Selasa, 21 Desember 2010

Mimpi Bantu Daya Ingat Anda Lebih Oke

ANDA sering bermimpi? Jika iya, Anda beruntung. Pasalnya, mimpi bisa bantu daya ingat Anda lebih oke.
Demikian hasil penelitian terbaru yang dilakukan Universitas California. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa bermimpi membantu orang untuk menyimpan ingatan seseorang lebih baik. Pada kenyataannya, pergerakan mata saat tertidur, di mana salah satu tingkatan tidur saat seseorang bermimpi, merupakan salah satu bagian penyimpanan ingatan. Demikian laporan Daily Express yang dikutip Times of India, Senin (20/12/2010).
Pada penelitian tersebut, Dr Sara Mednick selaku pemimpin penelitian dan peneliti tidur Universitas California memberikan sekelompok orang ujian mengingat sederhana. Mereka kemudian diuji kembali setelah tidur siang dengan mengalami dan tidak mengalami pergerakan mata saat tertidur.


Ternyata pada tidur siang tanpa pergerakan mata saat tertidur, terbukti tidak adanya kemajuan pada ujian ingatan tersebut. Tapi pada mereka yang tidur siang dengan pergerakan mata saat tertidur, kemajuannya hampir 40 persen.

“Pergerakan mata saat tertidur, cukup vital untuk menggabungkan seluruh informasi yang kita lalui setiap hari, dan membuatnya menjadi ingatan untuk digunakan di lain waktu. Hal ini membantu kita mengerti lebih baik keuntungan dari tidur,” jelas Dr Sara.
Sementara itu, profesor psikologi Daniel Schacter dari Harvard mengklaim bahwa ingatan yang bagus membantu manusia melihat masa depannya lebih baik.
“Ingatan membantu informasi dalam pikiran kita untuk kegiatan di masa mendatang,” tutup Daniel.

Lastri Marselina - Okezone

Memilih Air Layak Minum

JUMLAH air layak minum kian berkurang. Dari seluruh air, hanya 1 persen yang layak minum dan bila dikonsumsi akan membahayakan kesehatan. Lantas bagaimana cara memilih air yang bersih dan sehat?

Air merupakan sumber kehidupan karena air tidak tergantikan oleh zat lain. Itu sebabnya, air adalah bagian tak terpisahkan dari makhluk hidup. Penyediaan air yang layak minum sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), perlu mendapatkan perhatian serius dari masyarakat, di antaranya untuk menurunkan tingkat kejadian penyakit infeksi.

Data dari USAID tahun 2008 menyebutkan, ketersediaan air bersih di Indonesia baru mencapai 49 persen pada 2007, dengan separuh penduduk lainnya masih mengandalkan sumber air minum dari air permukaan, air sumur gali, air sungai, dan air hujan yang tidak terlindungi yang sebagian besar tercemar oleh koli tinja.

Dikatakan oleh ahli hidrogeologis dari UPN “Veteran”Yogyakarta, Prof Dr Sari Bahagiarti, jumlah air tawar di bumi hanya 4 persen, dengan hanya kurang dari 1 persen adalah air yang bisa dikonsumsi.

“Sulit dibayangkan, 6,7 miliar penduduk di dunia memperebutkan 0,62 persen air layak minum,” tuturnya dalam acara panel diskusi bertema “Pengelolaan Sumber Air” di Jakarta beberapa waktu lalu.

Air minum yang berkualitas dan layak minum harus dapat diterima secara estetis, tidak keruh, tidak berasa, berbau yang tidak diinginkan, tidak mengandung partikel terlarut dalam jumlah tinggi, dan tidak mengandung kuman serta logam berat yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

“Memperhatikan persediaan air bersih dan cukup, adalah hal yang penting dilakukan untuk menghindari penyakit akibat pencemaran air,” paparnya.

Ahli nutrisi dari Siloam Semanggi Spesialist Clinic, Dr Samuel Oetoro MS SpGK mengatakan, di antara organ-organ tubuh manusia, darah dan otak adalah yang paling tinggi kandungan airnya, masing-masing mencapai 95 persen dan 90 persen. Jadi, sekitar 80 persen tubuh manusia terdiri atas air.

“Peranan air sangatlah penting bagi manusia, bahkan bisa disertakan dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi lainnya,” papar dokter yang akrab disapa dr Sammy ini.

Samuel menjelaskan, selama satu hari, jumlah air yang dikeluarkan oleh tubuh dengan kondisi normal seperti melalui air seni, keringat, dan saluran napas adalah sekitar 2 liter. Jadi, air yang dibutuhkan untuk mengganti cairan dalam tubuh, jumlahnya harus seimbang atau sama,bahkan lebih. Tanpa air kita akan lebih cepat mati dibandingkan tanpa makanan.

Masih dijelaskan Sammy, dampak apabila seseorang kekurangan cairan, di antaranya dehidrasi yang bisa menjadi fatal apabila tidak segera ditangani.Kekurangan 2 persen air akan menimbulkan rasa haus, letih, lemah, mengganggu konsentrasi, dan kemampuan berpikir.

Kehilangan 4–6 persen air, maka tubuh akan mengalami kelemahan yang berat, pucat, selaput lendir kering, buang air kecil berkurang, dan menjadi gelisah. Apabila kekurangan air sebanyak 12 persen, maka kesadaran sudah tidak merespons, buang air kecil tidak ada (anuria), muka terlihat kelabu, tekanan darah menurun, nadi cepat dan pelan, yang semuanya bisa berakibat fatal.

Dari sisi kualitas, artinya sumber air minum tersebut harus memenuhi standar tiga pengukuran, yaitu sifat fisik, kimiawi, dan biologis. Dari aspek fisik, sumber air minum secara estetis dapat diterima seperti tidak berwarna dan tidak bau yang tidak diinginkan, tidak berasa, serta tidak keruh.

Dari aspek kimiawi, bahan air minum tidak boleh mengandung partikel terlarut dalam jumlah tinggi serta logam berat (misalnya Hg, Ni, Pb, Zn,dan Ag) ataupun zat beracun seperti senyawa hidrokarbon dan detergen. Sementara pada aspek biologis, air minum tidak boleh mengandung kuman atau mikroba, khususnya bakteri entamoeba koli.

Ahli hidrogeologis dari Universitas Gajah Mada, Dr Ir Heru Hendrayana mengatakan, selama pengalirannya, air tanah mengalami berbagai proses yang membuat air tanah mengandung berbagai macam mineral dan akhirnya mempunyai kualitas yang berbeda di setiap tempat.

“Pintarlah memilih air layak minum yang berkualitas dan diketahui dari mana air tersebut berasal, seperti memilih air layak minum yang belum banyak dipengaruhi oleh berbagai aktivitas manusia,” ucap Heru.
(Koran SI/Koran SI/ftr)

HUMOR - GUS DUR

Menyengsarakan Anggota DPR

SUATU hari di negara antah berantah, muncul suatu kebijakan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya di negara lain.

Kebijakan itu yakni, setiap orang yang berstatus wakil dinaikkan pangkatnya. Wakil presiden jadi presiden, wakil direktur menjadi direktur, wakil komandan menjadi komandan wakil gubernur menjadi gubernur, wakil RT menjadi ketua RT dan seterusnya. Yang penting dalam program ini tidak ada penggusuran posisi. Perkara ada posisi ganda, itu bisa diatur dalam pembagian tugasnya.

Masalah pembengkakan anggaran, semua ditanggung oleh negara. Sesudah mantap dengan rencana itu, diajukanlah program ini ke DPR untuk mendapatkan persetujuan mereka. Ternyata mereka menolak. Betul-betul menolak keras. Bahkan, ditolak mentah-mentah dengan sangat keras.

Alasannya, program ini menyengsarakan anggota DPR. Bayangkan, mereka akan berubah status dari wakil rakyat menjadi rakyat. (rhs)

Nyebut Bang!

PENAMPILAN Gus Dur ketika memberikan pengantar pidato kenegaraan menyambut HUT ke-55 Kemerdekaan RI di Sidang Paripurna DPR Agustus 2000, jauh berbeda dibanding saat ia hadir di tempat yang sama untuk menjawab interpelasi DPR. Kali ini dia tampak tegang. Wajahnya agak cemberut.

Namun segala ketegangan akhirnya cair juga. Para anggota DPR malah beberapa kali dibuat terpingkal-pingkal oleh guyonannya.

Di tengah-tengah pidato tanpa teks itu, Gus Dur bercerita tentang seorang kondektur bus asal Sumatera Utara yang bergelantungan di pintu bus. Ketika bus melaju kencang, rupanya sopir bus tak tahu kalau sang kondektur terjatuh kesenggol bus lain. Sang kondektur pun jatuh tersungkur. Kepalanya langsung membentur jalan dan retak. Napasnya sudah Senin Kemis terputus-putus.

Saat itulah datang seorang Betawi yang mencoba menolong kondetktur yang sekarat itu.

"Bang nyebut bang, nyebut," katanya sambil mendekatkan mulutnya ke telinga kanan kondektur itu.

Maksud orang Betawi ini, agar kondektur yang sekarat tadi menyebut kalimat Syahadat La ilaha ilallah, sebelum meninggal. Tapi karena kondektur tadi bukan orang Islam, dia mengaitkan permintaan nyebut tadi dengan profesinya.

Maka sesaat sebelum menghembuskan napas terakhirnya, sang kondektur tadi sempat menyebut, "Blo..M-Depo....Blo M-Depo..." (rhs)

Jihad dan Jahid?

AMBON bergejolak. Kerusuhan belum juga reda setelah dua tahun berlangsung. Sebagian masyarakat pun berdemonstrasi di depan Istana Presiden.

Presiden kala itu dijabat oleh Gus Dur, yang telah wafat pada 30 Desember 2009.

Mereka dengan mengatasnamakan kepentingan umat Islam, meminta pemerintah segera menyelesaikan kasus Maluku, yang belum juga tampak tanda-tanda akan reda. Mereka mengancam, kalau pemerintah tidak tidak bisa bisa menyelesaikan kasus itu, mereka akan pergi berjihad ke kota di Indonesia Timur itu.

Melihat massa yang berdemonstrasi begitu banyak, di depan Istana pula, Gus Dur mempersilakan wakil mereka untuk berdialog di dalam Istana.

Dalam dialog yang berlangsung, rupanya titik temu sulit tercapai. Bahkan sesekali terdengar suara keras dari luar ruangan tempat pembicara mereka. Rupanya demonstran bersikeras akan tetap berjihad ke Ambon.

Pertemuan yang hanya berlangsung beberapa menit itu, lantaran tegangnya suasana, akhirnya bubar tanpa kesepakatan tanpa apa-apa.

Dua hari kemudian, kepada sejumlah tamu yang berkunjung ke Istana. Presiden Gus Dur menceritakan peristiwa itu. Dia lalu menyatakan, pemerintah akan bertindak tegas.

"Saya tidak perduli," tandas Gus Dur.

"Yang Kristen kek, yang Islam kek , kalau menggagu keamanan akan kita tindak. Mau jihad kek, mau jahid kek, kalau mengganggu akan ditangkap!"

Para tamunya hanya terngaga saja, tak sempat bertanya. Mestinya mereka boleh tanya, "Kalau jihad sih kita sudah paham. Tapi jahid itu apa artinya Gus?(rhs)

Tarawih Diskon

PADA masa kekuasaan Presiden Habibie, Gus Dur pernah mampir ke rumah Pak Harto di Cendana. Gus Dur mengajak seorang yang disebut dengan "kiai kampung" dari Metro, Lampung Tengah. Waktu itu bulan puasa.

Setelah berbuka dan omong-omong seperlunya, Pak Harto nyeletuk, "Gus Dur dan Pak Kiai ini bakal sampai malam kan di sini?"

"O tidak," jawab Gus Dur. "Saya harus segera pergi, karena ada janji dengan Gus Joyo, adik Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tapi Pak Kiai ini biar tinggal di sini. Maksudnya buat ngimami (menjadi imam) salat taraweh, kan?"

Pak Harto manggut-manggut.

"Tapi," lanjut Gus Dur, "Sebelumnya perlu ada klarifikasi dulu?"

"Klarifikasi apa?" tanya Pak Harto.

"Harus jelas dulu, Tarawihnya mau pakai gaya NU? Kalau NU lama bagaimana, kalau NU baru bagaimana?" tanya Pak Harto makin heran.

"Loh apa ada macam-macam gaya NU? Kalau gaya NU lama, tarawihnya 23 rakaat. Gaya NU baru, diskon 60 persen (11 rakaat)!"

Pak Harto cuma ketawa, karena tidak terlalu paham. Dan Pak Kiai nyeletuk, "Iya, deh. Diskon 60 persen pun nggak apa-apa,"

Harap diketahui, "Tarawih diskon" menjadi 11 rakaat itu adalah gaya Muhammadiyah.

Keluarga Pak Harto sendiri disebut orang "Hidup dengan cara Muhammadiyah, mati dengan cara NU". Sebab, Pak Harto pernah mengaku bahwa dia semasa sekolah di Yogyakarta belajar di SMP Muhammadiyah (jadi "berakidah" Muhammadiyah). Tapi ketika Bu Tien meninggal, rumahnya di Cendana sibuk dengan macam-macam tahlilan (tiga hari, tujuh hari, 40 hari, 100 hari dan seterusnya), yang merupakan trade mark NU.

Jadi kalau Gus Dur menawarkan "Tarawih diskon" 11 rakaat itu, Pak Harto dengan senang hati menerima saja. Itu artinya kembali ke "khittah".(rhs)

Gus Dur dan Megawati Ternyata Saudara?

DALAM dialog TVRI, yang dipandu Garin Nugroho dan Usi Karundeng, saat menjabat sebagai presiden, Gus Dur ditanya tentang hubungannya yang memburuk dengan Megawati. Gus Dur pun membantahnya.

Sebab, kata dia, dirinya dan Megawati masih kerabat cukup dekat. Loh ini benar-benar berita baru. Dari mana asal-usul hubungan kekerabatnnya itu?

"Lah Megawati itu kan anaknya Bung Karno," jawab Gus Dur, tentu semua orang sudah tahu. "Lah Bung Karno itu siapa? Kan keturunan Raden Patah (Raja pertama kerajaan Islam Demak) Saya sendiri siapa? Saya ini keturunan adiknya Raden Patah," imbuhnya.

Tentu saja pernyataan ini membuat pekerjaan besar para sejarahwan Indonesia, untuk mengecek kebenaran info dari Gus Dur itu. Yang jelas jajaran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sendiri sungguh tak paham ihwal hubungan darah Gus Dur dan Megawati ini.

Seorang tokoh PKB, saat ditanya wartawan di Gedung DPR sambil mengangkat tangan mengaku, "Wah soal ini saya tidak tahu menahu," dan buru-buru melangkah pergi, khawatir diminta penjelasan mengenai ketidaktahuannya itu.
(rhs)





Horoskop Periode 20-26 Desember 2010

SAGITARIUS (22 November–21 Desember)
Umum: Jenuh dengan aktivitas minggu ini? Mungkin memang ada yang perlu Anda ubah sedikit dari diri Anda. Lakukan hal yang di luar kebiasaan Anda. Banyak orang mengagumi kebebasan Anda. Namun jangan sampai kebebasan itu akhirnya membuat Anda jadi kebablasan. Kebebasan yang tak terkendali membuat Anda jadi sosok yang egois dan dingin.


Cinta: Butuh lebih dari sekadar kepercayaan untuk membangun sebuah hubungan. Anda juga harus tetap menunjukkan bahwa Anda juga setia serta sabar. Sikap lebih penting ketimbang hanya bualan dan janji-janji, sehingga tak perlu protes jika memang ia tak suka membalas SMS atau BBM Anda.
CAPRICORN (22 Desember–19 Januari)
Umum: Keras kepala menjadi pemicu masalah besar minggu ini. Banyak orang merasa Anda terlalu egois dan keras kepala. Dan tentu ini tak akan mendatangkan keuntungan bagi Anda, baik di hal karier maupun urusan asmara. Yang terbaik adalah meminta nasihat dan pertimbangan, bisa saja ada beberapa hal yang terlewatkan di mata Anda.
Cinta: Adalah sebuah pepatah tua berkata, Anda akan mendapatkan apa yang Anda pertahankan. Yah begitulah, jika memang si dia yang Anda dambakan selama ini dan Anda sudah yakin, untuk apa harus maju mundur lagi?
AQUARIUS (20 Januari–18 Februari)
Umum: Hanya butuh kepercayaan diri untuk melakukan apa yang ingin Anda lakukan. Sayang, itu menjadi permasalahan utama di dalam diri Anda. Apalagi jika Anda sedang sensitif. Semua hal yang besar. Kontrol mood Anda, tak semuanya juga harus sesuai keinginan Anda. Apabila Anda tak ingin dicurangi, jangan berbuat curang. Tak ingin dibohongi jangan terlebih dahulu berbohong.


Cinta: Pastikan masalah di masa lalu tidak terus membayangi. Jika Anda membuatnya menjadi besar maka hubungan Anda akan terasa hambar. Syukuri saja apa yang ada dan jalani hubungan dengan ikhlas.
PISCES (19 Februari–20 Maret)
Umum: Ragu-ragu belum tentu buruk kok, bisa jadi keraguan Anda itu membuat Anda lebih siap lagi karena Anda masih harus memikirkannya beberapa kali lagi. Intinya tak semua hal yang Anda anggap buruk memang buruk. Bisa saja ada alasan baik di belakangnya kan? Apapun yang Anda hadapi minggu ini syukuri saja.


Cinta: Anda beruntung memilih sahabat dan kekasih (bagi yang berpasangan) saat ini, karena merekalah sumber energi Anda di minggu ini. Usahakan menjaga komunikasi dengan mereka, dan jangan biarkan waktu kosong Anda habiskan hanya sendiri saja. Jika memang Anda butuh pendapat, tak perlu malu-malu sebaiknya Anda tanya pada mereka.
ARIES (21 Maret–19 April)
Umum: Minggu ini Anda akan dituntut untuk bersikap lebih dewasa. Tekan semua ego Anda dan banyaknya mengalah dan tidak keras kepala. Tak perlu menjalani semua terburu-buru, karena setiap hal yang terburu-buru justru sulit untuk mendapatkan hasil yang baik.
Cinta: Tetap fokus pada pasangan, hindari hal-hal yang menimbulkan kesalahpahaman karena sudah kewajiban Anda untuk menjaga hubungan sebaik mungkin. Jika memang ada perselisihan kecil, anggap saja itu sebagai percikan cinta yang memang seharusnya Anda alami. Kalau tidak ada pertengkaran, dunia serasa berwarna hitam dan putih saja, ya kan?
TAURUS (20 April–20 Mei)
Umum: Hati-hati terhasut omongan orang yang baru saja dekat dengan Anda. Pastikan Anda masih menjaga kepercayaan terhadap sahabat lama. Awal minggu ini emosi akan meluap-luap di dalam diri Anda. Tetap kendalikan diri karena meluapkan emosi pada pekerjaan akan membuat semuanya jadi gagal berantakan.

Cinta: Sebenarnya Anda memang bukan tipe yang terburu-buru, namun kali ini Anda mulai goyah dan merasa tidak nyaman dengan hubungan yang belum tentu arah ini. Sepertinya Anda terlalu mellow deh. Tak perlu dimasukkan hati omongan orang, jika memang Anda dan pasangan belum siap, mengapa harus dipaksakan sekarang?
GEMINI (21 Mei–21 Juni)
Umum: Minggu ini adalah salah satu minggu terberat, karena pikiran Anda akan menerawang jauh dan terbayang pada seseorang. Kesibukan masih terus berlanjut, dan semakin sedikit waktu untuk orang yang Anda sayangi. Lebih pandai memanage waktu, dan perbanyak introspeksi diri.

Cinta: Jika memang Anda belum siap menjalani hubungan, tak perlu terburu-buru. Usia bukan satu-satunya hal yang perlu dikhawatirkan. Utamakan kesiapan mental Anda, Anda harus memilih dan lebih tegas lagi dengan perasaan Anda saat ini. Jika toh memang Anda merasa yakin, jalani dengan mantap tanpa berpaling lagi ke belakang. Tak perlu menebak-nebak hal yang sebenarnya Anda sudah tahu jawabannya.
CANCER (22 Juni–22 Juli)
Umum: Mengapa harus memaksakan diri untuk percaya kepada orang lain jika hati Anda mengatakan tidak? Ikuti dan percaya saja pada intuisi Anda. Tak apa kok sesekali jujur mengatakan tidak, ketimbang Anda harus menjalani sesuatu yang tidak nyaman menurut Anda.

Cinta: Tak ada kekasih sahabatpun jadi. Mengapa Anda harus menggantungkan diri pada kekasih jika memang Anda bisa melakukannya sendiri? Tunjukkan pada si dia jika memang Anda bisa mandiri. Terus-terusan manja tak akan memecahkan masalah. Mungkin dengan menunjukkan kemandirian, si dia akan luluh dan merasa membutuhkan Anda.
LEO (22 Juli–22 Agustus)
Umum: Tetaplah berada di tengah orang-orang yang memotivasi dari sahabat Anda akan merasa lebih mudah dan ringan dalam melangkah. Jika ada orang lain yang berusaha menurunkan semangat Anda, untuk apa Anda dengarkan mereka. Anda hanya perlu menatap masa depan, bukan malah bingung dengan perkataan tidak penting yang sama sekali tak akan membangun Anda.


Cinta: Sepertinya masalahnya hanya karena Anda terlalu bawel dan pemilih. Ingatlah bahwa tak ada yang sempurna. Berikan kesempatan pada sosok yang ada saat ini, biarkan dia menunjukkan apa yang bisa dia berikan pada Anda. Sehingga Anda akan tahu layak atau tidakkah Anda membalas cintanya.
VIRGO (22 Agustus–22 September)
Umum: Perbedaan dalam pendapat itu wajar, sehingga tak seharusnya Anda menanggapi dengan sikap yang tak acuh. Anda tetap harus menghormati pendapat orang lain, jadi redakan amarah dan lunakkan keras kepala Anda. Mungkin yang membuat segalanya jadi berat adalah karena Anda kurang bersyukur. Coba deh introspeksi diri Anda kembali.


Cinta: Abaikan hal-hal yang Anda anggap muluk. Cinta itu tak hanya untuk diucapkan di bibir saja, namun harus dibarengi dengan aksi yang nyata. Memangnya Anda mau hanya diucapi janji kemudian tak ada tindakan nyata yang menunjukkan hal yang sama seperti diucapkan? Tidak kan? Jangan terbawa keromantisan yang ada di film, karena semua itu hanya skenario belaka.
LIBRA (23 September–22 Oktober)
Umum: Mendekati pergantian tahun Anda cemas akan janji-janji yang sempat Anda buat di awal tahun lalu. Kini Anda mulai berpikir, apa yang harus Anda lakukan di tahun depan. Sudahlah, jangan terlalu menekan diri Anda. Berubah itu memang baik. Namun jika memaksakan diri, Anda akan merasa terbebani. Mulai saja perubahan dari hal-hal kecil.


Cinta: Kesabaran itu adalah kunci utama dalam hal asmara. Sayangnya hampir semua orang bermasalah dengan kesabaran. Sering kali kesabaran diremehkan dan dianggap tak penting. Setiap orang pernah melakukan kesalahan, tinggal bagaimana kita menghadapi dan berusaha memperbaiki kesalahan itu saja.
SCORPIO (23 Oktober–21 November)
Umum: Masa depan bukanlah hal yang perlu ditakutkan, sekalipun masih menjadi misteri, Anda sebaiknya lebih santai dan tak perlu berpikir terlalu keras. Tak akan baik efeknya bagi kesehatan jika Anda terlalu khawatir. Jalani saja setiap harinya dengan maksimal, dengan demikian semuanya akan lebih ringan. Minggu ini Anda akan lebih sensitif, untuk itu kendalikan pikiran Anda agar tidak melulu pikiran negatif merasuk pada benak Anda.
Cinta: Hati-hati lho, tak selamanya cemburu bisa membawa kebahagiaan. Bisa jadi malah membawa masalah yang akhirnya membuat Anda dan si dia jadi semakin jauh. Tak usah pedulikan omongan orang lain, percaya saja dengan hati Anda. Si dia orang yang setia dan tidak berniat macam-macam dengan Anda.

Senin, 20 Desember 2010

Jalan Dedikasi (Bhakti)

Berkatalah Arjuna:
1. Para pemuja yang selalu harmonis, memujaMu, dan para pemuja lainnya yang memuja Yang Tak Terbinasakan, Yang Tak Berbentuk - di antara mereka ini, yang manakah yang lebih terpelajar dalam ilmu pengetahuannya (dalam yoganya.)
Pertanyaan ini mungkin telah menggelitik kita selama ini, karena pasti merupakan salah satu pertanyaan di dalam hati sidang para pembaca yang terhormat. Yang manakah yang lebih baik atau sempurna, memuja Sang Kreshna dalam bentuk manusiaNya, atau memuja Yang Maha Esa (Para Brahman), Yang Maha Agung dan Abadi, Yang Tak Berbentuk, Yang Maha Hadir dan Yang Tak Terbinasakan. Jalan manakah yang terbaik: berbhakti kepada Sang Kreshna atau berkonsentrasi kepada Sang Brahman Yang Tak Terlihat oleh mata duniawi kita? Dalam pemujaan terhadap Sang Kreshna terdapat dua faktor penting, yaitu bhakti dan/atau dedikasi, dan kedua seva atau pekerjaan/pemujaan yang dipersembahkan kepadaNya. Dengan kata lain: bekerja untukNya. Tetapi dalam pemujaan kepada Yang Maha Esa Para Brahman, bhakti atau seva tidaklah dianggap penting, yang penting adalah meditasi secara terus-menerus (berkesinambungan) atau pemfokusan pikiran (mental) yang terus-menerus kepada Yang Maha Esa (kontemplasi). Tentu saja bagi Arjuna di masa itu, dan bagi kita di masa kini, pertanyaan akan timbul, pemujaan yang manakah yang terbaik, sebenarnya bukankah Sang Kreshna dan Para Brahman ini sama saja, dua dalam satu, atau satu yang menjadi dua.
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:

2. Mereka yang memusatkan pikirannya kepadaKu, memujaKu, yang selalu harmonis dan terlapis dengan iman yang tertinggi - merekaKu anggap sebagai yogi-yogi yang terbaik.
3. Mereka yang memuja Yang Maha Tak Terbinasakan, Yang Tak Terterangkan, Yang Tak Berbentuk, Yang Selalu Hadir, Yang Tak Terpikirkan, Yang Tak Berganti-ganti, Yang Tak Bervariasi, Yang Konstan -
4. (Mereka yang memuja dengan cara demikian), menahan indra-indranya, memandang setiap benda secara sama-rata, bahagia dengan kesentosaan setiap makhluk -- mereka pun datang padaKu.
5. Mereka yang pikirannya terpusat kepada Yang Maha Esa (Yang Tak Berbentuk), berusaha secara susah-payah (untuk mencapaiNya); karena jalan ke arah Yang Maha Esa ini sukar bagi mereka yang memiliki raga.
Sang Kreshna mengatakan bahwa kedua bentuk methode dedikasi atau pemujaan di atas adalah benar, tetapi dengan memuja Sang Kreshna dalam bentuk manusia itu lebih efisien atau mudah, karena manusia cenderung memilih bentuk yang mudah dimengerti, sedangkan Yang Maha Esa dalam bentukNya yang tak terlihat dan tak berwujud, tentu saja sukar untuk dihayati dan dijangkau oleh rata-rata manusia, apa lagi yang masih gemar akan kenikmatan duniawi, tetapi ini tidak berarti lalu tidak ada manusia yang mampu langsung mencapaiNya (Para Brahman). Sebenarnya dalam sejarah agama Hindu terdapat banyak bukti bahwa banyak sekali individu-individu suci yang mampu menjangkauNya (mencapai Yang Maha Esa) dan bersatu denganNya. Bagaimana pun juga setelah tahap pemujaan kepada Sang Kreshna maka pemuja ini pada kesempatan berikutnya akan diteruskan kepada Sang Brahman juga. Di sini Sang Kreshna bertindak amat demokratis dan fleksibel, la memperbolehkan para pemuja untuk memuja dengan jalan apa saja sesuai dengan keinginan kita.
6. Mereka yang mengkonsentrasikan setiap tindakan mereka kepadaKu, memandangKu sebagai Tujuan Yang Agung dan Suci, dan yang dengan dedikasi yang tunggal, memujaKu dan bermeditasi kepadaKu,
7. Mereka ini, oh Arjuna, dengan segeraKu selamatkan dari samudra kematian dan kehidupan, mereka yang pikirannya selalu terpusat kepadaKu.
Di sini terlihat Sang Kreshna menganjurkan Arjuna untuk memilih jalan bhakti kepada Sang Kreshna, karena sebagai manusia yang memiliki raga, jalan ini lebih cepat dan mudah. Dan dengan jalan ini pun asalkan dedikasinya tak terpecah-pecah, maka pasti akan diselamatkan dari dunia yang penuh dengan derita ini.
8. Pusatkan padaKu semata pikiranmu dan letakkan pengertianmu di dalamKu. Dan tanpa ragu lagi sesudah ini dikau akan tinggal denganKu semata.
9. Tetapi jika dikau tak mampu secara teguh memusatkan pikiranmu padaKu, sebaiknya dikau berusaha untuk mencapaiKu, oh Arjuna, dengan yoga yang penuh konsentrasi dan usaha yang terus-menerus.
10. Dan juga sekiranya dikau tak mampu untuk mengusahakan konsentrasi, beritikadlah untuk bertindak demi Aku. Bekerjalah demi Aku, dan dikau akan mencapai kesempurnaan.
11. Dan sekiranya dikau tak bersemangat untuk bertindak demikian, maka lepaskan hasrat untuk mendapatkan hasil dari tindakan-tindakanmu, carilah perlindungan dan berdedikasilah kepadaKu, dengan cara mengendalikan dirimu.
Sang Maha Pemurah Hati, Sang Kreshna mulai menerangkan cara-cara atau tahap-tahap dedikasi menuju Sang Kreshna, dan semua keterangan ini diberikan dengan cara yang amat demokratis dan tidak mengikat atau memaksa Arjuna atau pun kita semua. Cara-caraNya amat mudah dan dapat disarikan sebagai berikut ini:
a. Pusatkan pikiran kepadaNya semata dan usahakan agar pengertian kita ada dalam DiriNya (Sang Kreshna atau Yang Maha Esa). Konsentrasi pikiran dan daya intelek kita pada Sang Kreshna, Yang Maha Esa, secara perlahan, terarah dan pasti, adalah cara yang terbaik. Berkonsentrasi kepadaNya walaupun ditengah-tengah kesibukan pekerjaan kita menandakan makin matangnya kita dan dedikasi kita kepadaNya. Pikiran (mind) dan buddhi (intelek atau pengertian yang benar) kalau digabung dan dipusatkan kepadaNya pasti akan menghasilkan keajaiban-keajaiban atau pengalaman-pengalaman yang menakjubkan dan tak dapat dipercaya oleh orang lain. Dengan jalan lain semua ini mengajurkan kita untuk bermeditasi atau bersemedi barang sejenak setiap harinya dengan meluangkan sekedar waktu yang khusus untuk dan kepada Sang Kreshna, Yang Maha Esa dengan penuh bhakti dan dedikasi, dan kasih yang tulus.
b. "Dengan ilmu pengetahuan (yoga) yang penuh usaha, cobalah untuk mencapaiKu," kalau pertama di atas tadi seseorang dianjurkan bermeditasi atau memusatkan pikiran dan inteleknya kepada Sang Kreshna, maka pada anjuranNya yang kedua disabdakan kepada mereka yang tidak mampu melakukannya untuk mencoba dengan usaha-usaha untuk mencapaiNya, dan ini disebut abhyasa-yoga (yoga usaha atau disiplin kebebasaan), yang merupakan tahap yang lebih mudah bagi seseorang. Abhyasa atau kebiasaan memujaNya pasti lambat laun akan meningkat menjadi suatu yang teguh, dan kemudian proses ini lambat laun akan berubah menjadi meditasi pada suatu saat. Untuk menjadi meditasi maka Yang Maha Kuasa pasti akan menunjukkan jalannya waktu saat untuk itu tiba.
c. "Berkemauanlah bekerja demi Aku," kalau samadhi atau meditasi belum dapat dilaksanakan maka sebaiknya abhyasa, tetapi kalau yang kedua ini pun masih sukar untuk dilaksanakan, maka cobalah jalan ketiga yang bersifat tahap yang lebih awal lagi dari dua jalan di atas tadi, yaitu kita sebaiknya mencoba bekerja demi Sang Kreshna, Yang Maha Esa, dalam setiap tindakan kita. Secara mental kita berusaha untuk menyerahkan semua hasil pekerjaan kita kepadaNya. Apapun yang kita lakukan, apakah itu makan dan minum, tidur, bekerja demi keluarga, kewajiban apapun yang kita lakukan, lakukan demi pemujaan terhadap Yang Maha Esa semata, jadikanlah Ia tujuan atau cita-cita akhir kita semuanya.
d. "Serahkan atau pasrahkan semua hasil pekerjaanmu kepadaNya," dan kalau bekerja unrukNya masih terasa sukar, maka Sang Kreshna dengan amat demokratis dan banyak kompromi, dan dengan kasihNya menganjurkan agar hasil atau efek atau buah dari setiap tindakan, pekerjaan, aksi atau perbuatan kita dipersembahkan kepadaNya. Tidak berlebihan bukan anjuran Yang Maha Pengasih ini? Kita tetap saja bekerja demi keluarga dan kewajiban kita, tetapi semua hasil atau efek dari pekerjaan ini secara mental kita persembahkan kepadaNya, dan terserah kepadaNya apapun hasil pekerjaan itu, karena bukankah semua ini dariNya, untukNya dan olehNya juga! Pasrahkanlah semua nya kepada Yang Maha Esa, dan terjadilah apa yang harus terjadi sesuai dengan kehendakNya semata. Berimanlah kepadaNya selalu, dan semuanya akan berakhir dengan baik sesuai dengan rencana-rencanaNya yang telah diaturNya secara cermat dan terperinci masing-masing untuk setiap individu dan makhluk dan lain sebagainya. Sekali semuanya sudah dipasrahkan dan dipersembahkan kepadaNya, maka semua itu bukan masalah atau kenikmatan kita lagi, tetapi sudah menjadi persoalan Yang Maha Esa kembali, jadi terjadilah apa yang harus terjadi. Yang penting adalah iman kita kepadaNya dalam segala-galanya. Serahkanlah setiap sukses dan kegagalan kita kepadaNya, dan jangan sekali-kali meminta atau mengharapkan apapun dariNya kecuali kehendakNya, dan bekerjalah selalu sesuai dengan kewajiban kita. Terimalah semua kehendakNya dengan senang, pasrah, tulus dan jujur dan tanpa pamrih. Berterima-kasihlah untuk semua yang telah diberikanNya kepada kita, apapun itu sifatnya. Sloka-sloka berikutnya banyak menyiratkan pemberian dan kasih-sayang Yang Maha Esa kepada kita semua.
12. llmu pengetahuan itu lebih baik sifatnya daripada usaha konsentrasi yang terus-menerus, meditasi itu lebih baik daripada ilmu pengetahuan, dan yang lebih baik dari meditasi adalah persembahan semua hasil perbuatan karena setelah itu menyusullah kedamaian,
Secara bertahap sebenarnya Sang Kreshna menganjurkan kita meniti jalan ke arah kedamaian dalam hidup ini, yaitu melalui abhyasa (usaha dan konsentrasi) lalu menanjak ke ilmu pengetahuan, alau naik lagi ke meditasi, dan lalu yang lebih tinggi lagi, yaitu pemasrahan secara total semua hasil dari perbuatan kita, dan setelah pemasrahan total ini maka akan ditemui kedamaian. Sebenarnya semua tahap atau jalan yang diajarkan Sang Kreshna itu penting bagi kehidupan spiritual kita, tetapi yang paling penting adalah pemasrahan secara total semua hasil dari perbuatan kita secara sadar dan tulus, dan tanpa pamrih yang diikuti oleh mental atau pikiran dan buddhi kita secara paralel. Inilah sebenarnya rahasia agung dan suci yang tersirat dalam ajaran-ajaran Sang Kreshna dalam Bhagavat Gita, dan kalau kita secara tulus, suci dan sadar melaksanakan semua ini, maka yang dikembalikan kepada kita ini adalah rasa kedamaian yang tak ada taranya, dan apa lagi yang lebih penting untuk sesuatu makhluk hidup di dunia ini kalau bukan rasa damai yang tanpa disertai rasa takut atau khawatir dalam menjalani hidup ini!
13. Seseorang yang tak mempunyai itikad buruk terhadap siapapun (dan apapun), bersikap bersahabat dan selalu simpatik, bebas dari rasa egoisme dan rasa memiliki, dalam suka dan duka bersikap tenang, selalu memaafkan;
14. Sang yogi ini yang selalu menerima apa yang didapatkannya, selalu harmonis dan menjadi tuan (yang berkuasa) atas diri pribadinya sendiri, tegas, dengan pikiran dan intelek yang didedikasikan kepadaKu — ia, pemujaKu ini, adalah yang Kukasihi.
Sang Kreshna menyambung ajaran-ajaran dan keterangan-keterangan spiritual yang penting untuk dipelajari Arjuna dan kita semua. Kita kemudian sekarang ini dapat menilai diri-pribadi kita masing-masing, menilai karakter dan jiwa kita masing-masing apakah jalan-hidup kita sudah sesuai dengan yang dianjurkan Sang Kreshna Yang Maha Pengasih ini atau masih jauh dari itu semua? Dan kalau sudah memenuhi semua kriteria-kriteria di atas maka, apakah ungkapan itu jujur dan tulus dan disertai rasa kesadaran yang sejati, atau hanya dibuat-buat atau dirasakan saja? Berkarakter atau bersifat seperti yang dianjurkan Sang Kreshna ini tidaklah mudah dilakukan oleh manusia yang duniawi sifatnya, walaupun nampaknya anjuran-anjuran Sang Kreshna ini mudah dan sederhana. Diperlukan latihan, penghayatan dan kesadaran yang harus dilalui dengan proses yang memakan waktu dan disiplin spiritual yang ketat dan tegar.
15. Seseorang yang tidak mengusik dunia ini dan tidak terusik oleh dunia ini, yang bebas dari rongrongan rasa nikmat, marah, dan takut — ia adalah yang Kukasihi.
Yang dimaksud Sang Kreshna di atas ini adalah seseorang yang tak mengusik, mengganggu dan menyusahkan orang lain, makhluk-makhluk lain dan alam serta benda-benda di mana pun juga tanpa sesuatu alasan yang dapat dipertanggung-jawabkan; dan tindakan semacam ini tidak dapat ditolerir olehNya walaupun sekecil apapun tindakan ini. Juga orang ini (pemujaNya) sebaliknya tidak merasa susah atau merasa diganggu atau terusik oleh orang maupun makhluk lain, karena sadar bahwa semua ini adalah ciptaan-ciptaanNya dan terjadi karena kehendakNya dan pada dasarnya adalah la juga. Orang yang sadar ini disebut harmonis sifatnya. la telah lepas dari segala bentuk rasa takut, senang, marah dan penampilannya selalu harmonis dan tenang dalam menghadapi segala sesuatu baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Orang semacam ini adalah "kekasihNya" (Yang dikasihiNya).
16. Seseorang yang tak berambisi, yang bersih, cekatan dan cerdik dalam tindakan, tak bernafsu, bebas dari rasa takut, yang mempersembahkan hasil dari setiap keputusannya kepadaKu - ia, pemujaKu adalah yang Kukasihi.
17. Seseorang yang tidak bergembira, tidak membenci, tidak bersedih, tidak bernafsu (berangan-angan untuk memiliki atau menikmati sesuatu), yang mempersembahkan buah dari kebaikan dan keburukan - pemujaKu yang setia adalah yang Kukasihi.
Seseorang yang tak berambisi untuk diri-pribadinya sendiri dan tak mengharapkan apapun juga dari segala tindakan-tindakannya, baik secara fisik, mental maupun spiritual dan material; yang tegas, peka, ahli dan bekerja dengan cekatan demi kebenaran dan hal-hal yang positif; yang secara cepat mengambil keputusan dalam suatu keadaan darurat, dan yang selalu memasrahkan hasil dari setiap keputusan dan perbuatannya baik yang buruk maupun yang baik kepadaNya semata, tidak akan mempunyai rasa takut untuk menghadap masa depan dan semua yang dihadapiNya. Yang tak mementingkan atau menginginkan sesuatu dan tak bersedih hati untuk apapun yang dihadapinya adalah yang "dikasihiNya," yang dikasihi oleh Sang Kreshna. Andaikan sang pemuja yang penuh dedikasi dan kesetiaan ini sudah mempersembahkan dirinya secara total sebagai alat kepada Yang Maha Esa, maka sang alat ini lalu sadar bahwa ia seharusnya berkewajiban untuk dipergunakan oleh Yang Maha Esa sesuai dengan kehendakNya, apapun kehendakNya itu, dan semua hasil pekerjaan yang dilakukannya bukan miliknya tetapi milik Yang Maha Menentukan, jadi lalu apa lagi yang harus disedihkan dan apa lagi yang harus digembirakan? Apa lagi yang harus membuatnya marah, benci atau dendam dan bebagainya? Tidak ada lagi! Semua adalah pekerjaanNya, dan semua adalah alat-alatNya semata yang memainkan peranannya masing-masing di dunia ini; dalam kehidupan kita ini! Semakin ia sadar akan hal ini, semakin dikasihi ia olehNya, Yang Maha Pengasih dan berbahagialah ia yang merasa dikasihi dan dilimpahi oleh kasih Yang Maha Kuasa, karena mencapai status ini tidaklah mudah dan boleh dikatakan amat langka dalam dunia yang penuh dengan ilusi duniawi ini. Yang Maha Esa Sendiri sebenarnya Amat Pengasih, terserah pada kita ingin mendapatkan limpahan kasihNya yang bersinar terus secara sama rata untuk setiap makhluk-makhlukNya, atau terserah kita untuk menolak kasih ini dan lebih erat lagi merangkul nafsu-nafsu duniawi kita dan terikat erat kepada nafsu-nafsu ini.
18. (Seseorang) yang bersikap sama terhadap seorang teman atau seorang musuh, sama terhadap dingin dan panas, terhadap kenikmatan dan penderitaan, bebas dari keterikatan,
19. Menerima secara sama rata pujian dan fitnah, bersikap diam, merasa cukup dengan apa yang diterimanya, tak memiliki rumah, berpikiran stabil, ia pemujaKu yang setia, adalah orang yangKu kasihi.
Andaikan seseorang bersikap sama terhadap semua kejadian yang menimpanya, seperti senang dan susah, pujian atau hinaan, panas atau dingin, dan merasa semua itu sama saja kadarnya, dan selalu merasa cukup dengan apa yang melandanya dan apa yang diterimanya dan menganggapnya sebagai pemberianNya jua, maka orang suci semacam ini adalah orang yang dikasihiNya. Andaikan ia tenang dan damai dalam menghadapi segala sesuatu dan menyebarkan kedamaian ini pada orang-orang di sekitarnya dan pada dirinya secara senantiasa, maka jadilah ia seorang mauni (yang tenang dan damai secara lahir dan batin). Andaikan ia merasa tak memiliki rumah atau tempat-tinggal (aniketah), yaitu dengan kata lain berarti ia merasa dunia ini bukan milik atau rumahnya yang sejati, tetapi ia hanya seorang musafir yang sedang melakukan perjalanannya (yatra) demi suatu kewajiban yang disandangnya demi Yang Maha Esa, dan merasa bahwa rumah atau tempat-tinggalnya yang abadi ada di dalam Sang Kreshna, Yang Maha Esa, maka jadilah ia seorang yang paling dikasihi oleh Sang Kreshna, dan manusia suci semacam ini selalu tersenyum penuh arti dalam segala tindakannya; ia selalu bersikap tenang-tenang saja penuh arti.
20. Mereka, yang benar-benar memuja dharma (hukum) yang abadi ini, seperti yang diajarkan ini, dan penuh dengan iman, mempercayaiKu sebagai Yang Maha Agung dan Suci -- mereka, para pemujaKu, adalah yangKu kasihi.
Dan seorang pemuja yang tulus yang memuja dan menjalani dharma atau hukum yang diajarkan Sang Kreshna ini, yang adalah suatu bentuk dharma yang abadi dan tak akan pernah sirna sepanjang masa, dan yang mengantarkan kita semua kepada tujuan Yang Agung dan Suci, yaitu Sang Kreshna atau Yang Maha Esa itu Sendiri; pemuja semacam ini adalah yang dikasihiNya. Jelas sudah pesan-pesan Sang Kreshna untuk kita semuanya. Om Tat Sat.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya-Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka bob ke dua-belas ini disebut:
Bhakti Yoga Atau Ilmu pengetahuan Tentang Dedikasi

Falsafah Kehidupan

Berkatalah Arjuna:
Oh Kreshna, daku berhasrat sekali untuk mempelajari hal-hal tentang Prakriti (alam) dan Purusha (Sang Jiwa), tentang ladang dan tentang Yang Mengetahui ladang ini (Sang Pengenal ladang), tentang ilmu pengetahuan (kebijaksanaan) dan tentang hal-hal yang perlu untuk diketahui.
Sloka di atas ini tak bernomor, dan sering tak diterjemahkan karena dianggap sebuah sisipan.
Berkatalah Yang Maha Pengasih:

1. Raga ini, oh Arjuna, disebut sebagai ladang. Seseorang yang sadar (tahu, mengenal) akan hal ini disebut sebagai sang pengenal ladang ini, oleh mereka yang mengetahuinya (para resi).
2. Kenalilah Aku sebagai Yang Mengetahui ladang dari semua ladang-ladang, oh Arjuna! Ilmu pengetahuan tentang ladang dan yang mengetahuinya -adalah ilmu pengetahuan yang Ku anggap sebagai ilmu pengetahuan yang sejati.
Dalam bab ini Sang Kreshna menerangkan tentang filsafat (falsafah) kehidupan ini; ibaratnya menilai suatu kehidupan di atas batu-karang yang kering dan gersang, maka setiap manusia sebenarnya memerlukan suatu filsafat-kehidupan (suatu pegangan) agar kehidupan dapat dijalaninya dengan sempurna. Dan untuk itu, pertama-tama amat penting untuk menyadari atau memahami dua sifat dominan — manusia dan alam semesta kedua sifat ini disebut — Prakriti dan Purusha. Prakriti adalah benda atau raga, dan diibaratkan sebagai ladang (kshetrari), dan Purusha adalah Sang Jiwa yang disebut dan dikenal sebagai Yang mengetahui tentang ladang ini (Kshetragnd).
Bahkan dalam Injil pun Yesus Kristus pun sering menyebut tentang ladang dan penabur benih dalam parabel-parabelnya. Jadi bukan saja hal ini disiratkan dalam agama Hindu saja tetapi dapat juga dilihat dan dihayati dalam agama-agama lainnya. Di sini dapat dikatakan bahwa yang disebut ladang adalah raga kita sendiri dan Sang Penabur Benih adalah Sang Kreshna, Yang Maha Mengetahui ladang ini, la bersemayam di dalam diri kita. Dan yang disebutkan sebagai benih di sini adalah kebijaksanaan (gnanam), yang selalu ditaburkan olehNya untuk kita semua agar sadar dan kembali ke jalanNya. Sang Kreshna di sini berbicara tentang ladang, tentang yang mengenal ladang dan tentang ilmu pengetahuan dalam bentuk kebijaksanaan. Prakriti adalah ladang: di dalamnya setiap benda dan makhluk tumbuh dan berkembang, lalu layu dan akhirnya binasa, dan hidup dan tumbuh baru lagi. Prakriti adalah suatu bentuk aktivitas. Di dalam Prakriti dituai buah atau hasil dari setiap tindakan dan perbuatan kita ~ ibarat sebuah ladang saja. Fungsi Prakriti adalah aktivitas tanpa dilandasi oleh kesadaran sejati.
Gnanam (kebijaksanaan) adalah benih yang ditabur dan dituai dari ladang ini; kebijaksanaan ini adalah ilmu pengetahuan tentang ladang dan tentang Yang Mengetahui atau Yang Mengenal ladang ini. Di alam semesta ini apapun yang kita lihat adalah gabungan atau kombinasi dari Purusha dan Prakriti, antara Sang Jiwa dan benda, antara roh dan raga. Sang Jiwa, Sang Purusha adalah Kshetragna (Yang Mengetahui Ladang) dan Yang Mengetahui adalah Sang Kreshna, yang dengan kata lain adalah Yang Maha Esa itu Sendiri.
3. Dengarkanlah secara terperinci, dariKu, apakah ladang itu, dan apakah sifatnya, apakah modifikasi-modifikasinya, bilakah la (ada), apakah la (Yang Mengetahui tentang ladang) itu, dan apa sajakah kekuatan-kekuatanNya?
4. Para resi telah meyabdakannya dengan berbagai cara, dengan berbagai mantra, dengan sabda-sabda dalam Brahma-Sutra — disabdakan dengan penuh alasan dan kata-kata yang konklusif, penuh dengan kebijaksanaan Yang Maha Abadi.
Ajaran mengenai ladang dan yang mengetahui ladang ini, bukan ajaran baru, tetapi sudah muncul dalam pustaka-pustaka dan ajaran-ajaran Hindu kuno, dan sudah dikenal oleh orang-orang yang mempelajarinya di zaman dahulu.
5. Lima elemen kasar, dan rasa "ke-aku-an," juga pengertian akan yang tak berbentuk kesepuluh indra dan pikiran, dan kelima indra yang utama,
6. Keinginan (nafsu) dan rasa-benci, kenikmatan dan penderitaan, bentuk kolektif, intelegensia, keteguhan - semua ini, secara terperinci diterangkan, sebagai yang mencakup ladang ini dan modifikasi-modifikasinya.
Kshetra (atau ladang) ini terdiri dan 24 prinsip, yaitu:
1. Avyakta - yang tak berbentuk. Ini adalah Sang Maya (Ilusi-Ilahi), di mana semua akan terserap sewaktu terjadi pralaya atau kiamat.
2. Ahankara — rasa ego, rasa ego yang didasarkan kepada pengalaman-pengalaman pribadi, pada personalitas, pada diri-pribadi, merupakan kesadaran dari dan untuk diri pribadi saja.
3. Buddhi — alasan-alasan, pemahaman, pengertian yang membedakan antara yang benar dan salah, intuisi, kekuatan untuk langsung mengetahui sesuatu.
4. Mana — sering disebut juga sebagai ekam atau satu;
(5-14) Terdiri dari sepuluh bentuk indra, yaitu terbagi dua. Yang lima pertama adalah gnana-indra yang terdiri dari mata (penglihatan), kuping (pendengaran), hidung (penciuman), lidah (rasa), sentuhan atau organ aksi. Kemudian lima indra yang berikutnya adalah karma-indra atau juga disebut indra-indra fungsi yang terdiri dari tangan, kaki, mulut (wicara), anus dan penis (kemaluan).
(15-19) Kemudian yang disebut lima indra yang penting (indriyah-gocharah) adalah sparsha (sentuhan), rasa (merasakan), rupa (pengetahuan), gandha (penciuman) dan shabda (suara).
(20-24) Lima elemen kasar (mahabhuta) adalah bhum (tanah), apa (air) anala (api), vayu (udara) dan khan (ether).
Kshetra atau ladang ini mempunyai lima vikara, yaitu bentuk atau transformasi, atau bisa disebut juga penggantian atau modifikasi, dan sebagainya. Yang masing-masing adalah:
a. iccha dan dvesha — yaitu keinginan dan aversi (rasa dualisme yang saling bertentangan seperti suka-tak suka, panas-dingin, benci-sayang, dan lain sebagainya);
b. sukham dan dukham — yaitu kenikmatan dan penderitaan;
c. sanghata — yaitu bentuk kolektif tubuh atau raga;
d. chetana — yaitu kesadaran, intelegensia, pikiran dan pengetahuan;
e. dhriti — yaitu keteguhan, ketegaran dan tekad yang kuat.
Harus diketahui bahwa fungsi psikological seperti nafsu (keinginan) dan aversi, kenikmatan, dan penderitaan, intelegensia, keteguhan adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan kshetra (ladang) dan bukan pada Sang Atman. Kshetra atau ladang ini terbentuk dari raga dan pikiran dan bukan dari Sang Atman. Sebaliknya kshetra ini merupakan tempat bersemayam Sang Atman ini. Vikara atau modifikasi timbul dalam kshetra karena sang jiwa kita berhubungan dengan Sang Maya; Sang Maya kemudian mempermainkan jiwa kita dan timbullah gelombang-gelombang dan pergantian-pergantian dalam pikiran dan jiwa kita, yang selalu terombang-ambing oleh permainan atau ilusi Sang Maya ini. Sekali terlibat dan tenggelam dalam manis dan pahitnya Sang Maya maka sukarlah bagi seorang manusia untuk lepas dari cengkeramannya dan jadilah kita budak duniawi ini. Jiwa kita dengan statusnya yang suci (Sang Atman) tidak ditakdirkan sebagai tuan dari Sang Maya ini, lain dari para Avatar a, yaitu Yang Maha Esa yang menjelma menjadi manusia seperti Sang Kreshna dan Sang Rama, mereka ini masing-masing pada zamannya sewaktu bereinkarnasi sebagai manusia tidak dapat dikuasai oleh Sang Maya, sebaliknya merekalah yang menguasai atau menjadi tuan dari Sang Maya ini.
7. Rendah-diri, tidak berpura-pura, tidak menyakiti makhluk lainnya kesabaran, bertindak berdasarkan kebenaran, merawat dan bekerja demi guru-spiritual, pembersihan diri (raga dan pikiran), ketegaran dan kendali-diri,
8. Bersikap tidak acuh pada benda-benda atau hal-hal yang berhubungan dengan indra-indra, tak mempunyai rasa egois, mengenal akan sifat-sifat buruk dari kelahiran, kematian, masa-tua, penyakit dan penderitaan.
9. Tanpa keterikatan, tidak mengidentifikasikan dirinya dengan putra-putrinya, dengan istri dan rumahnya, dan selalu bersikap sama rata secara konstan terhadap hal-hal dan kejadian-kejadian yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan.
10. Dedikasi kepadaKu tanpa henti-hentinya, melalui yoga (ilmu pengetahuan), menyepikan diri ke tempat-tempat yang tenang, tak berkeinginan untuk berkumpul secara duniawi.
11. Selalu berusaha untuk mempelajari ilmu pengetahuan tentang Sang Atman, intuisi langsung dengan maksud untuk mengenal Kebenaran - inilah yang disebut kebijaksanaan. Semua hal yang berlawanan dengan ini adalah kebodohan (tak-berpengetahuan).
Pelajaran atau jalan kebijaksanaan dipaparkan dengan baik dan terperinci oleh Sang Kreshna di atas. Semuanya berjumlah 20 karakter atau sifat, dan kedua-puluh sifat ini adalah akar atau fondasi dari kebijaksanaan yang akan mengantarkan seseorang kepada Yang Maha Esa, ke ilmu pengetahuan sejati tentangNya. Kebijaksanaan ini kalau dipelajari dengan seksama adalah indikasi dari sifat-sifat moral yang amat super atau prima, yang menjadi dasar dari tindakan-tindakan kita yang baik dan benar, yang lepas dari rasa duniawi, dan rasa memiliki, dari nafsu-nafsu dan malahan menjadi dasar yang kokoh dan benar dari setiap tindakan kita dan mendorong kita untuk lebih banyak melihat ke dalam diri kita sendiri. Kedua-puluh sifat ini menunjukkan arah seseorang kepadaNya tanpa pamrih dan penuh dedikasi dan kebenaran bagiNya semata.
12. Akan Ku sabdakan tentang sesuatu yang harus diketahui, yang setelah diketahui, maka tercapailah keabadian — Sang Brahman, Yang Tak bermula, Suci dan Agung, Yang dapat disebut Sat (Berbentuk) dan juga dapat disebut Asat (Tidak Berbentuk).
Yang mengetahui ladang ini disebut Kshetmgna, lalah Yang Maha Suci dan Agung Para Brahman. la tak dapat dikualifikasikan karena Yang Maha Esa ini di luar kualifikasi yang dibuat manusia, seyogyanyalah la lalu disebut sat dan asat (berbentuk dan tidak berbentuk). la diluar kedua faktor ini dan Maha Agung dan Suci. Ia hadir dan ada tetapi pada saat yang bersamaan Ia pun tak hadir dan tak ada atau tak terlihat. Yang Maha Esa tak dapat dikualifikasikan atau digambarkan karena dengan begitu malahan membatasiNya, dan tak mungkin Ia dapat dibatasi karena Maha Tak Terbatas Yang Maha Esa ini.
13. Di mana pun Sang Brahman ini mempunyai tangan-tangan dan kaki-kaki, di mana pun Ia bermata, berkepala dan bermulut. Ia mendengar di setiap tempat, dan Ia tinggal di dunia ini, menyelimuti (meliput) semuanya.
14. Ia bersinar di semua fungsi indra-indra, tetapi lepas dari indra-indra ini. tak terikat, tetapi Ia lah penunjang semuanya. Ia bebas dari segala kualitas (Nirgunam), tetapi Ia juga yang menikmati semua kualitas.
Sang Brahman ada tapi tak ada. Ia hadir dalam Prakriti tetapi tak terlihat oleh kita. Ia sukar menemukan istilah yang tepat tentang Yang Maha Esa ini dan Ia hanya dapat dijelaskan secara minim dalam paradoks-paradoks saja. Ia hadir dalam setiap hal, sifat, bentuk atau aksi, tetapi tak pernah terlibat secara langsung.
15. Di luar dan di dalam semua makhluk Ia hadir dan juga bergerak. Terlalu sukar untuk dipersepsikan Ia ini. Ia dekat tetapi juga Ia amat jauh.
Benar kata filsuf Meister Eckhart, "Semakin dalam Tuhan di dalam diri sesuatu, semakin di luar Ia berada dari sesuatu tersebut." Ia bergerak tetapi tanpa gerak, Ia dekat tapi jauh. Ia tak dapat diterangkan tetapi Ia dapat dirasakan kehadiranNya ditengah-tengah kita
16. Ia hadir tak terbagi-bagi di dalam makhluk-makhluk, tetapi Ia bersemayam secara sama rata (di dalam diri makhluk-makhluk seakan-akan terpisah-pisah). Ia penunjang semua makhluk dan benda. Ia pemusnah kehidupan, tetapi Ia juga pemberi kehidupan.
Di atas sudah cukup tergambar atau terbayang atau terasa dan terlihat oleh kita akan semua kebesaranNya., sebagai pemusnah sekaligus pemberi kehidupan, sebagai yang tak ada di dalam setiap yang ada, sebagai yang beraksi dalam setiap tak-aksi, atau pun sebaliknya.
17. Ia adalah Cahaya dari semua cahaya. Ia yang dikatakan sebagai di luar kegelapan. Ia adalah kebijaksanaan, tujuan dan kebijaksanaan yang dicapai dengan kebijaksanaan. Ia bersemayam di dalam hati semuanya.
Salah satu sifatNya adalah Cahaya atau Nur, Sang Surya Yang Eka, tetapi bersinar dalam hati setiap insan dan makhluk. Ia juga adalah ilmu pengetahuan yang sejati, sekaligus obyek dan tujuan ilmu pengetahuan sejati tersebut. Para pencariNya melakukan perjalanan spiritual guna mencariNya, justru dari luar ke dalam diri mereka sendiri karena Ia bersemayam dalam diri setiap insan dan makhluk ciptaanNya. Ia hadir di mana-mana, tangan-tangan dan kakinya tersebar di setiap sudut dan penjuru dunia. Ia adalah satu-satuNya yang berada di kegelapan, karena Ia lah Cahaya dari semua cahaya.
18. Begitulah telah Ku katakan kepadamu, secara singkat dan terperinci, tentang ladang ini, tentang ilmu pengetahuan dan obyek dari ilmu pengetahuan ini. PemujaKu, setelah mengetahui ini, memasuki DiriKu.
Tiga hal yang penting untuk diketahui, yaitu ladang (kshetra); ilmu pengetahuan (gnana), yang dimaksud ini bukan ilmu pengetahuan yang ilmiah, tetapi justru yang gaib dan dianggap sejati; obyek dari ilmu pengetahuan ini (gneya). Mengenal, mengetahui atau menghayati ketiga prinsip ini dalam kehidupan kita sehari-hari berarti mencapai Yang Maha Esa, Yang Agung dan Suci lepas dari segala penderitaan. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan ini akan mencapai cinta-kasih (bhakti). Yang Maha Esa dapat dicapai oleh mereka yang sederhana, rendah-hati dan penuh kasih, yang telah memurnikan jiwa dan hatinya. Yang ingin mengenalNya dengan baik harus belajar terlebih dahulu untuk mencintai semuanya, sadar bahwa semua orang dan makhluk dan benda adalah alat-alatNya belaka yang harus memainkan peranannya masing-masing di kehidupan ini. Setelah sadar akan hakikat cinta-kasih yang sejati maka orang ini akan meningkat untuk 'bercinta-kasih denganNya." Hidup ini lalu berubah penuh dengan cinta-kasihNya. Hidup tidak seharusnya dihitung dari tahun-ke-tahun atau hari-ke-hari, tetapi dari dalamnya cinta-kasih kita terhadapNya dan terhadap semua ciptaan-ciptaanNya. Bagaimana seseorang yang suci-murni dapat merusak atau mencederai ciptaan-ciptaanNya yang lain, sekiranya la betul-betul telah murni cinta-kasihnya pada Yang Maha Esa?
Seorang mistik bernama Bayazid sekali masa pernah ditanya umurnya, dan ia menjawab baru berusia empat tahun. Padahal usianya telah mencapai 74 tahun. Tentu saja para penanya menjadi heran karenanya. Tetapi Bayazid dengan rendah hati menerangkan bahwa selama 70 tahun ia jauh dari Tuhan, dan dekat dengan dunia. Baru empat tahun terakhir ini ia merasakan dekat kepadaNya dan merasakan kasih-sayangNya yang tak terhingga, mendengarkanNya Yang tak pernah didengarNya sebelum ini, merasakanNya Yang tak pernah tersentuh olehNya selama ini. "Jadi baru empat tahun ini aku betul-betul hidup!" seru Bayazid.
19. Ketahuilah bahwa Prakriti (unsur benda atau sifat) dan Purusha (sang Jiwa), kedua-duanya tidak bermula. Dan ketahuilah bahwa semua modifikasi dan guna (kualitas) lahir dariNya.
Prakriti dan Purusha tak bermula dan sudah hadir sebelum penciptaan dunia. Tetapi semua pergantian, modifikasi dan sifat-sifat alam ini berasal dari Prakriti, yang lahir dariNya.
20. Benda atau alam dikatakan sebagai yang menjadi penyebab yang memancarkan sebab dan akibat; sang Jiwa dikatakan sebagai penyebab dari pengalaman suka dan duka.
21. Sang Jiwa yang bersemayam di dalam benda mencicipi kualitas-kualitas (guna) yang lahir dari benda. Keterikatannya terhadap guna inilah yang menjadi penyebab kelahirannya secara baik dan buruk.
Kita lihat sekarang dalam sloka 19-23 tersirat adanya pemikiran baru yang terbagi pada tiga prinsip, yaitu Prakriti-Benda-Alam, Purusha-Jiwa-Roh dan Purusha-Parah, Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Maha Suci. Purusha dan Prakriti, kedua-duanya bersifat anadi (yaitu tanpa mula) dan terpancar atau berasal dari Yang Maha Abadi, Yang Maha Esa, Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Maha Suci. Sang Purusha, atau Jiwa yang telah tergabung dan bersatu dengan Sang Prakriti, menikmati semua pengalaman-pengalaman duniawi seperti suka-duka dan lain sebagainya. Karena Jiwa bebas berkehendak maka ia sudah menyalah-gunakan kehadirannya dalam raga dan ia hanya tenggelam dalam kenikmatan duniawi ini dan terjebak oleh ikatan waktu dan ruang.
Jiwa sebenarnya adalah bentuk spiritual tetapi ia diberikan kebebasan untuk menuju kepada Yang Maha Esa. la dapat memberikan kasih dan dedikasinya kepada Yang Maha Esa atau kepada Sang Maya (Sang Ilusi-Ilahi). Sekali ia menjadi budak Sang Maya ia akan bertolak-belakang dari Yang Maha Esa. Dan sekali ia terjebak dalam ilusi ini, maka ia akan timbul-tenggelam di dalamnya, terjebak dalam ikatan waktu dan spasi duniawi ini.
22. Dalam raga (yang dimaksud di sini adalah raga manusia) bersemayam Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Suci. la disebut sebagai Pengamat, Yang Mengabulkan, Yang Menunjang, Yang Menikmati Pengalaman, Tuhan Yang Agung, dan Sang Jati Diri Yang Agung dan Suci.
Dalam raga setiap makhluk terdapat Sang Jati Diri (Sang Atman) Yang dikenal atau disebut juga sebagai Purusha Parah, Sang Purusha Yang Maha Agung dan Suci. Ia lah sebenarnya Tuhan yang Maha Esa dan Agung dengan nama dan sebutan yang beraneka-ragam. Yang Maha Esa bersemayam dalam diri kita masing-masing sebagai Pengamat, dari setiap tindakan dan pikiran kita; dari sang Jiwa atau Roh kita. la membiarkan tindakan kita untuk kemudian dikoreksi yang salah (teguran hati nurani selalu hadir sebenarnya dalam setiap tindakan kita yang salah, tetapi sering sekali kita mengabaikannya karena faktor-faktor ego duniawi kita). Ia, Yang Maha Kuasa, sebenarnya hadir dalam setiap makhluk. Seandainya Sang Jiwa atau Roh kita jatuh ke jalan Sang Maya, maka Sang Paratman atau Sahabat Pengamat kita ini pun mengikutinya, menegurnya, menjaganya, memberikan peringatan-peringatan kepada sang Jiwa kita ini, dan tak sekalipun Sang Paratman ini mengabaikannya, Ia bahkan menuntun sang Jiwa ini kembali ke jalannya yang benar. Dengan caraNya Sendiri Sang Paratman ini mengajari, mempengaruhi dan mengajak sang Jiwa yang tersesat ini kembali ke arahNya. Maha Besar dan Pengasih, Ia sebenarnya, karena selalu menyelamatkan kita semua dari jalan kesesatan dalam hidup ini, agar tercapai misi kita yang seharusnya kita lakukan, yaitu bersatu kembali denganNya. Sang Paratman adalah "bintang-harapan" kita yang akan selalu menuntun kita dalam kegelapan duniawi ini, sehingga akhirnya tak ada satu jiwa pun yang akan tersesat, semuanya akan dituntun ke arahNya. Sebenarnya Ia adalah tujuan kita semuanya, kalau saja kita mau menyadari hal ini secara sejati.
23. Seseorang yang mengetahui (menyadari) tentang Purusha dan Prakriti dengan segala kualitas-kualitasnya, apapun keadaannya -- ia tak akan lahir kembali.
Seseorang yang sadar tentang pengetahuan Purusha dan Prakriti ini dengan ketiga guna (sifat atau kualitas) nya, akan menuju ke arah pembebasan, yaitu lepas dari dunia ini dan bersatu denganNya. Seseorang yang benar-benar sadar siapa Sang Purusha Yang Maha Agung dan Suci ini betul-betul adalah seorang yang telah bebas.
24. Sementara orang menyaksikan Sang Atman melalui Sang Atman dengan jalan meditasi (dhyana), sementara orang lagi menyaksikan melalui jalan Sankhya-yoga (jalan ilmu pengetahuan), dan sementara orang lagi melalui Yoga perbuatan (tindakan, aksi atau pekerjaan)
25. Yang lainnya lagi, tidak mengenal jalan-jalan yoga ini, memuja, karena pernah mendengarkannya dari yang lain-lainnya; dan mereka pun lepas dari kematian, pedoman mereka adalah skripsi-skripsi (shruti).
Ada empat metode yang menuntun kita ke arah Yang Maha Esa, atau yang disebut juga Purusha Yang Maha Agung dan Suci dan juga boleh disebut Kebebasan atau Penerangan. Masing-masing metode terurai di bawah ini:
a. Meditasi (dhyana) — Banyak yang melakukan metode ini, dan menemukan Sang Jati Diri di dalam dirinya sendiri. Dengan bermeditasi kita mencoba untuk berhubungan dengan Sang Atman secara konstan dan penuh konsentrasi, dengan menjauhkan segala gangguan. Yang penting dalam meditasi adalah ketenangan, dan makin kita tenang dan tak terusik oleh pikiran dan keadaan-keadaan di sekitar kita, maka makin mendekatlah kita kepadaNya. Berbicara tanpa henti malahan membuang-buang energi. Sebaliknya ketenangan dalam meditasi menjauhkan kita dari hal-hal yang buruk dan kesalahan-kesalahan duniawi. Sebaiknya dan seharusnya setiap hari kita menyediakan sedikit waktu kita untuk berdiam diri dan menyatu denganNya. Dapat kita mulai dengan lima menit saja dahulu, kemudian meningkat sampai setengah atau satu jam secara bertahap. Janganlah jadi budak dari pekerjaan-pekerjaan kita, dari kenikmatan dan penderitaan kita, dan dari kesibukan kita yang tak kunjung ada habisnya. Sisihkanlah sejenak waktu setiap pagi dan malam untukNya, dan dapatkanlah kenikmatan yang tak dapat diperoleh di semua kesibukan, kenikmatan dan penderitaan duniawi kita. Sekali tercapai komunikasi denganNya, kita akan mengalami keajaiban-keajaiban yang akan mengubah cara hidup kita, dan makin tabah dan tegarlah kita dalam menghadapi kehidupan yang unik ini. Ketenangan yang utama adalah dengan memulainya dalam kehidupan dan diri kita sendiri, dan jalan terbaik adalah dengan berlatih meditasi dan selalu berusaha untuk bersatu denganNya, Yang sebenarnya bersemayam tidak jauh, tetapi dalam diri kita masing-masing, agar tercapai jalan kehidupan yang suci dan sempurna.
Ada yang perlu dilakukan dalam bermeditasi, yaitu mengucapkan japa secara berulang-ulang. Japa atau mantra ini dapat bermacam-macam sesuai yang diberikan oleh sang guru meditasi, tetapi semakin pendek japa ini, semakin efektif hasilnya. Misalnya satu kata OM atau Tuhan atau Allah atau Hari atau Rama atau Kreshna atau Yesus, dan lain sebagainya yang sebaiknya dipilih sendiri yang sesuai dengan diri kita pribadi, yang sesuai dengan hati sebaiknya dipilih sendiri yang sesuai dengan diri kita pribadi, yang sesuai dengan hati nurani dan panggilan jiwa kita sendiri. Pilihlah atau temukanlah sendiri satu kata atau beberapa kalimat puja-puji yang menggambarkan kebesaran Yang Maha Esa, dan sewaktu bermeditasi ucapkanlah berulang-ulang penuh konsentrasi, dedikasi dan kasih. Lama-kelamaan kata yang spesifik tersebut atau juga japa dan mantra yang telah teringat itu akan terus mengiang atau terucap dalam kita melakukan pekerjaan kita sehari-hari, bahkan di tengah-tengah kesibukan atau sedang berolah-raga misalnya. Kalau ada problem yang datang mengganggu ucapkan kata sakti tersebut, memohon Yang Maha Esa untuk melindungi kita semua, dan usahakanlah untuk menyatu denganNya selalu di mana saja dan kapan saja dan lama-kelamaan perhatikanlah efeknya. Seluruh hidup kita akan berubah menjadi lebih stabil dan tenang, dan kita jauh dari segala gejolak nafsu kita dan juga jauh faktor-faktor buruk dan negatif, secara bertahap tetapi pasti hidup akan bertambah tenang, stabil dan kesadaran akan menyusup masuk ke dalam diri kita berkat kasihNya yang tak terbatas.
Bagi sementara orang atau para pemula, bermeditasi dengan membayangkan atau memusatkan pikiran pada suatu bentuk juga sangat bermanfaat; contoh, membayangkan wajah atau figur Sang Kreshna, Rama, Shiva, Buddha untuk mereka yang beragama Hindu dan Buddha. Dan untuk mereka yang beriman Kristiani dengan membayangkan figur Tuhan Yesus, dan lain sebagainya sesuai dengan masing-masing kepercayaannya.
b. Metode Sankhya - metode dengan dasar intelektual atau ilmu pengetahuan yang mencoba atau mempelajari tentang Sang Jati Diri, sebagai sebagian dari Yang Maha Esa.
c. Karma-yoga — yaitu metode kerja atau tekad tanpa pamrih dan penuh dengan pengorbanan dan disiplin bagiNya semata. Sang karma-yogi dalam hal ini melakukan semua perbuatan, tugas dan pekerjaan duniawinya dalam bentuk dedikasinya kepada Yang Maha Esa dan tak mengharapkan apapun juga dari hasil pekerjaannya ini, yang semuanya diserahkan secara utuh dan bulat-bulat kembali kepadaNya. Hidup sang karma yogi jadi suci dan bersih karena setiap tindakan dan efeknya dipasrahkan kepada Yang Maha Esa dan ia selalu berpikir dan berkata terjadilah kehendakNya" dan ia pun menerima semua kehendakNya tanpa protes dan penuh ketenangan, walaupun yang ia terima itu dalam bentuk suka dan duka, nikmat atau penderitaan, baik atau buruk, positif atau negatif, semuanya diterima dengan kasih dan dedikasi sebagai kehendak Yang Maha Kuasa juga. Hidupnya adalah pencetusan dari kehendak Yang Maha Kuasa, dan diterimanya tanpa pamrih.
d. Metode upasna — dalam metode ini seseorang memuja Yang Maha Esa sesuai dengan yang dipelajarinya atau yang didengarkannya dari sang guru atau orang-orang lain. Cara ini dilakukan oleh para pemula. Dan lama-kelamaan mereka pun terangkat ke permukaan pemujaan mereka dan mendapatkan penerangan Ilahi. Ternyata Yang Maha Pengasih secara amat bebas membuka berbagai jalan untuk mencapaiNya, jalan atau metode apa saja yang diambil seseorang, yang penting adalah dedikasi, kesetiaan, dan kasih yang tulus kepadaNya, dan Ia akan selalu beserta kita menuntun kita ke jalanNya yang terang dan suci.
26. Benda atau makhluk apapun yang dilahirkan, oh Arjuna, baik ia bergerak maupun tidak bergerak, ketahuilah itu datang dari gabungan antara ladang dan Yang Mengetahui ladang ini.
Setiap benda atau makhluk, atau apapun saja yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa di alam semesta ini tercipta karena gabungan atau kombinasi dari Kshetra (ladang) dan Kshetragna (Sang Pengenal Ladang), gabungan dari Purusha dan Prakriti, dari Sang Jiwa dan benda atau alam dan sifat-sifatnya.
27. Seseorang yang melihat Tuhan Yang Maha Agung dan Suci bersemayam secara sama di setiap benda dan makhluk, Yang Maha Tak Terbinasakan dalam setiap benda atau makhluk yang dapat binasa — ia benar-benar melihat.
Yang Maha Esa bersemayam dalam setiap bentuk ciptaannya secara adil sama rata, jadi lupakanlah pendangan atau rasa yang penuh diskriminasi atau yang merendahkan martabat orang lain atau sifat melecehkan makhluk lain. Diskriminasi akan kasta atau orang-orang yang dianggap berdosa dan buruk harus dijauhi, ingat Yang Maha Kuasa hadir dalam semuanya tanpa diskriminasi! Ia hadir di setiap sisi dan sudut alam semesta ini dalam berbagai ciptaan-ciptaanNya. Jangan sekali-kali memandang tinggi kasta kita, kedudukan atau pun martabat dan kekayaan kita, apalagi kemampuan kita berbuat sesuatu, karena semua itu sebenarnya tidak berarti sama-sekali di mataNya. Yang berarti hanyalah la dan kehadiranNya di mana saja, baik yang di kecil maupun yang di besar. Siapakah kita ini sebenarnya yang hanya bisa membeda-bedakan saja, yang hanya bisa melihat baik dan buruk seseorang tanpa mau tahu akan hakikat dari kebenaran kehidupan ini. Mengetahui kehadiran Yang Maha Esa di setiap ciptaanNya berarti menghilangkan rasa takut, benci, diskriminasi, iri-hati pada sesama kita, dan sebaliknya kemudian menimbulkan kasih-sayang kepada sesama kita baik itu berupa manusia, makhluk-makhluk di alam semesta ini, pepohonan, batu-batuan dan semua unsur-unsur alam di sekeliling kita.
Ia Yang Maha Kuasa adalah Yang Tak Terbinasakan tetapi Ia hadir dalam setiap ciptaan-ciptaanNya yang tak pernah abadi, yang selalu binasa dan lahir lagi. Ini mengingatkan kita kepada dialog antara St. Catherine dari Sienna dalam komuninya dengan Yesus Kristus. la bertanya kepada Tuhan Yesus, "Siapakah daku, Tuhan? Dan beritahu daku siapakah Engkau?" Dan Yesus menjawabnya, "PutriKu, engkau adalah yang tiada dan Aku adalah yang Ada." Yang Ada ini selalu hidup dalam yang tiada, yaitu kita semuanya ini, dan sadarlah akan sesuatu hal, mengapa Yang Ada ini mau dan bersedia tinggal dalam diri-diri kita ini, yang sering oleh kita sendiri dianggap sebagai tubuh-tubuh atau raga-raga yang penuh dengan dosa-dosa dan nafsu-nafsu iblis? Betulkah semua perkiraan kita ini? Ataukah pernah terpikir oleh kita semua, bahwa Yang Maha Esa menciptakan raga ini sebagai suatu tempat bersemayam yang sifatnya agung dan suci, kalau tidak mengapa pula Ia (Sang Atman) mau bersemayam di dalam diri setiap makhluk-makhlukNya?
Lihatlah sisi lain dari alam semesta dan ciptaan-ciptaanNya ini, bukankah semua ini adalah refleksi atau cermin dariNya semata, dari keindahanNya, dari kesucian dan keagunganNya. Dan kalau anda setuju akan konsep ini, maka bernyanyilah, memujalah, berbahagialah dalam DiriNya. la hadir dalam diri kita dan kita ada dalam DiriNya, seharusnyalah kita berorientasi kepadaNya dan jangan mempergunakan kebebasanNya secara salah dan kemudian terseret dan terjebak oleh Sang Maya. Satukan diri kita dengan alur Ilahi Yang Murni dan Suci, bergembiralah kepadaNya. Ingat kita ini adalah kuil-kuil suci tempat la bersemayam, dan seharusnya kita bertindak suci dan murni. Renungkanlah pemikiran ini. Om Tat Sat.
28. Melihat, secara benar, Tuhan Yang Sama hadir di mana pun juga, seseorang tak akan merusak Diri ini dengan dirinya, dan dengan berbuat demikian ia mencapai Tujuan Yang Suci dan Agung.
Seperti kita ketahui sekarang, maka di dalam setiap makhluk yang bernyawa hadir bentuk "diri" yang rendah dan kecil sifatnya, dan juga bentuk "Diri" Yang Agung dan Tinggi sifatNya, yaitu yang disebut Sang Atman, Yang Maha Esa itu Sendiri dalam bentuk yang bersifat sebagian dariNya juga. Menyadari hal ini, seseorang tak akan membiarkan jiwa-raganya membunuh atau mengotori dan menodai DiriNya Yang Agung dan Suci yang bersemayam di dalam jiwa-raga itu sendiri, dan kesadaran semacam ini akan menuntun kita ke arah Yang Maha Esa atau dengan kata lain ke Tujuan Yang Suci dan Agung.
29. Seseorang yang melihat bahwa semua perbuatan dilakukan oleh Prakriti (alam) dan bahwa Sang Atman itu tak bertindak - ia melihat secara benar.
Alam atau Prakritilah yang bertugas untuk bekerja, beraksi atau bertindak dan berbuat, tetapi Sang Atman tak pernah melakukan apapun juga. la hadir sebagai saksi, penuntun, pengamat, tetapi ditegaskan Sang Kreshna, Sang Atman tidak berbuat suatu tindakan apapun juga. Semua perbuatan kita terjadi akibat dari ikatan kita pada guna-guna yang berkaitan dengan Prakriti. Sang Jiwa mengikuti kita terus selama kita mengembara di dunia fana ini sebagai saksi, penuntun dan pengamat kita dan dengan kasihNya melepaskan kita dari ikatan Prakriti ini yang diakibatkan oleh ulah kita sendiri yang terlalu bebas untuk 'bermain' dengan Sang Maya.
30. Bila seseorang menyadari bahwa berbagai bentuk kehidupan ini berakar pada Yang Esa dan terpancar (tersebar) keluar dari Yang Maha Esa, maka ia mencapai Brahman.
Menyadari seluruh alam semesta ini berasal dariNya secara sejati, apapun bentuk atau manifestasinya, maka seseorang yang benar-benar sadar secara sejati dan menghayati kesadarannya itu dalam kehidupannya sehari-hari langsung juga akan segera menyadari akan hakikat Yang Maha Esa. Melihat atau menyadari Yang Maha Esa adalah mencapaiNya.
31. Sang Atman Yang Tak Terbinasakan, Yang Agung dan Suci ini, oh Arjuna, tak bermula dan tanpa guna (sifat-sifat Prakriti). Dan walaupun la bersemayam di dalam raga, tetapi la tak bertindak atau pun terpengaruh oleh tindakan (raga ini).
Sang Paratman, Yang bersemayam secara Agung dan Suci dalam diri kita ini, dikatakan oleh Sang Kreshna sebagai tak bermula, dan tanpa sifat-sifat Prakriti. Walaupun Ia selalu hadir, Ia tidak bertindak sedikit pun, dan walaupun Ia hadir di dalam raga kita Ia juga tak tercemar oleh tindakan-tindakan kita yang buruk dan negatif, begitupun Ia tak tersentuh oleh perbuatan-perbuatan kita yang baik dan positif. Ia tak terpengaruh sedikit pun oleh kita, sebaliknya makin kotor perbuatan kita maka makin jauhlah kita ini dariNya, dan makin positif tindakan kita, maka makin teranglah Ia hadir ke hadapan kita. Maka ibaratkanlah diri kita sebagai cermin yang bersih, agar refleksi atau bayanganNya tersingkap atau jatuh secara jelas di raga kita ini. Renungkan ini dengan seksama. Ia jauh kalau kita jauh, Ia dekat kalau kita dekat. Padahal sebenarnya Ia selalu dekat di dalam diri kita.
32. Bagaikan ether, walau hadir di mana pun juga, tak pernah ternoda, karena bentuknya yang lembut (tak terlihat), begitu pun Sang Atman, walau hadir di raga mana pun, (la) lepas dari segala noda-noda.
Bagaikan ether yang terdapat di seluruh alam semesta ini dan menjadi penunjang hidup kita yang amat vital, tetapi tak pernah terlihat oleh mata kita karena sifat-sifat alaminya yang demikian lembut, maka begitu juga Sang Atman Yang Mana Hadir di mana saja dan kapan saja dalam setiap ciptaan-ciptaanNya tak pernah nampak oleh mata duniawi kita karena kebodohan dan kekurangan-pengetahuan kita, maka singkapkanlah semua kebodohan kita ini agar dapat kita mengenalnya lebih terang lagi, dan masuk menyatu kedalamNya. Om Tat Sat.
33. Bagaikan satu mentari yang menyinari seluruh dunia ini, maka begitu juga Penguasa dari ladang ini menyinari seluruh ladang ini, oh Arjuna!
Perumpamaan satu mentari dengan Sang Atman Yang Juga Eka (satu) sifatnya adalah suatu perumpamaan yang menarik, karena Sang Surya walaupun hanya satu yang terlihat dari bumi ini (dunia ini), ternyata mampu menyinari seluruh bumi kita bahkan juga rembulan dan spasi-spasi diantara bumi dan bulan dan juga sekitarnya. Sang Surya dari kejauhan nampak kecil dan amat terang-benderang, tetapi sebenarnya ia amat jauh letaknya dari bumi kita ini. Begitupun Sang Atman, la dekat tapi jauh, la jauh tetapi dekat, bahkan sangat dekat dan menerangi kita semua. Dan seperti juga Sang Surya yang menerangi kita tetapi tak tercemar oleh perbuatan kita, maka Sang Atman pun tak pernah tercemar atau ternoda oleh perbuatan-perbuatan kita yang buruk atau terpengaruh oleh perbuatan-perbuatan yang baik.
Suatu saat, Sokrates, seorang filsuf terkenal dari Yunani di masa lalu, pernah ditanya oleh salah seorang muridnya tentang 'kebaikan,' yang selalu diajarkan Sokrates kepada murid-muridnya, dan Sokrates menunjuk kepada matahari sebagai suatu contoh dari 'kebaikan' yang selalu hadir dari masa ke masa, dari waktu ke waktu, tetapi tak pernah tercemar oleh bumi dan manusia. Mungkin pemikiran atau ajaran Sokrates ini pun baik untuk kita renungkan untuk lebih menghayati akan kebesaran dan kehadiran Sang Atman dalam diri kita. Sang Surya selalu bersinar tanpa bosan-bosannya demi alam yang harus ditunjangnya. Bukankah Yang Maha Esa itu Sendiri bersifat atau berkarakter demikian juga, selalu mengasihi tanpa bosan-bosannya dan tanpa henti-hentinya kepada kita semuanya, walaupun sering sekali kita tersesat dalam perjalanan hidup kita ini. Tetapi Ia Maha Penunjang dan Penuntun kita semuanya. Om Tat Sat.
34. Mereka yang melihat perbedaan antara ladang dan Sang Pengenal Ladang ini, dengan mata kebijaksanaan, dan yang sadar bagaimana makhluk-makhluk maupun benda-benda dapat lepas dari Prakriti - bebas dari bentuk alam - mereka benar-benar pergi ke Yang Maha Agung dan Suci.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya-Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka bab ketiga-belas ini disebut:
Kshetra Kshetragna Vibhaga Yoga
Atau
Ilmu Pengetahuan tentang Perbedaan antara Ladang dan Sang Pengenal Ladang