang gajah Aswatama mati, semua kesal dan membujuk, dan Drupadi sangat marah, bahwa Drupadi khawatir sumpahnya bisa tidak terlaksana untuk membasahi rambutnya dengan sampoo dari darah Dusasana. Drupadi berteriak, geram. Krishna mendengar dan mendekati Drupadi, “Drupadi engkau tidak boleh marah sama mereka yang terlibat dalam perang ini. Engkau harus bijaksana melihat semua ini,” kata Krishna dengan lembut. “Jika engkau tidak mampu membujuk Yudistira, biarlah Aku yang akan merayunya.” Drupadi malu, lalu berkata, “Oh Kesawa, maafkan aku ini, cintaku yang tinggi pada Yudistira sering membuat aku salah tingkah, aku ingin tahu apa penyebabnya marah itu muncul?”

Krishna menjawab: “Selama berkali-kali kelahiran engkau telah terpikat oleh kecantikan dan dikuasai oleh keinginan serta amarah, hingga hawa nafsu ini telah mendarah daging, sehingga engkau dilahirkan kembali dan diuji untuk melakukan pengendalian. Jika engkau tidak sabar, maka engkau akan menjadi budak nafsu.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan Krishna,” tanya Drupadi penasaran. Krishna tersenyum, “Oh Drupadi, menghilangkan marah hanya dengan kata tidak akan berhasil, amarah tidak akan menyingkir, sifat-sifat negatif ini telah berurat berakar dalam darah dagingmu.”

Drupadi berkata, “Oh Madusudana, Aku merasakan bahwa mula-mula nafsu sangat menarik dan menyenangkan, karena dia hadir dengan seribu pesona. Lama kelamaan aku sering merasa muak, tetapi pada saat itu sudah sangat sulit bahkan sebenarnya hampir tidak mungkin aku menghilangkannya. Lalu apa yang paling baik aku lakukan Krishna?”

Krishna berkata yang paling baik engkau lakukan sejak semula adalah mengembangkan sikap tidak terpengaruh dan penyangkalan diri sebagai bagian dari sifatmu dan jangan memberi tempat atau mementingkan kainginan dan hawa nafsu. Jika engkau tidak mempunyai keikhlasan berkorban dan kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu, engkau tidak siap menerima rahmat Tuhan.

“Oh Krishna, aku baru menyadari, bahwa marah dan rahmat Tuhan ada hubungannya?”

“Ya,” sahut Krishna, “Pengendalian indera itu sangat penting. Dalam Yoga Sutra, dimunculkan perlunya pengendalian yang ketat atas kecenderungan pikiran untuk berlari ke segala jurusan mengikuti nafsu. Pikiran dan indera harus dikendalikan dan dibatasi, bahkan kebahagiaan yang melebihi batas dapat berbahaya. Segala sesuatu ada batasnya, ada batas-batas yang wajar. Begitu juga dengan matamu, ia berfungsi dengan baik sampai batas cahaya tertentu. Jika cahaya tidak terlalu terang, mata tidak dapat melihat dan akan rusak. Sama halnya dengan telinga, bunyi yang dapat didengar terbatas. Jika tingkat bunyi melebihi batas itu, misalnya di dekat pesawat udara, kereta api, atau pengeras suara, pendengaran akan terganggu.”

Krishna menambahkan, “Drupadi, engkau harus membatasi tingkah lakumu dan menempuh hidupmu dalam batas-batas yang telah ditetapkan. Hal ini juga dapat dinamakan disiplin. Disiplin sangat perlu untuk kemajuan hidup spiritual seseorang, tanpa disiplin, manusia tidak berbeda dengan binatang. Tetapi disiplin pun harus dilaksanakan dalam batas-batas tertentu; bahkan disiplin perlu diatur jika engkau ingin menikmati hidup. Engkau mengetahui, bahwa segala sesuatu ada batasnya, jika engkau tetap berada dalam batas-batas itu, engkau tidak akan mengalami kesulitan dalam hidupmu”.

Engkau harus memperhatikan dua musuh manusia yang mengerikan ini, yaitu kama dan krodha ‘nafsu’ dan ‘amanah’, dan berusahalah mengendalikan mereka. Musuh-rnusuh ini tidak berada di luar dirimu, melainkan ada dalam dirimu. Jika engkau dikalahkan oleh musuh dalam dirimu, bagaimana engkau berharap dapat mengalahkan musuh di luar dirimu? Tetapi jika engkau mampu menguasai musuh dalam dirimu, musuh-musuhmu yang lain dapat ditaklukkan dengan mudah. Bhagawad Gita mengajarkan bahwa nafsu dan amarah merupakan hambatan utama menuju pembebasan, karena itu penting sekali mereka harus dikuasai. Pada hari mendatang akan kita bicarakan musuh-musuh lain yang menghalangi jalanmu, seperti kedengkian dan kekikiran. [Raditya 155 – Juni 2010].

Memberikan, Mendamaikan, dan Menyembuhkan

Memberikan, Mendamaikan, dan Menyembuhkan
Gede Prama
Masalah, masalah, masalah, itulah keseharian manusia di bumi ini. Presiden AS Barack 0bama sudah dua kali batal datang ke Indonesia. Ini menunjukkan rumitnya kehidupan di sana. Dulu, krisis utang hanya menjadi cerita negara berkembang, sekarang Yunani mengalami krisis utang.

Negeri ini serupa. Reformasi yang diharapkan menyudahi banyak masalah malah menambah masalah. Dari tarik-menarik kepentingan yang rumit di tingkat atas sampai terbakarnya banyak orang oleh kompor gas di tingkat akar rumput.

Digabung menjadi satu, kerumitan hidup manusia meningkat di mana-mana. Mungkin karena rumitnya, Sheila McNamee dan kawan-kawan (1992) memberi judul karyanya Therapy as Social Construction.

Jalan keluar komprehensif tak pernah datang dari satu pihak saja. Kita perlu mengonstruksinya bersama-sama. Sayangnya, upaya ini yang sulit dilakukan.

Lem perekat
Dibandingkan dulu, nafsu manusia untuk selalu untung kini demikian besar. Jadilah masyarakat seperti permainan tarik tambang. Tempat-tempat manusia berkumpul yang dulu sejuk dengan saling memberi, sekarang dipenuhi pemburu keuntungan.

Seorang sahabat yang rajin meditasi di sejumlah tempat menceritakan, kian banyak manusia datang ke sebuah tempat, kian panas hawanya. Di Barat malah lebih menyentuh hati, tempat ibadah sebagian tidak saja kehabisan pengunjung, malah dijual.

Salah satu sisi kehidupan masyarakat tradisional yang layak diteladani adalah kegembiraan mereka dalam memberi. Itu sebabnya, Marcel Mauss (1990) memberi judul karyanya The Gift: The Form and Reason for Exchange in Archaicsocieties.

Dalam karya antropologi indah ini terlihat lem perekat yang menyatukan masyarakat tradisional adalah sukacita dalam memberi. Lebih dari itu, mereka berjumpa kedamaian dalam pemberian.

Banyak sekali sisi-sisi kehidupan kekinian di mana manusia bisa memberi. Dari berbagi senyuman, mendengarkan keluhan, memberi kesempatan dulu bagi orang yang buru-buru, memberi tempat duduk kepada orang tua di tempat publik, memegang pintu bila di belakang ada orang, menghormati pemimpin, menyayangi anak-anak panti asuhan atau orang tua di panti jompo, sampai mengalah sama anak-anak di rumah.

Syukur-syukur bisa ikut membimbing masyarakat menuju kebajikan.

Dan bagi siapa saja yang sudah terbiasa memberi akan mengerti, ketika memberi sejatinya manusia tidak hanya membantu, melainkan juga membangunkan sifat-sifat baik dalam diri. Bunda Theresa contoh yang teramat bercahaya.

Sementara manusia kebanyakan teramat sibuk memenuhi keuntungan diri sendiri, ia memperuntukkan seluruh hidupnya untuk orang lain. Dan terlihat jelas, tidak saja warga Kalkuta yang sempat dibantu yang menikmati hasilnya, hidup Bunda Theresa jadi monumen pemberian yang masih bercahaya sampai ribuan tahun ke depan.

Tidak banyak manusia terlahir sebercahaya Bunda Theresa, diberi kesempatan dikenal dunia. Namun, kita orang biasa bisa membuat perbedaan melalui tindakan kecil yang tak dikenal.

Dari mematikan keran air yang lupa dimatikan; mendonorkan darah; membersihkan kloset umum yang ditinggalkan petugasnya; memungut sampah yang dibuang sembarangan; menolak penggunaan tas plastik; mengurangi penggunaan sabun, sampo, dan tisu; memberi makan burung atau anjing liar; sampai memindahkan batu di jalan yang membahayakan pengendara lain.

Seorang guru yang rajin melakukan hal-hal seperti ini berpesan: ”Lihatlah alam. Dari bukit sejuk sampai bintang bercahaya di langit. Tidak ada hal lain yang dilakukan mereka terkecuali memberi. Hasilnya, tidak terdengar ada bukit yang bertengkar, tidak terdengar ada bintang yang mengeluh. Ujung-ujungnya, mereka damai.”

Ini memberi inspirasi tambahan, memberikan ternyata mendamaikan!

Keterhubungan
Lebih dari sekadar mendamaikan, pemberian mudah membuat manusia terhubung. Ia yang lama menyatu dalam keterhubungan, suatu waktu merasakan, ternyata semua makhluk terlahir agar kita tercerahkan.

Dalam salah satu dialog kosmis, ada yang berbisik: ”Ketika para makhluk menyakiti, sesungguhnya sedang mengajarkan kesabaran. Tatkala bersedih, sebenarnya sedang membangkitkan energi kasih sayang di dalam sini. Saat mereka berbahagia, menjadi ujian seberapa bahagia manusia bisa melihat orang lain bahagia. Manakala para makhluk melayani, manusia sedang melihat cermin kebaikan hatinya”.

Cermati alam sebagai wakil keterhubungan, ia menyediakan bahan-bahan pencerahan berlimpah. Pepohonan terus berbagi oksigen.

Hasilnya, sejuk dan teduh. Danau menyediakan diri sebagai tempat banyak makhluk bertumbuh. Ujung-ujungnya, terlalu banyak kehidupan yang merasakan kesejukan di danau.

Dalam terang pemahaman seperti ini, bisa dimaklumi ahli neurosains, Francisco Varela, menemukan istilah the biology of compassion. Kasih sayang juga menyembuhkan. Ini mirip dengan penelitian yang menyimpulkan manusia yang memiliki binatang peliharaan yang disayangi di rumah memiliki risiko terkena serangan jantung lebih kecil dibandingkan yang tidak. Ini memberi inspirasi, memberi juga menyembuhkan.

Dalam kebijaksanaan Timur, ruang digunakan sebagai simbol pencerahan. Batin tercerahkan, demikian pesan tetua, serupa ruang. Air tak bisa membuatnya basah, api tidak bisa membuatnya terbakar.

Ruang adalah simbol kasih sayang tak terbatas karena memberi tempat kepada apa saja dan siapa saja bertumbuh. Langkah terpenting, membuat batin tercerahkan seperti ruang adalah rajin memberikan karena memberi itu mendamaikan sekaligus menyembuhkan.

Gede Prama Penulis buku ”Sadness, Happiness, Blissfulness: Transforming Suffering Into the Ultimate Healing”. [KOMPAS - Sabtu, 28 Agustus 2010 | 04:51 WIB].

Pahala Anak Patuh kepada Orangtua

Tayornityam priyam kuryad
acaryasya ca sarvada
tesveva trisu tustesu
tapah sarvam samapyate
(Manawa Dharmasastra 11. 228)

Maksudnya: Seorang anak harus melakukan apa yang telah disetujui oleh kedua orangtuanya dan apa yang membahagiakan gurunya. Kalau ketiga orang itu dapat dibahagiakan, ia akan mendapatkan pahala mulia dari tapa bratanya.

DALAM melakukan apa saja, seyogianya seorang anak terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari ayah dan ibunya. Serta senantiasa melakukan sesuatu yang membahagiakan gurunya. Selama masih hidup, ayah dan ibu hendaknya didudukkan sebagai guru oleh anak-anaknya.
Dalam Vana Parwa 27. 214 disebutkan ibu dan ayah (Mata Pita) sebagai guru dalam proses pendidikan informal. Ibu dan ayahlah yang memelihara dan memberi pendidikan pertama. Dari pemeliharaan dan pendidikan awal itulah orang tumbuh menjadi manusia untuk terus menapaki liku-liku kehidupan di dunia ini.

Dalam Taiterya Upanisad ada dinyatakan Matri Dewa Bhawa Pitri Dewa Bawa. Maksudnya, ayah dan ibu itu disebut bagaikan Dewa dalam keluarga. Dewa dalam bahasa Sansekerta artinya sinar. Dewa itu adalah sinar yang memberikan manusia penerangan dalam menjalankan hidup ini. Ketika lahir dan ayah dan ibu itulah orang pada awalnya dapat melihat sinar di bumi. Awalnya, manusia dalam keadaan gelap dalam rahim ibu. Setelah dilahirkan oleh ibu ke dunia, barulah ia dapat melihat sinar matahari di bumi.

Sedangkan acarya adalah guru dalam pendidikan formal dan non-formal. Selanjutnya acarya-lah sebagai guru yang menuntun pikiran dan jiwa yang gelap menuju pikiran dan jiwa yang terang dan cerah. Dari tuntunan ibu, ayah dan acarya itulah seorang anak dapat memiliki widya, kemampuan wiweka. Dengan widya dan wiweka manusia dapat melakukan karma siksana dan dapat mengembangkan satsila. Dengan semuanya itu barulah hidup ini menjadi lebih cerah untuk melakukan dharma bhakti pada ibu pertiwi.

Widya adalah ilmu pengetahuan duniawi dan rohani. Wiweka adalah ilmu pengetahuan yang dapat memberikan manusia kemampuan untuk membeda-bedakan mana yang baik dan buruk, benar dan tidak benar, utama yang tidak utama, penting dan tidak penting, wajar dan tidak wajar, kekal dan tidak kekal, dan seterusnya. Dari kemampuan wiweka itulah manusia dapat memilih dengan tepat apa apa yang sepatutnya dilakukan dan apa pula yang tidak patut dilakukan.

Dengan widya dan wiweka manusia bisa memperbaiki perilakunya menuju perilaku yang makin benar dan baik serta wajar yang disebut karmasiksana. Artinya, kemampuan untuk menertibkan
perilaku menuju pada perilaku yang benar, baik, wajhr dan tepat. Perilaku benar, baik, wajar dan tepat yang makin menguat dan melembaga dalam din itulah yang dapat membentuk watak atau karakter yang mulia. Karakter atau watak yang mulia satsila. Sat artinya satya atau kebenaran dan sila artinya perilaku. Perilaku yang selalu ada pada rel kebenaran (satya) menjadi dasar untuk mengabdi pada tanah kelahiran ibu pertiwi.

Tiga Generasi
Pendidikan dari ibu ayah dan acarya tidak berhasil jika anak yang dibina tidak mau melakukan pengabdian pada tanah kelahirannya. Ibu, ayah dan acarya memiliki kewajiban membina generasi
yang utama. Ada tiga jenis generasi menurut Swami Satya Narayana yaitu adama, madyama dan utama. Generasi adama adalah generasi yang menggunakan warisan generasi sebelumnya untuk mendapatkan kebahagiaan hidup. Namun, warisan tersebut menjadi menurun dan berkurang kuantitas maupun kualitasnya. Generasi madyama adalah generasi yang menggunakan warisan leluhur tetapi warisan itu tidak berkurang maupun tidak bertambah. Generasi yang ideal adalah generasi utama yang menggunakan warisan orangtua atau leluhur, namun warisan itu tidak berkurang dan justeru makin bertambah dan berkembang kuantitas maupun kualitasnya.

Untuk membangun generasi utama tidak hanya menjadi tanggung-jawab ibu, ayah dan acarya saja. Tergantung juga kebijakan negara dalam menata alam lingkungan dan lingkungan sosial politik dan kebudayaan. Yang penting adalah kemauan si anak sebagai generasi penerus. Kalau ia terus berusaha untuk selalu berdialog dengan kedua orangtuanya dalam melangkah dalam berbagai hal, maka ia akan menemukan nilai tambah dalam berbagai kebijakannya. Artinya, dengan berdialog secara intensif dengan orangtua atau generasi sebelumnya, mereka akan dapat mengambil pengalaman berharga dari orangtuanya.

Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman yang jelek dari orangtua jangan sampai terulang. Sedangkan pengalaman yang baik, tepat dan benar harus dikembangkan dan setidak-tidaknya dipertahankan. Sebagaimana diajarkan dalam Manawa Dharmasastra. II. 228, seorang anak hendaknya melakukan apa yang telah disetujui oleh kedua orangtuanya. Hal ini akan membawa suatu dialog terus-menerus antara anak dan orangtua. Dialog akan terus berlangsung meskipun kedua orangtuanya telah menjadi dewa pitara yang berstana di Kemulan. taksu — dialog itu dapat dilakukan secara spiritual. ( Dimensi Balipost Minggu, 7 juni 2009.Pahala Anak Patuh kepada Orangtua :Drs. I Ketut Wiana, MAg.)

Musuh Yang Mengerikan

Musuh Yang Mengerikan
Sridam Brahmacari

Siapa pun tidak bersedia menerima usia tua dan melepaskan kemudaan? Nafsu birahi adalah penyakit yang ada dalam hati, hrdaya-roga. rang buta atau orang gila tidak akan mengerti. Ambilah pelajaran dan hal ini, jika kita serius untuk menempuh jalan bhakti dan membuat kemajuan, jauh dan menikmati hubungan seksual.

Walaupun kita terus memberikan kenikmatan kepada indera-indera material kita, tetapi indera material-material itu tidak akan pernah bisa dipuaskan. Jika kita menuangkan ghee ke dalam api yang berkobar, maka apinya tak akan pemah bisa dipadamkan. Sebaliknya, api itu akan semakin-semakin besar, semakin besar dan berkata, “Berikan aku ghee lagi, ghee lagi, ghee lagi”. Demikian juga jika kita memberikan kenikmatan kepada indera-indera material kita, maka indera-indera itu tidak akan pernah dipuaskan.

Sebuah pelajaran penting diberikan disini. Indera-indera akan meminta lagi, lagi, lagi. Jadi apakah yang harus dilakukan oleh orang bijaksana? Ia harus dengan sukarela berhenti untuk memuaskannya. Inilah kebijaksanaan, kecerdasan.

Dalam Bhagavad-gita, Sri Krsna, teman yang mengharapkan kesejahteraan kita: suhridam sarva-bhutanam memben kita pengetahuan gita-jnane, melalui Arjuna. Apakah yang Dia katakan dalam ayat terakhir dan bab tiga. Jahi satrum maha baho, Kama rupam durasadam (Bg. 3.43)

“Wahai Arjuna yang bergelar perkasa, orang harus menangkan pikiran dengan kecerdasan rohani yang bijaksana, kesadaran Krsna, dan dengan demikian dengan kekuatan rohani taklukkanlah musuh yang tidak pernah bisa dipuaskan ini yang bernama nafsu “Dwasadam, musuh yang hebat, musuh yang sangat kuat. Bagaimana kita bisa menaklukannya? Dengan cara mengembangkan kesadaran Krsna yang sempurna. Jika kita menjadi kuat secara rohani, maka kita akan bisa menaklukkan yang paling mengerikan yang bernama hawa nafsu ini. Di dunia material in semuanya terjangkit oleh penyakit ini. ini adalah penyakit dalam hati. Kita semua terjangkit oleh nafsu ini. Semuanya ingin menikmati, ingin menguasai alam material ini dan menikmatinya. Tetapi kita harus mengerti, bahwa keinginan terhadap kenikmatan material ini adalah musuh besar kita. Hubungan dengan indera-indera material mengakibatkan kesengsaraan. Mengejar kepuasan indera-indera adalah penyebab penderitaan kita. Tinggalkanlah kepuasan indera-indera ini dengan segera jika kita menginginkan ananda yang sejati, kebahagiaan yang sejati. Di antara segala jenis kebahagiaan dan kenikmatan material, kenikmatan seksual adalah yang tertinggi. Setiap orang setuju, bahwa kenikmatan seksual merupakan kenikmatan tertinggi. Maya, begitu menarik. Dia begitu kuat. Semua orang tertarik oleh nenek sihir dengan buruk, maya, dewi asmara material. Akibat ketertarikan inilah semua orang bekerja di dunia material. Jika tidak ada ketertarikan seperti itu, kita tidak akan bekerja di sini. Akan tetapi orang sadar akan Krsna sepenuhnya, seorang penyembah murni mampu bekerja selama dua puluh empat jam sehari tanpa lelah. Penyembah memiliki kekuatan rohani seperti itu. Ia bekerja tanpa tertarik oleh nenek sihir buruk, maya, dewi asmara material.

Keinsyafan diri dan kenikmatan hubungan seksual merupakan dua hal yang bertentangan. Jika kita terjangkit oleh nafsu ini dan berlari mengejar kenikmatan seksual, kita tidak akan bisa mencapai keinsyafan diri. Sama sekali tidak mungkin. Orang yang cerdas dan bijaksana, mereka akan mengerti hal ini. Jadi apa yang harus dilakukannya? Orang yang demikian tahu tujuan hidup, bagaimana mencapai keinsyafan diri. Jadi kita harus menolerir dan menaklukkan dorongan seksual. Dalam ajaran abadi upadesamrta, Rupa Gosvami mengatakan jihva-vegam, udaropastha-vegam, dorongan untuk berbicara, dorongan dari pikiran, dorongan dari amarah, dorongan dari lidah, perut dan alat kelamin. Enam jenis dorongan ini sedang menyeretmu.

Orang yang telah menaklukkan enam jenis dorongan ini adalah seorang guru kerohanian dan ia boleh menerima murid di seluruh dunia. Orang tidak boleh, hanya ia boleh memerintah seluruh dunia. Memerintah berarti ia boleh menerima murid dan menerapkan disiplin kepada mereka. Berdoalah kepada sadhu Vaisnava. Kita harus berdoa kepada Gopinatha, Tuhan Yang Maha Esa, dan juga harus berdoa kepada penyembah tercinta, sadhu Vaisnava yang telah menaklukkan hawa nafsu. Kita harus berdoa kepada seorang naisthika-brahmacari, brahmacari kelas utama yang telah berhasil mengalahkan hawa nafsu. Karenanya sangat diperlukan. Di dunia ini semua orang terjangkit oleh nafsu ini. Ini adalah halangan besar, tembok penghalang yang besar di jalan bhakti. Mereka yang terjangkit oleh hawa nafsu tidak akan bisa membuat kemajuan sedikit pun. Oleh karena itu mereka harus berlindung kepada brahmacari hebat Sanat-Kumara. Memohon karunianya, maka mereka akan mampu menaklukkan musuh yang paling mengerikan dalam bentuk hawa nafsu ini. Inilah ajaran yang diberikan oleh sadhu, sastra dan guru sadhu, sastra dan guru, semuanya memberikan ajaran ini. Orang yang sangat cerdas dan bijaksana, yang mengetahui tujuan hidup mengerti ajaran ini dan menerapkannya dalam kehidupan, dengan demikian ia akan mengalahkan musuh yang paling mengerikan dalam bentuk nafsu. Maka ia pasti akan membuat kemajuan pada jalan pelayanan bhakti ini. Jika tidak demikian maka hal itu adalah mustahil.

Ini adalah ajaran-ajaran alam Srimad-Bhagavatam. Kitab suci seperti itu memberikan begitu banyak ajaran kepada kita. Srimad-Bhagavatam adalah inkamasi dan Tuhan Yang Maha Esa, kawan yang paling mengharapkan kesejahteraan kita. Pururava berkata,”Aku tidak bisa mengatakan berapa kali matahari telah terbit dan tenggelam. Aku telah lupa sepenuhnya. Aku adalah penguasa dunia, tapi apa yang telah terjadi dengan diriku? Aku telah menggunakan badan ini seperti sebuah boneka di tangan seorang wanita. Aku melupakan segalanya. Pelupaanku ini sangat mengherankan sekali.” Jadi kamu lihatlah, seperti inilah akibatnya. Lagi, dalam Srimad-Bhagavatam (11.2.12):

Kim viyaya kim tapasa
Kim lyagena srutena va
Kim viviktena maunena
Stribhir yasya mano hrtam

Ini adalah kata-kata Pururava. Pikiran orang dicuri oleh wanita, yang mana pikiran seharusnya dicuri oleh Krsna. “Apa artinya pendidikan, tapasya, sannyasa, mendengarkan sastra dan tinggal di tempat sunyi dan tidak berbicara, kalau pikiran dicuri oleh wanita ?“ Orang-orang yang tergila-gila akan kenikmatan material, kenikmatan indria-indria ini barangkali menganggap dirinya sangat bijaksana dan terpelajar, tetapi bagaimana nasib mereka? Apakah mereka memiliki kebijaksanaan, pendidikan dan kecerdasan yang sejati? Tidak, mereka tidak baik daripada kerbau dan kedelai. Mereka adalah binatang- binatang yang tidak memiliki pengetahuan dan kecerdasan.

Jika orang tidak mendapatkan krpa-karunia, dan sadhu-guru ia tidak akan bisa mengerti kenyataan ini. Atas karunia dan sadhu orang akan bisa mengerti. Hal ini akan diungkapkan kepadanya “Saya adalah seorang manusia. Saya memiliki jenis kecerdasan yang lebih tinggi. Saya bisa mengembangkannya sampai tingkat tertinggi-kesadaran Kresna yang sempurna, dan mendapatkan Krsna. Apa yang sedang saya lakukan sekarang, dijerat oleh nafsu birahi yang sangat kuat? Saya melupakan segala sesuatu yang baik yang saya miliki. Saya benar-benar gila dan buta. Saya telah menjadi budak nafsu. Yang seharusnya menjadi Krsna-dasa tetapi saya telah menjadi kama-kinara, menjadi budak nafsu.”

Mereka yang telah menjadi budak nafsu harus mengambil pelajaran dan peristiwa in Bagaimanakah nasib mereka. Apa yang telah mereka dapatkan? Belajarlah dan apa yang diajarkan oleh Bhagavatam. Kamu sudah menikah, kamu sudah ditendang. Sekarang kamu berpikir, “Aku akan kawin lagi.”Orang yang betul-betul tidak tahu malu! Terserang oleh musuh yang paling mengerikan ini kamu persis seperti sebuah wayang golek di tangan seorang wanita. Kamu harus memahami hal ini, dengan serius. Berpikirlah bagaimana caranya menaklukkan musuh yang mengerikan ini yang bernama nafsu. Sastra memberikan ajaran tentang bagaimana caranya menaklukkan nafsu ini.” Dalam Srimad-bhagavatam 11.26.15. Pumrava sadar kembali dan berkata seperti ini:

Pumscalyapahtram cittam
Ko nv anyo mocitum prabhuh
Atmaramesvaram rte
Bhagavatam adhoksajam

“Siapakah yang akan menolongku. Aku orang yang begitu bodoh, seekor cacing di dalam kotoran. Karena aku telah menjadi budak nafsu aku telah menjadi sebuah boneka di tangan seorang wanita, seorang pekerja seks dan surga dan aku sepenuhnya telah melupakan svarupa-ku. Jadi siapakah yang akan menolongku sekarang, untuk melepaskanku dan jerat pekerja seks dan surga itu. Pikiranku sepenuhnya terpikat oleh rvasi”.

Pururava mengatakan, “Siapakah di dunia ini yang bisa melepaskanku dan jerat ini, siapakah yang bisa membebaskan pikiranku dari pekerja seks dari surga ini. Hanya Bhagavad, Adhoksaja, Atmarama-Isravara-Isvara (penguasa) dan para atmarama-purusa. Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Hari, yang bisa membebaskan pikiranku dan nafsu birahi ini. Aku tidak bisa melihat orang lain di dunia ini yang bisa. Oleh karena itu, mulai detik ini aku akan menyibukkan diri dalam bhajana Sri Hari dan melepaskan semuanya. Mereka, orang-orang materialistis, yang belum menaklukkan pikiran dan indria-indria mereka, para go-dasa-mereka para budak indria-indria, harus mengerti hal ini. Mereka sangat lemah, mereka tidak memiliki kekuatan. Mereka selalu membiarkan diri mereka berada di atas pangkuan nenek sihir maya, ranjang maya. Selain pelayanan bhakti dan hari-bhajana, tidak ada cara lain untuk menaklukkan musuh ini. Orang harus mengembangkan keinginan yang kuat, mengembangkan kelobaan-bagaimana caranya bergaul dengan pada sadhu, yang selama dua puluh empat jam, siang dan malam, sepenuhnya sadar akan Krsna, sibuk dalam hari-bhajana.( Raditya 144 - Juli 2009. )

Swadharma dan Paradharma

reyan wã-dharma wigunah paradharmat swanusthitat,
Swa-dharme nidhanam sreyah paradharma bhayãwahah

Lebih baik melakukan dharmanya sendiri walaupun tidak sempurna dan pada melaksanakan dharma orang lain walaupun dikerjakan dengan sempurna. Lebih baik mati dalam menyelesaikan dharmanya sendiri dari pada mengikuti dharma orang lain yang berbahaya. (Maswinara, 1997: 181-182).

Swadharma dan Paradharma
Oleh : I Ketut Subagiasta (Guru Besar IHDN Denpasar)

reyan wã-dharma wigunah paradharmat swanusthitat,
Swa-dharme nidhanam sreyah paradharma bhayãwahah

Lebih baik melakukan dharmanya sendiri walaupun tidak sempurna dan pada melaksanakan dharma orang lain walaupun dikerjakan dengan sempurna. Lebih baik mati dalam menyelesaikan dharmanya sendiri dari pada mengikuti dharma orang lain yang berbahaya. (Maswinara, 1997: 181-182).

Istilah swadharma dan para-dharma sudah sangat sering didengar, dibicarakan, dipraktekkan, dan dijadikan bahan kajian oleh para sedharma di tanah air Indonesia. Ternyata istilah ini begitu pas dan relevan bagi umat Hindu yang merupakan ajaran suci tersurat dalam pustaka suci Bhagawadgita sebagaimana telah disitir di depan. Kata swadharma dan paradharma berasal dari bahasa Sansekerta, yakni dari kata swa, para dan dharma. Kata swa artinya sendiri, diri sendiri, aku, orang-orang dan golongan sendiri, teman. Kata para artinya lebih jauh, kemudian, masa lalu, amat, tertinggi, mulia, lain. Kata dharma artinya lembaga, adat, kebiasaan, aturan, kewajiban, moral yang baik, pekerjaan yang baik, kebenaran, hukum, keadilan. Kata swadharma artinya kebenaran sendiri, kewajiban sendiri. Sedangkan paradharma artinya aturan atau kewajiban orang lain atau kasta lain.

Menyimak dan beberapa pengertian swadharma dan pradharma sesuai Sabdakosa Sansekerta tersebut, maka dapat ditegaskan bahwa maksud dan istilah dalam ajaran swadharma dan paradharma adalah kewajiban diri sendiri, kebenaran diri sendiri ataupun hal lainnya yang terkait dengan konteks diri sendiri, terutama dalam hal kewajiban ataupun hal terkait dengan kebenaran atau aturan. Begitu juga istilah dalam ajaran paradharma sudah jelas yang berkaitan dengan yang lain, orang lain, masyarakat pada umumnya, di sekitar kita, dan sebagainya. Jadi paradharma adalah kewajiban orang lain, atau kewajiban terhadap orang lain, kewajiban terhadap publik atau pelayanan publik (public service), kewajiban untuk kebersamaan sebagai tanggung jawab bersama, dan juga kebenaran untuk bersama-sama. Dalam hal ini sangat relevan dengan konteks asas musyawarah menuju mufakat yang mengutamakan kebersamaan dan persetujuan bersama ke arah kebaikan, kebenaran, kebajikan, kemuliaan, dan menuju kerahayuan bersama.

Makna-makna mulia dan ajaran swadharma dan paradharma sebagaimana ada diajarkan dalam kutipan sloka pustaka suci Bhagawadgita di atas, menyiratkan makna suci, bahwa umat Hindu dimanapun mereka berada, ya di Bali, di Sasak, di Sunda, di Batak, di Toraja, di Bugis, di Madura, di Dayak, di Minahasa, di Tapanuli, di Papua, di Ternate, di Minang, di Karo, di Melayu, di Tibet, di Suriname, di Bharatavarsa, di Fidji, di Afrika, di Eropa, dan sebagainya tentu telah sadar sesadarsadarnya bahwa mereka ada dalam tatanan komunitas Hindu yang sangat universal dalam era global ini telah memaknai pula dan ajaran swadharma dan paradharma yang bersifat universal pula. Tentu telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada masing-masing daerah dengan tidak mengabaikan kekuatan, kemampuan, pelaksanaan, dan penerapan ajaran agama Hindu oleh umat setempat berdasarkan kondisi local genius atau drsta atau sima masing-masing. Dengan memaknai nilai ajaran swadharma dan paradharma memberikan peluang dan membuka cakrawala pandang terutama melalui proses berpikir, berwacana, dan berlaksana yang arif dan bijaksana oleh segenap sedharma di berbagai lapisan dunia ini. Tidak ada kesan munculnya diskriminasi, saling menjelekkan, bahwa ini bagus, ini benar, itu jelek, itu salah. Dalam penerapan ajaran agama Hindu, bahwa image seperti itu jangan sampai muncul sama sekali. Hindu sangat berpantang untuk saling ejek, saling jatuhkan, dan saling mengkulturkan diri sendiri tanpa menghormati yang iainnya. Ingan nilai ajaran swadharma dan paradharma bahwa sang diri perlu dihormati, maka dengan jalan menghormati yang lain, secara otomatis akan terjadi sinergi atau terjadi suasana kebersamaan antara yang satu dengan yang lainnya.

Nilai ajaran swadharma dan paradharma mengandung nilai ajaran yang sangat universal dan mcnggelobal di era kesejagatan ini yang serba canggih dan akurat. Dalam kutipan sloka suci di atas telah ditegaskan bahwa melakukan sesuatu yang terbaik, termulia, terhormat, terbijaksana dimulai dan diri sendiri yang pada akhirnya untuk dipersembahkan selain untuk diri sendiri tetapi juga untuk pihak lain, orang lain, warga lain, sesama lain, suku lain, adat lain, negara lain, bangsa lain dan sebagainya. Sama halnya bangsa Indonesia ini melakukan sesuatu yang berguna bagi bangsanya sendiri, tentu bagi amatan bangsa lain di dunia ini akan membenikan dampak yang baik pula bagi bangsa Indonesia. Sebaliknya jika bangsa Indonesia selalu membuat citra yang kurang baik bagi bangsanya, maka sangat pasti akan disoroti oleh kalangan luas, bahwa kondisi Indonesia yang kurang kondusif dan tidak layak untuk dikunjungi. Hal ini sepertinya akan membuat petaka sendiri jika teijadi hal seperti itu. Begitu pula dalam pandangan tentang kehidupan beragama Hindu yang terjadi di Bali, bahwa tidak semata hanya mengunggulkan kondisi Bali saja, masih banyak umat Hindu yang membutuhkan pelayanan yang lebih intensif dan kondusif secara rutin dan terbaik seperti yang teijadi di Bali. Umat Hindu manapun di Indonesia pasti membutuhkan sistem, pola, upaya, usaha, aset, pelayanan, dan sejenisnya dengan perlakuan yang sama seperti saudaranya yang ada di Bali. Masih ada ümat Hindu yang tencecer di lembah Baliyem Papua, di Merauke, di Minahasa, di Kotamabagu, di Domuga, di Batak, di Karo, di Minang, di Sasak, dan sebagainya yang sangat mendambakan perhatian besar dan serius, agar mereka dapat menunaikan swadharma dan paradharmanya dengan baik dan penuh simpati.

Saudara-saudara kita di luar Bali sebagai sedharma yang masih mencintai ajaran suci Hindu berupa Veda dan dengan drstha atau silnanya masingmasing, masih sangat mencambakan pola pencerahan rohani dan pelayanan bidang keagamaan Hindu secara adil dan menata tanpa diabaikan hak-hak mereka yang tidak sama dengan saudaranya yang ada di Bali. Itu artinya umat Hindu yang ada di luar Bali s.ang ingin untuk dapat menja1ankn swadharmanya dan paradharmanya dengan baik inteksif, kreatif, terhormat, terlayani, dan mendapat perlakuan yang setimpal dengan yang lainnya. Bagaimana akhirnya mereka dapat melakukan kewajiban diri sendiri dengan baik atau paling tidak dengan memadai, tetapi dalam perhatian masih sangat kurang, dan nyaris sangat kecil. Mungkinkah mereka akan berkembang dan berkembang menjadi umat Hindu yang militan, atau sebaliknya menjadi umat Hindu yang bersiap-siap untuk meninggalkan tempat sucinya, meninggalkan pustaka sucinya, meninggalkan orang sucinya, dan meninggalkan yang lainnya, yang siap-siap untuk dijadikan benda peninggalan purbakala oleh bangsa ini, yang akhirnya tidak dapat berfungsi sebagaimana layaknya sebuah dinamika kehidupan beragama Hindu secara utuh.
Sekali lagi, bahwa nilai ajaran agama Hindu berupa ajaran swadharma dan paradharma sangat penting dimaknai oleh kita sekalian dalam upaya untuk mengembangkan tata kehidupan beragama Hindu dengan baik dan kondusif di tanah air. Sesederhana apapun hasil kerja sendiri pasti disumbangkan kepada umat Hindu kita yang lain di manapun mereka berada. Sebaliknya, bagaimanapun baiknya tatanan umat lain yang telah berkembang di Indonesia teutu patut dicontoh dan diteladani. Mengapa mereka bisa berkembang sesuai dengan swadharmanya? Mengapa juga kita di umat Hindu juga mestinya dapat berkembang mengikuti perkembangan secara alami dan akademis dengan umat lain di Indonesia. Artinya bahwa umat Hindu yang memiliki nilai ajaran swadharma dari paradharma, diharapkan
akan semakin eksis di masa depan, tentu dengan memaknai dan mengamalkan ajaran swadharma dan paradharma itu sendiri. Satu catatan penting bagi umat Hindu Indonesia dewasa ini adalah perlunya selektif dalam menimba model yang dilakukan oleh umat lamnnya di Indonesia.

Dalam Hindu telah memiliki cara (marga), ukuran (pramana), tujuan (artha), karakter (guna), pola kehidupan (ashrama), persembahan (yajna), keyakinan (sraddha), keluhuran dan kemuliaan (paramita), intelek (buddhi), keharmonisan (sundaram) dan sebagainya, sebagai pola anutan untuk mengembangkan percaya diri dan untuk dapat dikembangkan lagi guna dapat tampil percaya diri dihadapan publik di manapun mereka berada. Umat Hindu tidak perlu merasa kecil, rendah dalam penampilan, minoritas, pemalu, rendah diri, tidak berharga, tidak berperan, tetapi sebaliknya dengan nilai ajaran szvadharina dan varadharma dihanapkan umat hindu menjadi semakin tampil percaya diri, semakin mantap dalam rnenj alankan ajaran agama Hindu sendiri, serta semakin benperan aktif dalam mengisi pembangunan nasional di Indonesia. Tidak saja itu bahwa umat Hindu tergolong besan di dunia, tidak sedikit umat Hindu di berbagai negana di luar negeri. Umat Hindu mesti membuka cakrawala pandang secara luas dan lebar. Timba pengalaman urnat I hindu di lain negana, timba kemajuan umat Hindu di lain daerah di Indonesia. Tidak sedikit urnat Hindu di luar daerah yang telah berhasil menjalankan swadharma dan paradharmanya dengan baik dan benar, sehingga umat Hindu mendapatkan porsi yang mulia di hati umat lainnya yang tergolong heterogen. Itu artinya bahwa umat Hindu di Bali jangan berpikiran sempit dan picik hanya ingin melihat Bali saja tanpa mau melihat saudaranya di luar Bali. Daerah Parigi sangat banyak umat Hindu, di daerah Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara juga sangat banyak umat Hindu, dan di daerah Dayak lagi begitu meriah kehadiran umat Hindu, di Metro – Lampung juga tergolong mantap keberadaan umat Hindu, umat Hindu di Medan, dsbnya. Mari maknai nilai ajaran suci tentang swadharma dan paradharma demi dinamika umat Hindu Indonesia. Perlu adanya kerjasama, koordinasi dan perhatian serius dari semua komponen Hindu Indonesia, agar Hindu menjadi dinamis dan kondusif ke depan. ( WHD NO. 511 Juli 2009.Oleh : I Ketut Subagiasta (Guru Besar IHDN Denpasar))

Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain

Paropakaranam yesam
jagarti hrdaye satam
nasyanti vipadas tesam
sampadah syuh pade pade
(Canakya Nitisastra, XVII. 15)

Maksudnya: Dia yang senantiasa memikirkan untuk mengupayakan kepentingan dan kebahagiaan orang lain, segala kesulitan akan terhindari dan ia akan mendapatkan keberuntungan dalam setiap usahanya.

Dimensi – Balipost Minggu, 21 Pebruari 2010.
Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain
Oleh I Ketut Wiana

Paropakaranam yesam
jagarti hrdaye satam
nasyanti vipadas tesam
sampadah syuh pade pade
(Canakya Nitisastra, XVII. 15)

Maksudnya: Dia yang senantiasa memikirkan untuk mengupayakan kepentingan dan kebahagiaan orang lain, segala kesulitan akan terhindari dan ia akan mendapatkan keberuntungan dalam setiap usahanya.

HIDUP untuk mengabdi pada orang lain (para upakara) sesungguhnya bukanlah suatu pengorbanan yang siasia. Dalam mengabdi untuk memperjuangkan kepentingan demi kebahagiaan orang lain sesungguhnya kita membuka pintu untuk menerima karunia Tuhan.

Umat manusia diciptakan oleh Tuhan tidak semata-mata sebagai makhluk individu, tetapi sekaligus sebagai makhluk sosial. Artinya, manusia baru bias hidup normal sebagai manusia jika hidup bersama dengan manusia lainnya dalam suatu masyarakat. Ini artinya, ciri-ciri kemanusiaan itu akan muncul jika manusia itu hidup bersama dengan sesamanya. Hidup bersama dengan sesama manusia dalam suatu masyarakat akan membahagiakan apabila dalam kebersamaan itu untuk saling mengabdi.

Hakikat manusia adalah sama dan berbeda. Memang tidak ada manusia yang persia sama dengan manusia lainnya. Dalam diri manusia ada perbedaan satu dengan yang lain.
Perbedaan yang ada saling lengkap melengkapi dan ada yang saling bertentangan. Adanya anggota masyarakat miskin atau bodoh sesungguhnya sebagai media untuk mengamalkan ajaran agama.

Memikirkan danterus mengupayakan mereka yang miskin, bodoh, sakit dan sejenisnya untuk meningkatkan taraf hidupnya adalah suatu wujud pengamalan biâjip beragama menurut pandangan agama Hindu.

Sloka Canakya Nitisastra yang dikutip di awal tulisan ini seyogyanya direnungkan lebih dalam bagi mereka yang bekerja dalam pelayanan publik. SDM yang bekerja dalam pelayanan publik seyogyanya mengecamkan dalam-dalam makna pelayanan kepada mereka yang menderita, seperti pelayanan di tempat-tempat pelayanan kesehatan. Mereka yang membutuhkan bantuan dalam urusan birokrasi sering mendapat berbagai kesulitan karena SDM di birokrasi itu tidak memiliki wawasan pelayan.

Di dalam birokrasi ada semacam pameo “sepanjang bisa dipersulit, mengapa dipermudah”. Dalam hal inilah banyak masyarakat yang berurusan dengan birokrasi menjadi jengkel dan kecewa karena dipersulit oleh oknum yang masih banyak bercokol di birokrasi pemerintahan. Banyak pihak sampai frustrasi karena rumitnya urusan birokrasi pemerintahan. Apalagi yang menyangkut urusan keuangan, kepegawaian, izin-izin dll. Bahkan yang mau bayar pajak pun bisa dibuat bertele-tele melalui birokrasi.

Namun, dewasa ini memang sudah semakin disadari sehingga urusan birokrasi pelayanan publik sedikit demi sedikit sudah ada yang berubah. Sudah ada SDM yang berpandangan bahwa melayani orang lain itu adalah suatu wujud pengamalan ajaran agama. Umat Hindu di India memiliki suatu kristal Subha Situ yaitu suatu kata-kata bijak yang dimunculkan dari ajaran Weda, Dharmasastra Itihasa dan Purana.

Salah satu isi Purana menurut keyakinan Hindu dinyatakan dalam Subha Sita sbb.:
“Paropakarah punyaya papayaparapidana”, artinya: siapa pun yang hidupnya untuk melayani orang lain (para upakara) akan mendapatkan punya, siapa pun yang menyakiti orang lain (para pidana) akan mendapatkan papa. Punya itu artinya kemuliaan, kebaikan atau kesejahteraan, sedangkan papa artinya kejahatan atau juga kesengsaraan.

Purana itu disebarkan kepada umat dengan tujuan memotivasi agar umat senantiasa melakukan pelayanan kepada sesama yang membutuhkan pelayanan. Pelayanan kepada sesama itu sebagai wujud pengamalan ajaran agama. Pengamalan agama bukan melakukan sembahyang dan upacara yadnya semata. Bekerja dalam pelayanan publik dengan sikap spiritual seperti yang diajarkan dalam sloka Canakya Nitisastra di atas memiliki nilai yang utama sebagai wujud pengamalan agama.

Dalam Rg.Veda X.117.3 ada juga dinyatakan bahwa “Dia yang tidak picik dengan kemurahan hati memberikan derma berupa harta (dana punya) maupun jasa kepada mereka yang sedang susah maupun miskin, mereka akan memperoleh harta dan jasa seandainya ada bencana yang menimpanya. Mereka juga akan memiliki banyak sahabat untuk membantu mereka dalam menghindari kesengsaraan.

SDM Hindu hendaknya meyakini makna sloka Canakya Nitisastra, Subha Situ Purana dan Mantra Rg.Veda itu, bahwa nilai bekerja dengan sikap melayani orang susah amat utama seperti melakukan sembahyang dan melangsungkan upacara yadnya. Sesungguhnya, substansi sembahyang dan melangsungkan upacara yadnya adalah untuk menanamkan nilai-nilai pelayanan ke dalam lubuk hati umat agar selanjutnya mereka hidup untuk saling melayani, tolong menolong dengan tulus ikhlas pada sesama.

Melakukan sembahyang, upacara yadnya, meditasi dan berbagai kegiatan beragama hendaknya dijadikan media untuk menguatkan motivasi umat untuk hidup melayani dan menolong pihak yang menderita dan butuh pertolongan. Dorongan untuk memotivasi umat membangun sikap pelayanan sebagai wujud pengamalan ajaran agama perlu ditanamkan kepada umat lewat media sembahyang, upacara yadnya maupun kegiatan keagamaan lainnya yang umumnya merupakan kegiatan formal.( Dimensi – Balipost Minggu, 21 Pebruari 2010.
Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain
Oleh I Ketut Wiana )