Senin, 20 Desember 2010

Bicara Keburukan Orang Adalah Meditasi

Mutiara Weda – NusaBali, Rabu 29 Juli 2009.
Bicara Keburukan Orang Adalah Meditasi
Oleh : I Gede Suwantana

Kimcijjñair yâ ámrtâ üuddhih sa üuddhih uambhudaruane
Na uucir hy auucis tasmân-nirvikalpah sukhibhavet
(Vijñânabhairava, 123)

Kemurnian yang dipahami oleh masyarakat umum dengan pengertian yang sangat térbatas di dalam paham Saiva, sesungguhnya dinyatakan sebagai ketidakmurnian. Tidak bisa disebut kemurnian tetapi hanya ketidakmurnian. karena itu hanya orang yang telah bebas dan vikalpa-lah yang mencapai kebahagiaan.

Ini adalah salah satu teknik meditasi dalam Tantra. Kalau concern kita pada nirvikalpah sukhi bhavet, ‘hanya orang yang telah bebas dari vikalpa yang mencapai kebahagiaan,’ maka hanya orang-orang tertentu saja yang mampu mencapainya. Vikalpa artinya dikotomi kontruksi pikiran. Jarang sekali orang yang mampu melepaskan dualitas atau dikotomi ini, seperti baik-buruk, panas dingin dan lain sebagainya. Hampir semua dan kita masih sangat terbelenggu dalam baik dan buruk dan kalau dilihat di dalam masyarakat sendiri, hanya inilah yang diperdebatkan. Ideal yang ingin dicapai adalah kebaikan dan menghilangkan keburukan.

Bagaimana sloka ini menjadi teknik meditasi di dalam masyarakat? Mari kita analisa pernyataan ini dengan realitas di masyarakat. Eksistensi masyarakat, karena masih berkutat pada dualitas, maka menurut paham Saiva adalah ketidakmurnian itu sendiri. Paham ini lebih mengarah pada individu, yakni hanya dia yang mampu mengatasi dualitaslah yang disebut murni (suddhih). Kemudian, kenyataan dialektika di lapangan yang dapat kita lihat adalah masyarakat berusaha mencapai kebaikan. Mari kita nyatakan bahwa kebaikan dan kemurnian ni sejalan, meskipun maknanya berbeda. Ketidakmurnian dan keburukan adalah lawannya. Dimana kita melihat indikasi ini (bahwa masyarakat menginginkan kebaikan)? Buktinya, setiap orang bisa membicarakan keburukan orang lain. Siapapun yang bisa membicarakan keburukan orang lain berarti dia lebih baik dari mereka yang dibicarakan (sebab logikanya dalam bersih kita bisa melihat kotor. Bersih eksis karena kotor juga eksis. Setiap orang menginginkan baik seperti dirinya.

Dari analisa ini dapat kita nyatakan bahwa “kemurnian orang lain adalah ketidakmurnian bagi diri kita atau kebaikan orang lain adalah keburukan bagi kita.” Mengapa? Sebab orang lain tidak murni atau baik seperti kita. Oleh karena itu sangat wajar kalau di masyarakat setiap orang membicarakan keburukan orang lain dan meninggikan dirinya sendiri. “Menggosipkan orang lain adalah bentuk meditasi”. Bagi masyarakat umum mereka bermeditasi dengan gossip. Untuk duduk hening mereka tidak ada waktu, namun dengan gossip, mereka bisa duduk berjam-jam. Mereka nyaman dan bahagia dengan cara ini. Memang, tujuan meditasi adalah mencapai kebahagiaan seperti sloka di atas. Karena dengan cara ini mereka bahagia, maka mereka tidak mau lepas dari gossip, membicarakan keburukan orang lain dan menginginkan orang lain seperti kebaikan ideal yang ada pada dirinya.

Namun ada beberapa orang yang merealisasikan melalui meditasi ini bahwa jika orang lain diluar diri kita adalah tidak murni atau buruk (makanya kita gosipkan), maka orang lain pun memandang diri kita buruk, sebab standpoint-nya adalah dini individu masing-masing. Orang yang mampu merealisasikan ini melihat bahwa dirinya pun buruk di mata orang lain (sepanjang pernyataan ini kita concern). Karena demikian, ia tidak bisa lagi membicarakan keburukan orang lain, sebab dia sadar bahwa dirinya sendiri juga buruk bagi orang lain. Ia tidak bisa menjelekkan karena sama-sama jelek. Ia tidak lagi bisa menggosip. Di masyarakat orang seperti ini dianggap gila, orang aneh, sebab tidak bisa mengatakan kejelekan orang lain lagi. Dia berbalik, dia akan selalu melihat kejelekkan dirinya dan melihat kebaikan orang lain. Masyarakat menyatakan orang seperti ini telah lepas dari lingkungan yang “meditative.” Masyarakat selalu berada dalam keadaan “meditative”. Maka kesimpulannya adalah untuk tetap berada dalam kondisi “meditative,” selalulah membicarakan kejelekan orang lain! menggosip. Penulis, Direktur Indra Udayana Institute of Vedanta.

Gede Prama Berterimakasihlah pada Orang yang Mencaci Anda

Gede Prama Berterimakasihlah pada Orang yang Mencaci Anda
Senin, 24-August-2009,

ISTRI kerap menjadi sasaran kekesalan suami. Kesalahan sedikit saja, kadang akan dibesar-besarkan. Jika terjadi perlakuan demikian istri diharapkan tetap menanggapinya dengan kelembutan. “Berterimakasihlah pada orang yang mencaci-maki Anda.


Karena itu akan membuat Anda menjadi lebih sabar dan bijaksana,” ujar Gede Prama dalam Seminar “Rebut Masa Depan dengan Menyemai Masyarakat Enterpreneurial” yang digelar Kelompok Media Bali Post bekerja sama dengan Bank Saudara, Jumat (14/8) di Denpasar. Tampil juga sebagai pembicara, founder Medco Group Arifin Panigoro yang mengupas tentang “Tantangan dan Peluang sebagai Surga Masyarakat Entrepreneurial”.

Gede Prama mengatakan tiap tingkatan ke atas pasti selalu akan menemukan banyak halangan, rintangan dan cobaan. Karena tanpa itu, manusia menjadi lemah. Kehidupan harus terus naik. Naik secara material juga spiritual. Keseimbangan ini yang akan membuat manusia bahagia. “Jangan menganggap masalah sebagai racun, tetapi vitamin/berkah. Ini yang akan membuat manusia bertumbuh,” ujarnya.

Rintangan terbesar manusia ada dalam pikirannya. Pikiran positif akan menghadapkan manusia pada peluang, sedangkan pikiran negatif membawa manusia pada ancaman dan halangan. Karena itu, penulis buku “Simfoni di Dalam Diri: Mengubah Kemarahan Menjadi Keteduhan” ini menyarakan peserta seminar untuk selalu berpikir positif.

Ia memberi ilustrasi orang yang mengirimkan kotoran sapi yang diletakkan di halaman rumah tetangganya. Jika berpikir negatif, kotoran sapi ini dinilai sebagai bentuk penghinaan. “Apa maksudnya mengirimkan tahi sapi ke rumahku. Aku tak pernah cari masalah sama dia. Awas aku akan membalasnya.” Kata-kata itu yang bisa jadi terlontar dari mulut orang yang berpikiran negatif. Lain halnya jika penerima kiriman itu berpikir positif. “Tetangga saya itu sangat menaruh perhatian. Mungkin dia melihat tanaman di kebun saya kurang subur dan perlu diberi pupuk. Makanya dia mengirim tahi sapi.”

Gede Prama mengingatkan jangan melihat pesaing atau orang yang membenci kita sebagi musuh, tetapi mereka adalah guru terbaik.
Manusia dalam menjalani hidup diharapkan mengikuti mental pengusaha, teguh, dan ulet. Hambatan yang kerap dialami manusia biasanya dikarenakan selalu melihat kendala terlebih dahulu. “Kendala ini harus diubah menjadi kinerja. Di balik penolakan-penolakan itu, kita dituntut lebih kreatif,” ujarnya.

Untuk mencapai suatu keberhasilan, Gede Prama memberikan 4 kunci yakni aspirasi, kebiasaan, konsistensi, dan komitmen. Semua bermula dari aspirasi. Dari aspirasi ini, jika ditekuni (kebiasaan) akan menumbuhkan potensi. Dan, jika dijalani dengan konsisten dan komitmen yang kuat, niscaya mencapai keberhasilan.

Renungan - Menjadi Otentik

Kompas - Sabtu, 26 Juni 2010 | 03:33 WIB
Menjadi Otentik
Oleh Gede Prama

Kekayaan ekonomi mendikte pengetahuan dan kekuasaan. Mungkin itu dinamika zaman ini. Beberapa puluh tahun lalu, ketika kedigdayaan ekonominya sedang di puncak, Amerika Serikat memproduksi sekolah bisnis.

Harvard saat itu semacam ikon yang ditiru dunia. Di akhir 1980-an, keajaiban ekonomi Jepang membuat dunia kagum, kemudian diikuti oleh studi yang membuahkan konsep budaya korporasi. Lagi-lagi dunia ikut nurut. Di tahun 2010 ini, China jadi kekuatan ekonomi yang tak bisa dibendung. Sudah mulai ada peneliti yang mengait-ngaitkan kemajuan ekonomi China dengan budaya Konfusian.

Kekuasaan di negeri ini serupa. Jangankan posisi yang jauh dari pantauan publik, menteri dengan integritas tinggi pun tumbang digusur kekuasaan beraroma uang. Melalui usul dana aspirasi, lagi-lagi atas nama uang, sebagian anggota DPR yang seyogianya menjaga konstitusi malah mencederai konstitusi.

Mungkin itu sebabnya John Law dkk (1991) memberi judul karyanya A Sociology of Monster. Pengetahuan—apa lagi kekuasaan—mulai diragukan bisa menjadi lahan subur pertumbuhan kebenaran, sebaliknya malah larut dibawa arus uang, kemudian ikut menjadi monster pemangsa kebenaran. Mungkinkah muncul manusia otentik di masa depan?

Muncul lenyap
Sebagai langkah awal buka tirai kejernihan, sesungguhnya tak hanya peran pengetahuan dan kekuasaan yang berputar dari waktu ke waktu, semua berputar. Ia sesederhana matahari: pagi muncul dengan hawa hangat, siang panas menyakitkan, sore lenyap menyisakan kegelapan. Itu sebabnya, dalam meditasi diajarkan melihat ketakkekalan dengan jarak yang sama. Perhatikan manusia yang dijumpai dalam keseharian. Di suatu waktu ia memuji, di lain waktu ia memaki, di kesempatan lain ia lupa.

Mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos adalah contoh indah. Puluhan tahun dikagumi banyak orang lengkap dengan kekuasaannya, di suatu waktu ia ditumbangkan. Ujung kekuasaannya tak menyisakan apa-apa, bahkan mayatnya tak diperbolehkan masuk Filipina. Sekian puluh tahun berlalu, salah satu putra Marcos memutar balik sejarah dengan memperoleh dukungan dalam pemilu. Bukan tak mungkin keluarga itu akan dihormati lagi.
Nelson Mandela di Afrika Selatan adalah contoh lain. Selama 27 tahun merana di penjara. Ketika rezim kulit putih jatuh, ia muncul jadi pahlawan. Tatkala cerai dengan istrinya, ia dipandang sebelah mata. Inilah yang disebut ketidakkekalan. Tak saja manusia di luar sana yang tak kekal, tubuh ini hari ini menyenangkan karena makan enak, besok menyakitkan karena terkena penyakit, hari lain terlupakan karena sibuk.

Memaksa bahwa hidup harus terus penuh kesenangan, itulah penderitaan. Menjaga jarak yang sama pada setiap kejadian, itulah kedamaian dan kebebasan. Dari sana mungkin muncul kualitas otentik yang tak bisa diperkosa monster uang dan kekuasaan.

Senyum saja
Clouds in the sky of enlightenment, demikian pesan guru tercerahkan (baca: otentik) kepada muridnya dalam mengarungi kehidupan. Semua pengalaman hidup serupa awan di langit pencerahan. Kesenangan serupa awan putih, kesedihan mirip awan hitam. Awan hitam tak bikin langit hitam, awan putih tak bikin langit putih. Apa pun yang terjadi, langit tetap biru luas tak terbatas.

Bagi batin tercerahkan, kebahagiaan yang diperebutkan tak menambahkan apa-apa, kesedihan yang dienyahkan tak mengurangkan apa-apa. Terutama karena terlihat terang benderang, semua berputar sekaligus indah apa adanya. Perhatikan ikan yang hidup di air, burung yang terbang di udara. Ikan tak menyebut burung bodoh karena tak mengenal kehidupan dalam air, burung tak menyebut ikan kurang wawasan karena tak terbang ke mana-mana. Keduanya bahagia apa adanya. Mendengar penjelasan seperti ini, ada yang mengungkapkan keraguan: kalau begitu, manusia tercerahkan pasif dan tak melakukan apa-apa?

Kendati tak tersentuh oleh kejadian, sifat alami makhluk tercerahkan penuh kasih sayang. Seperti air yang tak bisa dipisahkan dengan basah, api yang tak bisa dipisahkan dengan panas, pencerahan tak bisa dipisahkan dengan kasih sayang. Karena itu, makhluk tercerahkan kesehariannya banyak senyum. Tatkala gembira ia senyum, saat berduka juga senyum. Mungkin kedengaran aneh, tetapi begitulah kese- harian makhluk tercerahkan, terutama karena yang mengagumkan muncul lenyap, yang menjengkelkan muncul lenyap. Seperti matahari, apa pun komentar orang, besok pagi tetap terbit kembali melayani kehidupan.

Seorang anak muda protes keras, kesannya cuek dan membosankan? Keheningan yang tak dipeluk kasih sayang tak pernah diajarkan sebagai jalan pencerahan. Setelah membadankan dalam-dalam hakikat semua fenomena yang muncul lenyap, guru-guru tercerahkan kemudian mengisi hidupnya dengan pelayanan. Bukan pelayanan yang memaksa harus masuk surga, bukan juga pelayanan yang trauma akan neraka. Sebagaimana samudra yang selalu bawa kegembiraan gelombang, pencerahan selalu bawa kegembiraan kasih sayang bersamanya. Ada kebahagiaan menawan di balik penerapan kasih sayang.

Seorang kakek ditanya cucunya, ”Kenapa orang tercerahkan juga dimaki dan disakiti?” Dengan lembut kakeknya bergumam, semua memiliki sifat alami masing-masing. Seperti kambing, dikasih rumput dimakan, dikasih daging akan menghindar, tanpa perlu mencaci bahwa pemakan daging dosa dan masuk neraka. Serupa serigala, dikasih daging dimakan, diberi rumput menghindar, tanpa mencaci bahwa orang vegetarian bodoh dan tolol. Sejalan dengan ini, panggilan alami sejumlah manusia memang memaki dan menyakiti. Dalam pandangan guru tercerahkan, makian adalah bel kesadaran untuk selalu peduli dan rendah hati. Ketika disakiti, sesungguhnya manusia sedang mengalami pemurnian.

Bila begini cara mengalami hidup, uang dan kuasa berhenti jadi monster menakutkan. Sekaligus buka kemungkinan bagi kelahiran manusia otentik.

Memberikan, Mendamaikan, dan Menyembuhkan

Memberikan, Mendamaikan, dan Menyembuhkan
Gede Prama

Masalah, masalah, masalah, itulah keseharian manusia di bumi ini. Presiden AS Barack 0bama sudah dua kali batal datang ke Indonesia. Ini menunjukkan rumitnya kehidupan di sana. Dulu, krisis utang hanya menjadi cerita negara berkembang, sekarang Yunani mengalami krisis utang.

Negeri ini serupa. Reformasi yang diharapkan menyudahi banyak masalah malah menambah masalah. Dari tarik-menarik kepentingan yang rumit di tingkat atas sampai terbakarnya banyak orang oleh kompor gas di tingkat akar rumput.

Digabung menjadi satu, kerumitan hidup manusia meningkat di mana-mana. Mungkin karena rumitnya, Sheila McNamee dan kawan-kawan (1992) memberi judul karyanya Therapy as Social Construction.

Jalan keluar komprehensif tak pernah datang dari satu pihak saja. Kita perlu mengonstruksinya bersama-sama. Sayangnya, upaya ini yang sulit dilakukan.

Lem perekat
Dibandingkan dulu, nafsu manusia untuk selalu untung kini demikian besar. Jadilah masyarakat seperti permainan tarik tambang. Tempat-tempat manusia berkumpul yang dulu sejuk dengan saling memberi, sekarang dipenuhi pemburu keuntungan.

Seorang sahabat yang rajin meditasi di sejumlah tempat menceritakan, kian banyak manusia datang ke sebuah tempat, kian panas hawanya. Di Barat malah lebih menyentuh hati, tempat ibadah sebagian tidak saja kehabisan pengunjung, malah dijual.

Salah satu sisi kehidupan masyarakat tradisional yang layak diteladani adalah kegembiraan mereka dalam memberi. Itu sebabnya, Marcel Mauss (1990) memberi judul karyanya The Gift: The Form and Reason for Exchange in Archaicsocieties.

Dalam karya antropologi indah ini terlihat lem perekat yang menyatukan masyarakat tradisional adalah sukacita dalam memberi. Lebih dari itu, mereka berjumpa kedamaian dalam pemberian.

Banyak sekali sisi-sisi kehidupan kekinian di mana manusia bisa memberi. Dari berbagi senyuman, mendengarkan keluhan, memberi kesempatan dulu bagi orang yang buru-buru, memberi tempat duduk kepada orang tua di tempat publik, memegang pintu bila di belakang ada orang, menghormati pemimpin, menyayangi anak-anak panti asuhan atau orang tua di panti jompo, sampai mengalah sama anak-anak di rumah.

Syukur-syukur bisa ikut membimbing masyarakat menuju kebajikan.

Dan bagi siapa saja yang sudah terbiasa memberi akan mengerti, ketika memberi sejatinya manusia tidak hanya membantu, melainkan juga membangunkan sifat-sifat baik dalam diri. Bunda Theresa contoh yang teramat bercahaya.

Sementara manusia kebanyakan teramat sibuk memenuhi keuntungan diri sendiri, ia memperuntukkan seluruh hidupnya untuk orang lain. Dan terlihat jelas, tidak saja warga Kalkuta yang sempat dibantu yang menikmati hasilnya, hidup Bunda Theresa jadi monumen pemberian yang masih bercahaya sampai ribuan tahun ke depan.

Tidak banyak manusia terlahir sebercahaya Bunda Theresa, diberi kesempatan dikenal dunia. Namun, kita orang biasa bisa membuat perbedaan melalui tindakan kecil yang tak dikenal.

Dari mematikan keran air yang lupa dimatikan; mendonorkan darah; membersihkan kloset umum yang ditinggalkan petugasnya; memungut sampah yang dibuang sembarangan; menolak penggunaan tas plastik; mengurangi penggunaan sabun, sampo, dan tisu; memberi makan burung atau anjing liar; sampai memindahkan batu di jalan yang membahayakan pengendara lain.

Seorang guru yang rajin melakukan hal-hal seperti ini berpesan: ”Lihatlah alam. Dari bukit sejuk sampai bintang bercahaya di langit. Tidak ada hal lain yang dilakukan mereka terkecuali memberi. Hasilnya, tidak terdengar ada bukit yang bertengkar, tidak terdengar ada bintang yang mengeluh. Ujung-ujungnya, mereka damai.”

Ini memberi inspirasi tambahan, memberikan ternyata mendamaikan!

Keterhubungan
Lebih dari sekadar mendamaikan, pemberian mudah membuat manusia terhubung. Ia yang lama menyatu dalam keterhubungan, suatu waktu merasakan, ternyata semua makhluk terlahir agar kita tercerahkan.

Dalam salah satu dialog kosmis, ada yang berbisik: ”Ketika para makhluk menyakiti, sesungguhnya sedang mengajarkan kesabaran. Tatkala bersedih, sebenarnya sedang membangkitkan energi kasih sayang di dalam sini. Saat mereka berbahagia, menjadi ujian seberapa bahagia manusia bisa melihat orang lain bahagia. Manakala para makhluk melayani, manusia sedang melihat cermin kebaikan hatinya”.

Cermati alam sebagai wakil keterhubungan, ia menyediakan bahan-bahan pencerahan berlimpah. Pepohonan terus berbagi oksigen.

Hasilnya, sejuk dan teduh. Danau menyediakan diri sebagai tempat banyak makhluk bertumbuh. Ujung-ujungnya, terlalu banyak kehidupan yang merasakan kesejukan di danau.

Dalam terang pemahaman seperti ini, bisa dimaklumi ahli neurosains, Francisco Varela, menemukan istilah the biology of compassion. Kasih sayang juga menyembuhkan. Ini mirip dengan penelitian yang menyimpulkan manusia yang memiliki binatang peliharaan yang disayangi di rumah memiliki risiko terkena serangan jantung lebih kecil dibandingkan yang tidak. Ini memberi inspirasi, memberi juga menyembuhkan.

Dalam kebijaksanaan Timur, ruang digunakan sebagai simbol pencerahan. Batin tercerahkan, demikian pesan tetua, serupa ruang. Air tak bisa membuatnya basah, api tidak bisa membuatnya terbakar.

Ruang adalah simbol kasih sayang tak terbatas karena memberi tempat kepada apa saja dan siapa saja bertumbuh. Langkah terpenting, membuat batin tercerahkan seperti ruang adalah rajin memberikan karena memberi itu mendamaikan sekaligus menyembuhkan.

Gede Prama Penulis buku ”Sadness, Happiness, Blissfulness: Transforming Suffering Into the Ultimate Healing”. [KOMPAS - Sabtu, 28 Agustus 2010 | 04:51 WIB].

Kesembuhan, Kedamaian, Keheningan

Di ruang minum teh, seorang murid bertanya ke gurunya. ”Mana jalan tercepat menuju pencerahan?” Gurunya bergumam, ”Minumlah tehmu.”
Kesembuhan, Kedamaian, Keheningan

Di ruang minum teh, seorang murid bertanya ke gurunya. ”Mana jalan tercepat menuju pencerahan?” Gurunya bergumam, ”Minumlah tehmu.”

Setelah teh habis, guru ini lagi-lagi bergumam, ”Sekarang cuci cangkirmu.” Hanya dengan mendengar pesan sederhana itu ternyata sang murid mendapat pencerahan. Bagi orang kebanyakan, cerita itu susah dimengerti. Namun, bagi yang lama bermeditasi, kisah itu mengagumkan.

Pencerahan tidak ada di tempat dan waktu yang jauh, setiap guru tercerahkan mengalaminya saat ini. Pencerahan teramat dekat, serupa buku. Karena teramat dekat, banyak yang tidak bisa membacanya. Pencerahan teramat sederhana, tetapi karena pikiran menyukai kerumitan, banyak yang tidak memercayainya. Mungkin itu sebabnya judul karya klasik Larry Rosenberg (2004) adalah Breath by Breath. Menyatu bersama tarikan dan embusan napas, temukan ketenangan, kelembutan, kesejukan. Baru kemudian mengisi dengan kasih dan kemuliaan.

Penderitaan buatan
Menggunungnya penderitaan manusia—dari penyakit badan, kejiwaan, sampai spiritual—sesungguhnya sebagian lebih ke penderitaan buatan sendiri, bukan alami. Sebutlah seseorang yang kalah dalam pemilihan umum kepala daerah. Kalah ialah penderitaan alami. Namun, marah-marah kepada pemilih, menuduh pemenang dan penyelenggara curang tanpa bukti, menyerang orang, dan akhirnya ditangkap polisi adalah penderitaan lebih besar yang dibuat sendiri.

Ini ciri khas manusia yang belum membadankan kesadaran, kesehariannya teramat sibuk menendang atau mencengkeram. Dukacita, kekalahan, dan hal menjengkelkan lainnya ditendang. Sukacita, kemenangan, dan hal menyenangkan lainnya dicengkeram. Padahal kehidupan serupa gelombang. Gelombang tinggi (baca: kesuksesan dan kemenangan) tidak bisa ditahan dengan keserakahan agar selalu tinggi. Gelombang rendah (kegagalan, kesialan) tak bisa dipaksa kesedihan agar cepat menghilang. Semua akan berputar alami.

Kesadaran dicengkeram, dibawa pergi oleh perasaan dan pikiran. Ini penyebab manusia ketika marah melakukan hal-hal berbahaya. Namun, melalui meditasi, perlahan-lahan kesadaran berpisah dengan pikiran dan perasaan. Kemarahan dan kebencian mirip mata pancing nelayan. Siapa yang menangkapnya susah sekali untuk lepas. Itu sebabnya, mata kesadaran diibaratkan dengan mata ikan yang terus-menerus terbuka. Dalam tidur, mata fisik boleh tertutup, tetapi melalui yoga mimpi, bahkan dalam tidur pun mata kesadaran sebaiknya terbuka. Artinya, kesadaran mendalam bisa membuat seseorang sadar dalam mimpi.

Kendati demikian, meditasi tak membuat seseorang bebas sepenuhnya dari masalah. Bahkan guru paling tecerahkan sekalipun, bila sampai putaran waktunya, akan tetap digoda masalah. Bedanya dengan orang kebanyakan, guru tecerahkan mengolah setiap masalah jadi berkah yang membunyikan bel kesadaran dalam diri. Seperti akar beracun diracik jadi obat.

Tiga jenis manusia
Maka manusia bisa dikategorikan dalam tiga jenis. Pertama, mereka yang melawan kemudian penuh penderitaan. Kedua, yang menyatu dengan setiap putaran kemudian mendapat kedamaian. Ketiga, yang mengolah kejadian menjadi bahan pencerahan.

Seorang sahabat asli Singapura yang bosan melihat keteraturan di negerinya bahagia sekali ketika pertama kali di Bali. Ia tersenyum melihat manusia mengendarai motor tanpa helm atau satu motor dinaiki empat orang.

Bila sahabat Singapura itu orang biasa, ia akan menendang kekiniannya sebagai warga Singapura yang menderita di tengah keteraturan dan mengira orang Bali bahagia. Jika ia guru tercerahkan, mungkin ia melihat pengalaman pencerahan. Keempat warga Bali di satu sepeda motor jelas sekali menyatu dengan tiupan angin, menemukan kedamaian dalam kekinian. Dalam pandangan guru tercerahkan, hidup adalah kasih sayang dalam tindakan. Kesederhanaan satu motor bukan penghalang berputarnya kasih sayang.

Problem manusia kekinian, baru bahagia bila memiliki yang dimiliki orang lain. Atau merasa akan bahagia ketika sejumlah keinginan tercapai. Banyak orang yang tidak berjumpa apa-apa dengan pendekatan ini, bahkan kesembuhan, kedamaian, keheningannya hilang. Diterangi cahaya pemahaman ini, dibanding memperparah kehidupan dengan menendang yang menjengkelkan serta mencengkeram yang menyenangkan, mungkin indah mengingat pesan guru yang bergumam, ”Minumlah tehmu.”

Memeluk lembut kekinian dengan ketenangan, keteduhan, keindahan kasih sayang itulah kesembuhan, kedamaian, keheningan. Mereka yang sudah sampai di sini akan memancarkan cinta ke delapan arah. Berbahagia melihat yang atas berbahagia, berdoa untuk kebahagiaan mereka yang masih di bawah.
KOMPAS - Sabtu, 25 September 2010.
Gede Prama Penulis Buku Pencerahan dalam Perjalanan: Menyirami Bibit-bibit Kesembuhan,Keteduhan, Kedamaian.

RENUNGAN HARI RAYA NYEPI 1932 SAKA TENTANG FALSAFAH KERUKUNAN PERSPEKTIF HINDU

RENUNGAN HARI RAYA NYEPI 1932 SAKA TENTANG FALSAFAH KERUKUNAN PERSPEKTIF HINDU

Agama baru sampai ke tataran verbal, belum direalisasikan dalam keseharian, demikian pula karena kedangkalan pemahaman terhadap ajaran agama, seseorang mudah saja diprovokasi dengan meng-atasnamakan agama untuk menyulut berbagai kerusuhan di tanah air.

RENUNGAN HARI RAYA NYEPI 1932 SAKA TENTANG FALSAFAH KERUKUNAN PERSPEKTIF HINDU

Agama baru sampai ke tataran verbal, belum direalisasikan dalam keseharian, demikian pula karena kedangkalan pemahaman terhadap ajaran agama, seseorang mudah saja diprovokasi dengan meng-atasnamakan agama untuk menyulut berbagai kerusuhan di tanah air. Telah banyak korban di daerah konflik seperti: Aceh, Kalimantan Barat, Ambon, Maluku Utara dan hingga beberapa pekan terakhir ini yang tak henti-hentinya mulai konflik Doloduo dengan Mopugad, Tataaran dengan Ibolian, Tambun dengan Kembang Mertha, hingga beberapa pekan terakhir antara Toruakat dengan Pusian yang mengorbankan rumah dibakar sampai 27 rumah. Apakah benar Bapak Presiden yang salah ?

Dasar-dasar teologi kerukunan dalam persepktif Hindu kita jumpai pada kitab suci Veda yang merupakan himpunan sabda suci (wahyu) Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa mantram Veda yang menyatakan tentang kerukunan antar umat beragama kami kutipkan sebagai berikut:

Janaý bibhrati bahudhà vivàcasaý; nànàdharmanaý påthivì yathaikasam; sahasraý dhàrà dravióasya me duhàý; dhraveva dhenuranapasphuranti. Atharvaveda XII.1.45. (Berikanlah penghargaan kepada bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah, yang menganut kepercayaan (agama) yang berbeda. Hargailah mereka yang tinggal bersama di bumi pertiwi ini. Bumi yang memberi keseimbangan bagaikan sapi yang memberi susunya kepada umat manusia. Demikian ibu pertiwi memberikan kebahagiaan yang melimpah kepada umat-Nya).

Saý vo manàýsi saý vratà sam àkùtìr namàýsi, amì ye vivratà sthana tàn vaá saý namayàmasi. Atharvaveda III. 8.5. (Aku satukan pikiran, dan langkahmu untuk mewujudkan kerukunan di antara kamu. Aku bimbing mereka yang berbuat jahat menuju jalan yang benar)

Yena devà na viyanti no ca vidviûate mithaá; tat kåómo Brahmà vo gåhe saýjñàna puruòebhyaá. Atharvaveda III.30.4 (Wahai umat manusia! Bersatulah, dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewata. Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kamu)

Saý gacchadhvaý saý vadadhvaý saý vo manaýsi jànatàm, devà bhàgam yathà pùrve saýjànànà upàsate. Ågveda X.191.2. (Wahai umat manusia! Hiduplah dalam harmoni dan kerukunan. Hendaklah bersatu dan bekerja sama. Berbicaralah dengan satu bahasa dan ambilah keputusan dengan satu pikiran. Seperti orang-orang suci di masa lalu yang telah melaksanakan kewajibannya, hendaklah kamu tidak goyah dalam melaksanakan kewajibanmu)

Samàno mantraá samitiá samàni; samànam manaá saha cittam eûàm; samanam mantram abhi mantarey vah; samanena vo havisa juhomi. Ågveda X.191.3. (Wahai umat manusia! Pikirkanlah bersama. Ber-musyawarahlah bersama. Satukanlah hati dan pikiranmu dengan yang lain. Aku anugrahkan pikiran yang sama dan fasilitas yang sama pula untuk kerukunan hidupmu)

Samànì va àkutiá samànà hådayàni vaá; samànam astu vo mano yathà vaá susahàsati. Ågveda X.191.4.

(Wahai umat manusia! Milikilah perhatian yang sama. Tumbuhkan saling pengertian di antara kamu. Dengan demikian engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuan)
Sahådayaý saý manasyam avidveûaý kåóomi vaá; anyo anyam abhi haryata vatsaý jàtam ivagh-nyà. Atharvaveda III.30.1. (Wahai umat manusia, Aku memberimu sifat ketulus ikhlasan, mentalitas yang sama, persahabatan tanpa kebencian, seperti halnya induk sapi mencintai anaknya yang baru lahir, begitu seharusnya kamu mencintai sesamamu).
Saýjñànaý naá svebhiá saýjñànaý araóebhiá; Saýjñànaý aúvinà yuvam ihàsmàsu ni yacchatam. Atharvaveda VII.52.1. (Hendaknya harmonis dengan penuh keintiman di antara kamu, demikian pula dengan orang yang dikenal maupun asing. Semogalah dewa menganugrahkan rahmat-Nya untuk keharmonisan antar sesama).

Di samping mantra tersebut di atas, dalam rangka mewujudkan kerukunan hidup beragama dalam rangka integrasi nasional, kiranya perlu dipahami dasar-dasar teologis kehidupan berbangsa dan bernegara seperti di amanatkan dalam kitab suci Veda berikut:

a) Meningkatkan cinta tanah air, bangsa, dan bersedia berkorban untuk kejayaan bangsa.
Màtà bhùmiá putro ahaý påthivyàá. Atharvaveda XII.1.12. (Bumi Pertiwi adalah ibu kami, dan kami adalah putra-putranya)

Bandhur no màtà påthivì mahì iyam. Atharvaveda IX.10.12. (Bumi yang luas ini adalah ibu/kerabat kami)
Tan màtà påthivì tat pità dyauá. Yajuveda XXV.17. (Bumi adalah ibu, dan langit adalah ayah kami)

Namo màtre påthivya. Yajuveda IX.22. (Kami menghormati ibu Pertiwi (tanah air)
Vayaý ràûþre jàgåyàma purohitàá. Yajurveda IX.23. (Semoga kami selamanya tetap waspada melindungi bangsa kami yang terus maju)

b) Melindungi, dan menjujung kemerdekaan bangsa dan negara
Arcan anu svaràjyam. Ågveda I.80.1. (Selalu memberi penghormatan kepada kemerdekaan bangsa)

Vyaciûþhe bahupàye, yatemahi svaràjye. Ågveda V.66.6. (Hendaknyalah kami bekerja keras untuk mencapai kemerdekaan. Ia seharusnya dikawal oleh seluruh rakyat)
Viúi ràûþre jàgåhi rohitasya. Atharvaveda XIII.1.9. (Wahai pemimpin, semoga engkau tetap siaga untuk melindungi warga negara, dan bangsa)

c) Berperanan, dan berperan serta dalam memajukan kesejahtraan bangsa
Idaý ràûþraý pipåhi saubhagàya. Atharvaveda VII.35.1. (Bimbinglah bangsa ini menuju kesejahtraan)

Idaý ràûþram akaraá sùnåtàvat. Atharvaveda XIII.1.20. (Buatlah bangsa ini jujur, dan bermurah hati)

Bhadram icchanta åûayastapo dìkûàm upani-ûedur agre; tato ràstraý balam ojaúca jàtam tadasmai devà upasaý namantu. Atharvaveda XIX.41.1. (Mereka yang bijak memikirkan tentang kemakmuran bangsa mendapatkan dua faktor, yakni kesetiaan (ketaatan), dan pengabdian (dedikasi). Dengan menjalankan faktor-faktor ini, bangsa itu menjadi kuat, dan mulia, oleh karena itu faktor ini seharusnya dijalankan).

Ràûþraý ca roha, dravióaý ca roha. Atharvaveda XIII.1.34. (Buatlah bangsa menjadi kuat dan makmur)

d) Meningkatkan pengabdian kepada masyarakat
Pumàn pumàýsaý pàripàtu viúvataá. Ågveda VI.75.14. (Hendaknyalah masing-masing orang membantu (menolong), dan menjaga yang lainnya).

Lokakåtaá pathikåto yajàmahe. Atharvaveda XVIII.3.25. (Hendaknya memberi penghormatan kepada para pembangun jalan, orang-orang yang menaikan drajat rakyat).

Yaá påóati sa ha deveûu gacchati. Ågveda I.125. 5. (yang melayani orang lain dihormati bagaikan dewa)

Svasti màtra uta pitre no astu; svastigobhyo jagate purusebhyaá. Atharvaveda I.31.4. (Semoga terwujud kesejahtraan untuk orang tua ka-mi, sapi-sapi betina itu, umat manusia, dan seluruh dunia)

Janabhåtastha ràûþradà ràûþraý me datta; svaràjastha ràûþradà ràûþram amuûmai datta. Yajurveda X.4.

(Engkau merdeka, dan jadi pelindung umat manusia. Berkahilah kami bangsa yang merdeka)

Lokaý påûóa, chidraý påóa. Yajurveda XV.59. (Buatlah umat berbahagia & singkirkan kesukaran mereka)

Yasmin sarvàói bhùtàni àtmaivà bhùd vi-jànataá; tatra ko mohaá kaá úoka ekatvam anupaûyataá. Yajurveda XL.7. (Bilamana orang yang cerdas menjalankan persatuan dengan seluruh yang hidup, dan merasakan kesatuan denganya, maka semua keterikatan akan lenyap).

Demikian antara lain beberapa butir mantram Veda sebagai dasar teologis yang dapat mendorong kita untuk mengamalkan ajaran Dharma Negara dalam rangka menumbuhkan kerukunan, cinta tanah air dan bangsa yang pluralistik.

Untuk dapat meningkatkan kerukunan hidup beragama, hal yang sangat penting adalah menumbuhkan penghargaan, saling pengertian dan bahkan memahami ajaran agama lain dengan baik, seperti kami kutipkan pada manggala tulisan ini, seorang pandita Siva akan kurang kualitas beragamanya bila tidak memahami hakikat dari ajaran Buddha, demikian pula sebaliknya usaha untuk menumbuhkan saling pengertian dan penghargaan itu, hendaknya setiap umat beragama di samping memahami agamanya sendiri dengan baik, juga memahami agama orang lain secara benar. Di samping itu, kerukunan umat beragama dapat ditumbuhkan pula melalui kerja sama untuk mengatasi masalah-masalah sosial (penyakit sosial) dan kemiskinan, juga melalui dialog-dialog yang intensif dan konstruktif seperti usulan tentang macam-macam dialog yang jitu:
1) Dialog kehidupan, rakyat dari pelbagai macam agama hidup rukun dalam satu negara, satu sama lain saling memperkaya keyakinan agamanya dengan perantaraan melakukan ajaran, dan keyakinan masing-masing. Hal ini dapat dilihat seperti kehidupan kita di Indonesia. Kehidupan antar agama kita di Indonesia ini adalah sangat baik. Selanjutnya dialog kehidupan ini harus kita tingkatkan, supaya dengan itu lebih positif, maka niscaya akan lebih berhasil pada beberapa bidang.
2) Dialog kerjasama dan kegiatan-kegiatan sosial yang memperoleh inspirasi agama. Hal ini seperti rakyat Indonesia dengan pelbagai macam keyakinan dan agamanya bekerja sama untuk melaksanakan pembangunan. Andaikata umat ini dengan dorongan agama melaksanakan sesuatu proyek, umpamanya membrantas kemiskinan, maka hal itu akan merupakan kekuatan yang dahsyat.
3) Dialog Intermonastik. Umpamanya pemimpin Agama Hindu untuk satu minggu lamanya hidup di biara Buddhis-me; pemimpin Kristen untuk satu minggu hidup di pondok pesantren. Jelasnya pemimpin sesuatu agama hidup dalam waktu tertentu di pusat agama orang lain. Dengan demikian akan timbul saling pengertian yang mendalam, saling penghargaan, dan kerjasa dalam pelbagai bidang dapat diadakan.

Langkah dan kebijakan yang dapat ditempuh sebagai usaha dalam meningkatkan kualitas amal, dialog, dan kerukunan hidup antar, dan interen umat beragama sebagai perwujudan teologi kerukunan berupa bingkai sosiologis kultural, antara lain: Pemimpin atau pemuka agama baik institusional, dan maupun secara perorangan berusaha semaksimal mungkin menanamkan kesadaran untuk mengamalkan ajaran agamanya masing-masing. Dengan pengamalan agama yang mantap akan meningkatkan kualitas iman (Sraddha), dan amal (Bhakti) serta Wawasan Kebangsaan, sebab kami yakin semua ajaran agama yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa mengajarkan umatnya untuk menghargai orang lain (semua mahluk) termasuk pula menghargai agama atau kepercayaan orang lain serta agama juga mengajarkan kepada umat untuk menjadi warga negara yang baik, taat kepada hukum yang digariskan oleh pemerintah.

Tondano, 15 Maret 2010
Pengurus Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) SULUT, Jro Mangku Drs. I Wayan Damai, MPd, MSc, MSi
K e t u a

Bhaktityaga: Ujian Bagi Dharmawangsa

Bhaktityaga:
Ujian Bagi Dharmawangsa
Oleh : Sudha Adnyana, Karangasem
Dharmawangsa diuji? Demikianlah tersurat dalam Swarga-rohana parwa, kitab ke-18 atau terakhir dari Mahabharata. Ujian maha berat, karena menyangkut sebuah pandangan atau keyakinan. Di dalamnya terkandung ajaran rohani yang patut dihayati.

Bhaktityaga:
Ujian Bagi Dharmawangsa
Oleh : Sudha Adnyana, Karangasem

Dharmawangsa diuji? Demikianlah tersurat dalam Swarga-rohana parwa, kitab ke-18 atau terakhir dari Mahabharata. Ujian maha berat, karena menyangkut sebuah pandangan atau keyakinan. Di dalamnya terkandung ajaran rohani yang patut dihayati.

Kitab Swargarohana parwa memang memuat cerita yang mengusik renungan kita. Misalnya kisah para Korawa di Sorga, sementara keluarga Pandawa di Neraka, sampai pada dengan kedatangan Sang Dharmawangsa menyebabkan Neraka menjadi Sorga.

Dhrmawangsa memang menjadi tokoh utama di sini, oleh karenanya kita patut memberikan perhatian khusus kepada Penegak kebenaran ini. Kepergiannya ke Sorga memang tidak seorang diri, ia diiringi oleh seekor anjing yang setia. Setelah meninggal adik-adiknya dan Drupadi, Dharmawangsa melanjutkan perjalanannya mendaki gunung Kailasa. Di perjalanan turunlah Bhatara Indra seraya menyapanya: “Hai anakku Sang Dharmawangsa janganlah ananda bersedih atas kematian adik-adikmu, seperti itu memang yang ditemui oleh manusia. Berbeda dengan dirimu yang dapat masuk surga bersama badanmu, karena Ananda melaksanakan Dharmajnana.”

Sang Dharmawangsa menjawab : “Wahai Dewa, sungguh besar anugerahmu kepada hamba, hamba menerimanya bila anjing yang setia mengiringi hamba ini turut juga masuk sorga, hamba tidak dapat meninggalkannya (saka ri tan wenang nghulun tuminggalakena ya).

Hyang Indra menjawab, “Maharaja Dharmawangsa, apa gunanya anjing itu turut ke sorga, karena ia kotor, ia akan dihentikan oleh para dewa. Janganlah Ananda menaruh kasihan kepadanya”.

Dewata yang mulia, hamba tidak dapat memotong rasa bhaktinya (bhaktityaga), lalu meninggalkannya, karena ia selalu setia mengikuti kemanapun hamba pergi. Orang yang bhaktityaga atau memotong rasa bhakti akan besar dosanya. Oleh karena itu hamba tak ingin meninggalkannya”. Dharmawangsa juga menjelaskan bahwa meninggalkan orang yang setia bhakti ketika ia masih hidup, sama halnya dengan membunuh seorang wanita yang bijaksana, juga membunuh brahmana, tidak menolong orang yang memerlukan pertolongan, karenanya ketika ia tidak patut ditinggalkan. “Hamba tidak akan menemui sorga kalau meninggalkannya”, demikian Sang Dharmawangsa.

Setelah mengucapkan hal itu, si anjing yang setia menghilang, dan hadirlah Sang Hyang Dharma lalu memeluk Sang Dharmawangsa. “Ananda Sang Dharmawangsa dua kali Ayahanda mengujimu. Dahulu tatkala Ayahanda mengujimu ketika ananda memilih Sang Sahadewa untuk dihidupkan di antara empat saudaramu yang meninggal dunia karena meminum air larangan, tampak sekali perbuatan dharmamu,” demikian Sang Hyang Dharma menjelaskan.

Jadi Sang Hyang Dharma telah menguji Sang Dharmawangsa dengan anjing yang setia. Sang Dharmawangsa benar-benar tidak ingin berpisah dengan anjing itu, sekalipun ia dapat masuk sorga tanpa anjing, Dharmawangsa tidak mau melakukan bhaktityaga, memotong kesetiaan, sekalipun dari seekor binatang dan itu adalah ujian yang kedua baginya Dharmawangsa, dan beliau dinyatakan lulus oleh Sang Hyang Dharma.

Ujian yang pertama adalah ketika Sahadewa , Nakula, Arjuna dan Bhima keempat adiknya itu meninggal karena meminum air danau di tengah hutan. Awalnya Sahadewa mendapat tugas mencari sumber air di tengah hutan, dalam masa pengasingan Panca Pandawa dan Drupadi di hutan. Ketika menemui sumber air Sang Sahadewa ingin meminumnya karena kehausan. Ada suara Yaksa yang menampakkan diri melarang Sang Sahadewa meminum air itu, namun Sang Sahadewa tidak menghiraukannya. Setelah meminum air itu Sang Sahadewapun meninggal dunia. Selanjutnya datanglah Sang Nakula, kesatriya pandawa menemui nasib yang sama. Demikian juga halnya Sang Arjuna dan Sang Bhima yang datang belakangan. Mengetahui ke empat saudaranya tewas setelah meminum air danau itu, tentu saja Sang Dharmawangsa kebingungan. Pada saat seperti itu terdengarlah sabda yang meminta Sang Dharmawangsa mengajukan permohonan : siapa di antara empat orang adiknya itu untuk dihidupkan. Inilah ujian yang sangat sulit, yang hanya dapat dijawab oleh seorang yang benar-benar menegakkan Dharma. Ada alasan mengapa Sang Dharmawangsa memilih Sang Sahadewa untuk dihidupkan, bukannya Bhima atau Arjuna yang kuat dan sakti itu. Sahadewa adalah putra Dewa Madri sedangkan dirinya adalah putra Dewi Kunti. Dengan demikian ada salah seorang putra Dewi Madri yang hidup bukan hanya putra Dewi Kunti.

Begitulah Sang Dharmawangsa menegakkan kebenaran dan keadilan. Suatu sikap yang perlu dicontoh oleh setiap pemimpin. Sang Hyang Dharma telah memberi ujian yang begitu berat kepada Sang Dharmawangsa, dan beliau lulus. Ujian yang menyangkut kualitas pikiran. Hanya orang seperti itu yang dapat kembali ke sorga bersama badan wadag-nya (matangyang muliha ring swarga lawan sariranta).

Demikian kisah perjalanan Sang Dharmawangsa, sebuah kisah perjalanan yang penuh nilai spiritual. Ada pergulatan pikiran dan perasaan, ada perenungan yang mendalam disini. Terlebih lagi kita kaitkan dengan perjalanan beliau di Sorga selanjutnya.
‘Setelah tiba di Sorga, Sang Dharmawangsa langsung menanyakan dimana sanak saudaranya berada termasuk Dewi Drupadi. Sang Dharmawangsa tidak menemui mereka di Sorga. Kepada Bhatara Indra yang ada di sana beliau menanyakannya. “Dimanakah saudara hamba semua dan Drupadi berada? Tolong beritahukan hamba !”.

“Wahai Maharaja Dharmawangsa janganlah Ananda bingung tentang keberadaan saudaramu semua. Seorang raja tidak boleh berfikir seperti manusia ketika ia berada di Sorga, karena ia harus mengikuti hasil perbuatannya, karenanya mereka tak dapat disatukan dengan Ananda”. demikian jawab bhatara Indra.

Maharaja Dharmawangsa menegaskan: ”Tak patut orang seperti hamba menghilangkan rasa kasih kepada keluarga hamba dan Dewi Drupadi, karena kami harus bersatu sekalipun menemui penderitaan. Kesimpulannya hamba tidak bersedia berada di sorga ini apabila tidak bersama dengan saudara hamba dan Dewi Drupadi. Itulah permintaan hamba”. Betapa terkejutnya Hyang Indra mendengarkan jawaban tegas Sang Dharmawangsa seorang Maharaja yang memiliki kesetiaan yang begitu besar dengan saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi. Ikatan kasih dalam bersaudara dan berkelurga ditunjukkan disini tidak dalam kata-kata saja tetapi juga dalam tindakan.

Sang Dharmawangsa pun lalu meninggalkan sorga untuk mencari saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi. Temyata saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi berada di neraka. Setelah melewati perjalanan di kegelapan dan jalan yang begitu mengerikan ditemuilah tempat ke empat saudaranya bersama Dewi Drupadi. Tempat yang kotor, bau busuk dan lalat hijau menyerubungi, serta lintah berkeliaran. Atma yang sengsara berkumpul di sana sambil menjerit mengaduh menahan derita sakit. Sangat sulit menggambarkan suasana mereka yang mengerikan dan menjijikkan itu. Namun Sang Dharmawangsa sama sekali tidak terpengaruh oleh suasana itu.

Akhirnya bertemulah Sang Dharmawangsa dengan saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi di Yamanloka atau Neraka. Tidak lama setelah itu ternyata Neraka berubah menjadi Sorga, bau busuk berubah menjadi harum mewangi (mangkana tilang yamaniloka matemahan swarga mwang ikang durganda nguni matemahan juga ndakusuma).

Demikianlah perjalanan seorang yang memiliki kesetiaan yang tinggi, Sang Dharmawangsa. Beliau bersiap tinggal bersama di Neraka, sekalipun tempat yang mewah telah disiapkan bagi dirinya di Sorga. Dan tempat itu adalah haknya sehagai orang yang selama hidupnya menegakkan Dharma. Namun ditolaknya bila tidak bersarna-sama dengan saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi.

Sebelumnya Sang Dharmawangsa telah menunjukkan kesetiaannya kepada seekor anjing yang setia mengiringi sampai batas masuk sorga. Disini beliau menunjukkan kembali akan pentingnya melaksanakan nilai-nilai spiritual dan moral tentang tingginya nilai Satya itu. Tan Hana Dharma mangiwihane kesatyam. Tidak ada Dharma yang melebihi satya.

Dengan pegangan pokok seperti itu, Sang Dharmawangsa dapat melewati dan lulus atas ujian yang diberikan oleh Dewata atau Sang Hyang Dharma. Ujian mahaberat bagi kebanyakan orang tapi menjadi gampang bagi Sang Dharmawangsa yang telah dapat menguasai dirinya, menguasai rasa keakuan (egoisme dan egosentrisme), juga telah dapat mengalahkan musuh yang ada dalam dirinya.

Sungguh mencengangkan, atau mungkin mengherankan bagi kebanyakan orang mengapa seekor anjing menjadi begitu penting bagi Sang Dharmawangsa, Seorang Maharaja yang maha sakti namun senantiasa hadir dengan penuh kesederhanaan. Seekor anjing yang setia lebih penting bagi Sang Dharmawangsa daripada masuk sorga. Sorga bukan apa-apa dibandingkan dengan keagungan Satya. ini juga tampak ketika Sang Dharmawangsa memilih Neraka, untuk dapat mewujudkan Satya dengan saudara-saudaranya dan Drupadi.

Ya, Satyam eva jayate. Hanya Satya yang menang. Dengan demikian seorang Dharmawangsa senantiasa menjadi pemenang!. [WHD No. 516 Desember 2009].